Petani Bakauheni Beralih Tanam Melon

LAMPUNG — Puluhan petani di wilayah Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, sejak dua tahun terakhir beralih menanam buah melon, lantaran ketika sebelumnya menanam padi mengalami kesulitan air.

Mukti (40), petani dusun setempat, mengungkapkan, kurang lebih sepuluh hektare lahan di wilayah tersebut ditanami buah melon setelah beberapa petani mengalami kesuksesan dalam usaha tersebut.

Mukti, petani melon melakukan proses pengurangan sulur meningkatkan produksi buah melon. [Foto: Henk Widi]
Dengan luas lahan sekitar 3.000 meter persegi, Mukti menanam sebanyak 4.000 batang melon sejak dua tahun terakhir, dengan masa tanam setahun dua kali dan hasilnya sebagian dikirim ke sejumlah pasar tradisional di Serang dan Jakarta, dengan kemudahan distribusi yang mudah menggunakan kapal melalui pelabuhan Bakauheni ke Merak.

Pada awalnya, kata Mukti, ia menanam padi di musim rendeng (pergantian musim panas ke musim hujan), namun mengalami kendala kekurangan pasokan air selama musim gadu dan serangan hama burung.

“Saya memang ingin terus menanam padi di sini, namun karena semakin banyak lahan sawah berubah fungsi menjadi perumahan dan tambak areal persawahan padi menyempit, sehingga ketika menanam padi serangan hama tikus dan burung merajalela. Lalu, kami putuskan menanam melon dan sayuran gambas,” terang Mukti, Senin (11/12/2017).

Mukti menyebut, berbekal pengalaman pernah bekerja pada petani melon, ilmu yang diperoleh diterapkannya dengan melakukan penanaman awal sebanyak seribu batang terus meningkat lagi seiring dengan permintaan buah melon saat menjelang bulan puasa dan pergantian tahun.

Pada awal Desember, Mukti menanam sekitar 4.000 batang melon daging putih dengan modal sekitar Rp15 juta untuk biaya pembelian bibit satu pes berisi 550 benih seharga Rp150.000, mulsa sebanyak 6 gulung serta biaya operasional lain berupa pupuk dan obat pembasmi hama.

Pada masa tanam sebelumnya, Mukti mengaku dalam sekali tanam berhasil memperoleh hasil panen sekitar 4.000 kilogram dengan harga per kilogram mencapai Rp6.000 di tingkat petani, sehingga dalam sekali penanaman dirinya berhasil memperoleh omzet sekitar Rp24 juta, dikurangi biaya penanaman serta operasional diperoleh keuntungan kotor sekitar Rp9 juta dalam sekali panen.

Meski demikian, ia memastikan dalam setiap masa tanam dirinya kerap tidak selalu untung, karena dalam beberapa kali penanaman kendala hama dampak dari faktor cuaca kerap mengakibatkan produksi menurun.

“Dibandingkan menanam padi yang sebelumnya banyak dilakukan petani di wilayah ini, budi daya buah melon lebih menjanjikan dengan masa panen lebih singkat”, terang Mukti.

Irul (30), salah satu petani melon lainnya menyebut budi daya melon tetap mengalami pasang surut, terlebih akibat faktor perubahan iklim. Petani melon kerap mengalami serangan hama kresek daun dan ulat daun yang kerap mengakibatkan penurunan produksi, akibat daun berlubang,sementara hama lain penyebab kegagalan panen total dari jenis hama bule membuat buah melon bahkan tidak bisa dipanen.

Upaya pemberian pestisida diakuinya kerap dilakukan dengan tujuan meminimalisir serangan hama, termasuk lalat buah saat buah tengah memasuki masa panen.

“Serangan hama tersebut kita lakukan dengan menggunakan pestisida yang ampuh, untuk meningkatkan produksi. Meski biaya pembelian obat pembasmi hama terbilang mahal, namun demi mencegah kerugian lebih besar terpaksa kita beli”, tegas Irul.

Kesuksesan Irul dan Mukti sebagai petani buah melon, membuat sejumlah petani lain mengikuti jejaknya, sehingga dari semula luasan lahan petani melon sebanyak dua hektare, kini bertambah menjadi belasan hektare, dengan jumlah petani penanam melon lebih dari 10 orang. Rata-rata menanam lebih dari 3.000 batang.

Kebutuhan akan pasokan air akibat banyaknya petani melon membuat setiap petani mulai membuat sumur bor sebagian memompa air dari Sungai Way Pegantungan.

Pada awal 2018, sejumlah pemilik lahan lain bahkan mulai mempersiapkan lahan dengan potensi budi daya buah melon yang menjanjikan dan beberapa lahan nonproduktif mulai dipergunakan untuk menanam melon, sehingga menjadikan kawasan tersebut semakin dikenal sebagai sentra budi daya melon.

Irul juga menyebut, sistem pertanian mandiri tanpa adanya kemitraan dengan perusahaan benih serta jalur pendistribusian belum bekerja sama dengan supermarket atau pengepul besar, membuat kendala harga anjlok saat panen raya membuat petani kerap merugi.

“Kami memang membeli benih melon secara mandiri dan risiko kerugian tetap kami tanggung sendiri. Berbeda dengan sistem kemitraan, meski hingga kini belum ada perusahaan yang bermitra dengan kami melalui penyediaan bibit dan penanganan pascapanen”, cetus Irul.

Pada musim panen bulan November, dan diprediksi akan dipanen pada bulan Januari mendatang, Irul berharap permintaan akan buah segar melon masih stabil dengan harga kisaran pada angka Rp6.000 hingga Rp7.000.

Pedagang besar kerap langsung datang ke lokasi lahan penanaman melon miliknya dengan membeli melon rata-rata sebanyak 1 hingga 2 ton, dan sisanya dikirim sendiri ke wilayah Jakarta dan Tangerang.

Lihat juga...