Petani Kakao Lampung Peroleh 28.000 Bibit Bersertifikat

LAMPUNG — Serangan penyakit pada tanaman kakao milik Puluhan petani Dusun Persatuan Keluarga Sulawesi (PKS), Desa Penengahan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan akhirnya mendapatkan perhatian.

Serangan penyakit itu terjadi semenjak 2015 hingga akhir 2017. Pihak Pemerintah Provinsi Lampung melalui Unit Pelaksana Tekhnis Daerah Balai Pengawasan dan Pengujian Mutu Benih (UPTD BP2MB) Dinas Perkebunan memberikan bantuan benih.

Menurut Sukirman (26), selaku salah satu anggota kelompok tani penanam kakao di Dusun Simpur Desa Penengahan banntuan bibit kakao yang diberikan ke petani untuk meremajakan tanaman kakao milik petani di wilayah tersebut.

Akibat penyakit tompel buah dan kanker kakao berimbas menurunnya produktivitas buah kakao petani. Sebagian petani kakao di wilayah tersebut terpaksa melakukan penebangan beberapa pohon kakao yang terserang penyakit.

Langkah ini dilakukan untuk menghindari penularan ke batang kakao sehat sekaligus menghindari kerugian lebih besar.

“Sebagian besar batang kakao milik petani mengalami kerusakan akibat serangan hama tompel buah dan kanker kakao. Selain itu ternyata ada beberapa tanaman sudah tidak produktif. Petani memilih memusnahkan sebagian batang kakao untuk diregenerasi dengan bibit kakao baru,” terang Sukirman kepada Cendana News, Jumat (22/12/2017)

Bibit kakao bersertifikat tersebut diakui Sukirman memiliki spesifikasi di antaranya dengan nomor induk: B.KO.15.11.12/42/V.22/G.3/2017, yang ditangkarkan di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Bangunrejo Kabupaten Lampung Tengah.

Kakao ini merupakan varietas kakao Lindak Hibrida dengan ketinggian tanaman 43-48 sentimeter, berusia 4 bulan dan dipastikan bebas dari organisme pengganggu tanaman.

Varietas kakao ini ditangkarkan oleh Ujang Mahmud dengan benih berasal dari PT Hasfarm Niaga Nusantara Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sukirman berharap dengan regenerasi tanaman kakao yang sebelumnya terkena penyakit tersebut petani bisa kembali memperoleh hasil maksimal dari budidaya kakao.

Budidaya kakao banyak memberi penghasilan bagi warga yang tinggal di wilayah Dusun Simpur Desa Penengahan yang mayoritas menanam kakao sebagai komoditas pertanian.

Alokasi bantuan benih kakao kepada petani di wilayah Desa Penengahan disebutnya menyesuaikan jumlah petani dengan rata rata memiliki lahan mulai dari seperempat,setengah hingga satu hektare.

Sebanyak 28.000 bibit kakao bersertifikat dibagikan kepada puluhan petani kakao dengan alokasi luas lahan satu hektare menerima bibit kakao sebanyak 1.000 bibit kakao atau alokasi untuk lahan seluas 28 hektare.

Sebagian petani sudah menyiapkan lubang penanaman di lahan baru yang belum pernah ditanami kakao dan sebagian menanam di lahan yang sudah dibersihkan dari tanaman kakao lama yang terserang penyakit.

Petani lain, Joni selaku ,salah satu petani kakao mengaku di dusun VI atau dikenal dengan PKS, yang dihuni lebih dari puluhan kepala keluarga tersebut rata rata berkebun coklat.

Penurunan produksi akibat serangan hama penyakit di antaranya karena hama penyakit tompel buah dan kanker coklat terjadi hampir merata. Imbasnya buah coklat membusuk dan berimbas buah tidak berisi bahkan di dalamnya busuk sebelum di panen.

Pada musim panen sebelumnya dalam sekali panen 300 kilogram atau satu kali puncak masa panen sejak awal bulan Mei hingga bulan Juni petani perhektar tiga kali pemetikan mencapai 1 ton. Penurunan produksi sekitar 70 persen disebut Joni membuat petani kakao merugi sehingga mulai melakukan penebangan ke sejumlah pohon kakao yang tidak produktif.

Hama tompel menyerang saat buah usia muda bahkan setelah empat bulan semenjak masa pembungaan, dari Desember dan mulai panen padaMei. Sistem pemanenan dilakukan dengan proses pemilahan buah yang sehat dengan buah yang terserang hama tompel.

Sementara pada serangan hama kanker kakao dampaknya buah kakao mengalami pengempesan serta saling berdempetan sehingga saat proses membuka kulitnya gkondisi luar kulit bagus namun dalamnya membusuk.

Kondisi serangan dua penyakit tompel dan kanker kakao tersebut berimbas pada kualitas buah termasuk kuantitas saat proses penimbangan dengan bobot,kadar air serta kondisi fisik buah kakao.

Harga saat ini pada buah kakao dengan kualitas terkena serangan hama hanya berkisar Rp20 ribu hingga Rp24 ribu dan belum mencapai harga Rp30.000 akibat kualitas kakao yang rendah.

Bantuan bibit kakao bersertifikat yang diberikan kepada petani disebutnya akan membantu petani melakukan regenerasi tanaman kakao yang tidak menghasilkan buah berkualitas.

Pembagian bibit kakao bersertifikat di Desa Penengahan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan -Foto: Henk Widi.
Lihat juga...