Petani Jagung di Lamsel Mulai Gunakan Corn Seeder

Editor: Koko Triarko

57

LAMPUNG — Sebagian warga Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, mulai menanam jagung menggunakan alat penanam jagung (corn seeder) berkapasitas 10 kilogram, sehingga proses penanaman cukup dilakukan oleh dua orang.

Angga (30), pemilik alat tanam jagung modern tersebut mengaku membeli alat yang kerap disebut corn seeder tersebut seharga Rp1.600.000, dilengkapi sensor biji. Sementara alat tanam jagung sejenis yang lebih mahal serta dilengkapi sensor biji sedang digunakan oleh saudaranya yang dibeli seharga Rp2.500.000 per unit.

Suko memeriksa tanaman jagung usia 25 hari hasil penanaman jagung menggunakan alat penanam jagung modern. [Foto: Henk Widi]
Ia menyebut, alat tersebut menggantikan fungsi manual penggunaan tajuk atau tugal yang kerap dipergunakan petani jagung. “Alat ini sebetulnya mempermudah saja, terutama pada lahan berpasir yang ada di wilayah dekat pesisir pantai yang datar. Penanaman jagung dilakukan sembari berjalan maju ke depan, biji sudah tertanam di dalam tanah karena bentuknya seperti roda”, beber Angga, saat ditemui Cendana News di kebun miliknya, Kamis (7/12/2017).

Selain lebih mudah dibawa dengan ukuran yang ringan, mudah dibawa dan bisa diperbaiki jika terjadi kerusakan, sehingga proses penanaman jagung bisa lebih cepat.

Kelebihan penggunaan alat tanam jagung tersebut, kata Angga, membuat petani tidak perlu membuat lubang terlebih dahulu dan memasukkan benih ke lubang seperti cara konvensional menggunakan tajuk kayu. Selain bisa dipakai untuk menanam jagung, juga bisa dipakai untuk menanam benih kacang tanah, kedelai dan kacang hijau.

Dengan alat itu, lanjut Angga, jarak tanam bisa diatur sedemikian rupa dengan jarak tanam disetel dari mulai mulut tanam 7 hingga mulut tanam semakin besar, maka jarak tanam bisa disetel dari jarak 22 centimeter hingga jarak lebih kecil sekitar 15 centimeter.

Alat tersebut juga membantu efesiensi waktu dalam proses penanaman jagung menggunakan tenaga buruh tanam selama hampir 10 jam, bisa dilakukan hanya dengan waktu sekitar 5 jam dengan tenaga dua hingga tiga orang.

Penggunaan alat tanam jagung modern juga bisa menghemat pengeluaran biaya operasional penanaman tenaga upahan dengan upah per orang Rp60.000 yang dihitung tenaga harian sebanyak 5 orang ditambah biaya keperluan makan mencapai Rp500.000 sekali tanam untuk luasan sekitar satu hektare.

Angga yang dibantu satu orang tenaga kerja bertugas membuat pola jarak untuk lebar bedengan seperti saat dilakukan penanaman menggunakan guludan.

“Idealnya memang proses pembuatan pola dilakukan dengan benang, namun karena lahan yang akan ditanami jagung merupakan lahan baru dari proses pembukaan lahan bekas tanaman kelapa, maka digunakan tonggak kayu”, kata Angga.

Petani lain, Suko, warga Desa Legundi yang sudah mempergunakan alat tanam modern tersebut mengaku dengan memakai alat dirinya bisa lebih menghemat, meski untuk modal awal pembelian alat cukup mahal. Namun, bisa dipergunakan untuk mempercepat proses penanaman sekaligus menghemat biaya dalam pemakaian upah tenaga kerja.

“Tanaman jagung saya sudah usia dua puluh lima hari, memasuki masa pemupukan kedua ditanam menggunakan alat penanam jagung modern lebih cepat dan alat ini memang baru digunakan oleh sebagian petani jagung, sisanya masih menggunakan cara manual”, terang Suko.

Penggunaan alat tanam tersebut akan diiringi dengan alat pemetik jagung yang akan mempergunakan mesin pemetik dan pemipil dalam kondisi jagung kering panen.

Pergeseran penggunaan teknologi dalam penanaman jagung hingga pemanenan tersebut, menurutnya, dilakukan karena semakin banyaknya permintaan jagung dan dekatnya perusahaan penampung jagung di wilayah tersebut, yakni PT. Indopel.

Pembelian alat bantu tanam dan juga panen diakuinya cukup terbantu dengan harga jagung bisa mencapai Rp3.000 per kilogram dan hasil panen 6 hingga 7 ton per hektare, sehingga modal alat bisa terbayar.

Suko mengatakan, penggunaan alat tersebut bukan untuk menggeser tenaga kerja manusia, melainkan meningkatkan produktivitas hasil jagung dengan jenis bibit yang ditanam berupa jenis jagung NK 99 dan DK serta pioneer.

Harga jagung yang cukup baik pada musim panen sebelumnya membuat petani jagung memiliki modal untuk meningkatkan peralatan dari mulai membeli traktor pengolah tanah, mesin penanam hingga pemetik jagung.

Komentar