Petambak Udang Lamsel Manfaatkan Bahan Bekas Sebagai Kincir dan Blower

Uden mempunyai empat petak masing masing berukuran 50 meter persegi untuk budidaya udang vename. Dia tidak menggunakan peralatan kincir air, blower yang dibeli dari toko peralatan tambak melainkan semua peralatan tersebut dirakit dan dimodifikasi dengan peralatan bekas.

Khusus untuk alat kincir air dengan tenaga penggerak dinamo yang dibuat dari pabrikan dengan harga mencapai lebih dari Rp4 juta Uden justru memanfaatkan dari bekas mesin motor yang sudah tidak terpakai dan merakitnya dengan bambu dan kayu.

“Total biaya perlengkapan yang saya beli dari tukang rongsokan hanya berkisar satu hingga dua juta rupiah lebih murah meski fungsinya tak kalah dengan kincir air pabrikan,” beber Uden.

Dua alat yang diaplikasikan di tambak tradisional miliknya merupakan kincir air dan blower hasil kreasinya dari pipa pvc bekas, karet ban dalam, mesin motor jialing yang dikenal dengan motor china dan bagian mesin bisa dipergunakan sebagai penggerak kincir.

Sumber tenaga diesel sebesar 7 PK bahkan dibelinya dari sejumlah petambak yang ingin memperbarui peralatan dan dibelinya dengan harga murah.

Uden dibantu oleh Sunarno salah satu petambak lain kreasi alat alat berbahan bekas tersebut bahkan sudah digunakan selama empat tahun dan tambak vaname miliknya sudah kerap panen dengan hasil 4 hingga 5 ton.

Instalasi untuk budidaya tambak dengan sistem modern yang diiakuinya membutuhkan biaya sekitar Rp10 juta untuk satu petak tambak dengan peralatan mesin diesel, dua kincir air dan blower hasil pabrikan oleh Uden bahkan bisa ditekan hingga hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp6 juta.

Kincir air yang dibuat oleh Uden bahkan kerap dipesan oleh petambak lain sekaligus keahliannya dalam reparasi mesin diesel,kincir air membuat dirinya bisa memperoleh peralatan bekas dengan harga murah.

Lihat juga...