Petani Klaten Keluhkan Peredaran Pupuk Bersubsidi

SOLO — Musim hujan yang diringi dengan musim tanam bagi petani tidak seluruhnya berjalan dengan mulus. Petani di Klaten, Solo, Jawa Tengah, misalnya. Mereka mengeluhkan sulitnya menemukan pupuk bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi petani.

Giyamto, salah satu petani di Desa Miri, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten mengatakan, sudah hampir satu bulan ini petani kesulitan mendapatkan pupuk dengan harga subsidi pemerintah. Sejumlah toko pertanian resmi maupun toko dari gabungan kelompok pertanian (Gapoktan) sangat jarang ditemukan pupuk.

“Padahal di awal musim tanam padi seperti ini kebutuhan pupuk sangat penting. Kalau tidak dipupuk, tidak bisa panen. Kalaupun bisa panen, cuma sedikit hasilnya,” kata Giyamto di sela pelaksanaan pasar murah pupuk non subsidi di Kantor Desa Kemiri, Kamis (14/12/2017).

Penyebab sulitnya pupuk bersubsidi dijumpai di pasaran, dirinya tidak mengetahui secara persis. Namun, pihak toko pertanian menilai tidak adanya pupuk bersubsidi karena keterlambatan pengiriman. Kondisi itu hampir dialami oleh petani di sejumlah desa di Kecamatan Tulung.

“Pupuk bersubsidi yang sulit ditemukan ini jenis urea, phonska dan ZA. Bagi petani yang bermodal cekak, tidak kuat membeli pupuk dengan harga non subsidi,” jelas dia.

Alasan petani mengunakan pupuk bersubsidi tak lain untuk menekan biaya produksi tanaman padi, karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan harga pupuk non subsidi.

Harga pupuk bersubsidi berkisar antara Rp 90 ribu sampai Rp115 ribu per 50 kiloram. Sedangkan harga pupuk nonsubsidi sekitar Rp230 ribu rupiah per 50 kilogram atau per sak.

“Kami jelas memilih yang subsidi karena bisa menekan biaya banyak. Kami harapkan pemerintah turun tangan mengatasi persoalan kelangkaan pupuk ini,” sebut Maryadi, petani yang lain.

Sementara, anggota Komisi VI DPR RI, Endang Srikarti Handayani menyatakan, adanya pasar murah pupuk yang digelar di Desa Kemiri tak lain untuk memberikan kemudahan bagi petani.

Pada saat petani kesulitan mencari pupuk, pihaknya berusaha memberikan solusi dengan menggelar pasar murah pupuk. Disebutkan, dalam satu desa pihaknya menyediakan 200 sak pupuk non subsidi namun dengan harga yang jauh lebih murah.

“Satu sak pupuk ini kita jual dengan harga Rp40 ribu saja. Sementara harga pasaran pupuk non subsidi sampai Rp250 ribu lebih,” jelasnya.

Sebagai wakil rakyat, Endang mengaku prihati dengan nasib petani. Pada saat petani sangat membutuhkan pupuk karena musim tanam, peerdaran pupuk bersubsidi justru menghilang. Konsidi itu semakin menyengsarakan nasib petani.

“Mereka itu sudah sulit malah ditambah sulit. Kelangkaan pupuk ini saya minta untuk pemerintah maupun pihak terkait mengecek kebenarannya. Apa sebenarnya kendalanya,” tekan Endang.

Adanya pasar pupuk murah dadakan ini diharapkan mampu meringankan sebagian kecil beban petani. Poltisi Partai Golkar berharap agar persoalan pupuk secepatnya diselesaikan.

“Pupuk bersubsidi ini hak petani. Berikan lah kepada mereka. Karena ini juga menyangkut nawa citanya Presiden untuk menciptakan swasembada pangan,” pungkasnya.

Anggota Komisi VI DPR RI, Endang Srikarti Handayani yang menggelar pasar pupuk murah-Foto: Harun Alrosid.
Lihat juga...