Petani Flotim Masih Enggan Tanam Padi Serentak

LARANTUKA – Tidak diterapkannya sistem tanam serentak padi di Desa Konga, Kecamatan Ilebura, Kabupaten Flores Timur, menyebabkan serangan hama semakin masif dan mengakibatkan hasil produksi kian menurun drastis.

“Sudah tiga tahun terakhir terjadi serangan hama seperti penggerek batang dan buah serta hama wereng dan terus meningkat. Ini yang menyebabkan hasil produksi terus menurun, sehingga saya sudah berhenti tanam padi sejak 2016 lalu,” sebut Fransiskus Xaverius de Ornay, Senin (11/12/2017).

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sikka, Ir. Antonius Wukak Sogen. -Foto: Ebed de Rosary

Petani Desa Konga ini kepada Cendana News juga mengatakan, banyak petani yang tidak mau diajak untuk menanam padi secara serentak, sehingga percuma saja kalau pola tanam masih seperti ini. Serangan hama semakin meningkat, sebab bahan makanan selalu tersedia.

“Dengan pola tanam seperti ini, maka setelah menyerang petak sawah yang satunya, hama akan berpindah menyerang petak sawah lainnya. Kalau tanam serentak, maka hama akan menyebar di semua petak sawah. Tapi, kalau hama tersebut hanya menyerang satu petak sawah saja, maka pasti gagal panen,” jelasnya.

Percuma saja, kata Avi, sapaannya, kalau pola tanam masih belum serentak. Sebab, hama penggerek batang dengan jumlah banyak pasti akan menyerang hamparan sawah yang padinya sedang berbulir hingga rusak dan pindah ke petak sawah lainnya.

“Saya tidak mau tanam padi dulu dan mengganti dengan jagung dahulu. Sebab, 2016 lalu saya rugi total. Terpaksa sapi saya lepas ke lahan sawah saya seluas 6 hektare untuk memakan padi daripada rusak diserang hama,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Flores Timur, Ir. Antonius Wukak Sogen, menyebutkan, serangan hama sudah sering terjadi setiap tahun. Serangan hama tersebut semakin meluas akibat pola tanam petani Konga yang masih belum serempak.

“Serangan terus saja terjadi dan terus meluas, sebab setelah merusak satu hamparan sawah satunya, hama akan berpindah ke lahan lainnya. Petugas organisme pengganggu tanaman sudah saya suruh dan telah melakukan penyemprotan. Namun tidak bisa diatasi, sebab hama berpindah ke lahan sawah yang masih berproduksi,” sebutnya.

Anton, sapaannya, pun mengaku sudah turun ke desa memberikan imbauan kepada petani, agar melakukan pola tanam serentak. Namun, anjuran tersebut belum ditatai para petani.  Meski rugi, mereka tetap menanam padi karena katanya untuk dikonsumsi sendiri.

“Tapi, kalau terus saja menurun, hasil produksinya buat apa tanam padi? Lebih baik diganti dengan tanaman lain seperti jagung dan sayuran dahulu untuk memutus mata rantai penyebarannya terlebih dahulu,” tuturnya.

Pada 2016, jelas Anton, dalam satu hektare lahan sawah petani bisa memanen 7,5 ton per hektare, sementara pada musim tanam 2017 menurun menjadi 4,5 ton per hektare. Kalau dihitung dengan biaya pupuk dan pestisida, maka otomatis petani merugi.

Lihat juga...