Petambak Udang Lamsel Manfaatkan Bahan Bekas Sebagai Kincir dan Blower

917

LAMPUNG — Lokasi yang mendukung sektor usaha pertambakan membuat wilayah Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan menjadi lokasi budidaya udang dan bandeng dengan sistem semi intensif dan sebagian tambak tradisional.

Uden (50) salah satu warga Dusun Umbul Besar menyebut sebagian wilayah tersebut menjadi sentra pertambakan udang yang dimiliki para investor dari Bandarlampung dan Jakarta dengan sistem pengelolaan diserahkan kepada pekerja warga setempat.

Tambak udang vaname dan windu yang tidak bermodal besar, masih bekerja secara tradisional dengan sistem sirkulasi air mempergunakan mesin pompa sederhana untuk memelihara ikan bandeng. Para petambak dengan modal besar kerap mempergunakan kincir air tambak (paddle wheel aerator) dengan penggerak listrik tenaga diesel.

“Selain didukung modal besar dengan areal tambak yang luas sekaligus peralatan yang memadai petambak besar tentunya memperoleh hasil yang besar namun bagi kami petambak tradisional kerap mempergunakan peralatan sederhana bahkan memanfaatkan barang bekas,” ujar Uden salah satu petambak udang vaname sistem tradisional di Dusun Umbul Besar Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi saat ditemui Cendana News, Jumat (7/12/2017).

Uden menyebut pada lima tahun sebelumnya penggunaan kincir air tambak mulai banyak dipergunakan meski harga per unit kincir air tambak dengan dua baling baling bisa seharga Rp2.500.000 hingga Rp4.850.000.

Peralatan penunjang seperti bagian kipas perunit dijual mulai harga Rp200.000 hingga Rp300.000 belum termasuk peralatan lain yang dioperasikan secara otomatis.

Peralatan lain yang dipergunakan disebutnya berupa blower yang digerakkan menggunakan dinamo untuk memaksimalkan kadar oksigen dalam tambak udang.

Uden mempunyai empat petak masing masing berukuran 50 meter persegi untuk budidaya udang vename. Dia tidak menggunakan peralatan kincir air, blower yang dibeli dari toko peralatan tambak melainkan semua peralatan tersebut dirakit dan dimodifikasi dengan peralatan bekas.

Khusus untuk alat kincir air dengan tenaga penggerak dinamo yang dibuat dari pabrikan dengan harga mencapai lebih dari Rp4 juta Uden justru memanfaatkan dari bekas mesin motor yang sudah tidak terpakai dan merakitnya dengan bambu dan kayu.

“Total biaya perlengkapan yang saya beli dari tukang rongsokan hanya berkisar satu hingga dua juta rupiah lebih murah meski fungsinya tak kalah dengan kincir air pabrikan,” beber Uden.

Dua alat yang diaplikasikan di tambak tradisional miliknya merupakan kincir air dan blower hasil kreasinya dari pipa pvc bekas, karet ban dalam, mesin motor jialing yang dikenal dengan motor china dan bagian mesin bisa dipergunakan sebagai penggerak kincir.

Sumber tenaga diesel sebesar 7 PK bahkan dibelinya dari sejumlah petambak yang ingin memperbarui peralatan dan dibelinya dengan harga murah.

Uden dibantu oleh Sunarno salah satu petambak lain kreasi alat alat berbahan bekas tersebut bahkan sudah digunakan selama empat tahun dan tambak vaname miliknya sudah kerap panen dengan hasil 4 hingga 5 ton.

Instalasi untuk budidaya tambak dengan sistem modern yang diiakuinya membutuhkan biaya sekitar Rp10 juta untuk satu petak tambak dengan peralatan mesin diesel, dua kincir air dan blower hasil pabrikan oleh Uden bahkan bisa ditekan hingga hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp6 juta.

Kincir air yang dibuat oleh Uden bahkan kerap dipesan oleh petambak lain sekaligus keahliannya dalam reparasi mesin diesel,kincir air membuat dirinya bisa memperoleh peralatan bekas dengan harga murah.

“Biaya operasional budidaya udang windu dan vaname memang sangat besar sehingga hanya pemodal besar yang mampu bertahan. Namun jika ada kreativitas menciptakan alat yang sama untuk sirkulasi oksigen dalam kolam maka produktivitas udang tradisional tak kalah dengan tambak intensif,” cetusnya.

Sunarno, selaku penjaga tambak milik pemodal besar yang juga kerap membantu merakit kincir air dan blower mengaku Uden kerap memanfaatkan peralatan yang kerap tak dimanfaatkan petambak lain dan masih bisa difungsikan.

Akibatnya selain petambak lain banyak memintanya untuk membuat peralatan kincir air dan blower dari barang bekas dirinya banyak diminta membuat instalasi tersebut di sejumlah pemilik tambak tradisional.

“Saya mengapresiasi kemampuan pak Uden karena bisa membuat tambak tradisional menjadi tambak modern dengan peralatan yang murah dari barang bekas,” katanya.

Sumardi, salah satu warga lain bahkan menyangka tambak yang dilengkapi dengan instalasi sirkulasi air dan oksigen tersebut membutuhkan biaya mahal seperti pada tambak lain di wilayah tersebut.

Peralatan blower yang dibuat dari pipa pvc dilubangi dan ditali karet dijalankan dengan mesin penggerak tanpa menggunakan tenaga listrik sehingga saat listrik PLN padam sirkulasi air tetap berjalan dengan normal.

Kreativitas petambak udang tradisional yang dimiliki oleh Uden diakui Sumardi sekaligus menjadi solusi bagi petambak tradisional di wilayah tersebut tetap bisa menjalankan usaha pertambakan sistem semi intensif tanpa harus mengeluarkan biaya besar dan produktivitas panen udang tetap berjalan.

Harga udang vaname di tingkat petani diakui oleh Sumardi di wilayah Bandar Agung terbilang cukup baik dengan size 50 jenis udang vaname saat ini per kilogram seharga Rp80.000.

Sementara size 30 jenis udang windu saat ini per kilogram bisa mencapai harga Rp120.000 dengan masa panen mencapai 100 hari dan bisa dipanen secara parsial untuk dijual ke sejumlah pedagang kuliner dan rumah makan lokal hingga dikirim ke Jakarta.

Sumardi melihat tambak udang vaname milik Uden yang dikelola secara tradisional menggunakan alat semi modern hasil kreasi dari bahan bekas/Foto: Henk Widi.
Baca Juga
Lihat juga...