Petani Sikka: Sekolah Lapang Kakao Kurang Efektif

“Petani banyak menggunakan fungisida untuk memberantasnya. Namun, itu pun harus rutin minimal 8 hari sekali biar tuntas. Peremajaan memang bagus, tapi harus memperhatikan juga dengan pohon pelindungnya agar cahaya matahari bisa mengenai tanaman,” terangnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Ir. Hendrikus Blasius Sali, menyebutkan, pihaknya selalu melaksanakan sekolah lapang kakao bagi para petani di Sikka, namun ilmu yang didapat tidak dipraktekan. Ini yang membuat penyakit busuk buah tetap menyerang petani.

Hengky, sapannya, mengatakan, petani kakao di kabupaten Sikka di wilayah barat seperti kecamatan Nita bagus, karena para petani berpikir menanam kakao untuk mendapatkan uang. Ini yang membuat mereka melakukan P3S secara teratur.

“Petani di wilayah barat memang sudah lebih bagus, karena mereka berpikir menanam kakao untuk mendapatkan uang, sehingga melakukan perawatan kakao dengan baik. Kami sering melaksanakan sekolah lapang, namun semua itu kembali lagi kepada petaninya apakah mau menerapkan ilmu yang didapat,” terangnya.

Yang terpenting, tegas Hengky, produktivitas kakao dalam 3 tahun terakhir meningkat, meski penyakit busuk buah masih menyerang. Selain itu, produktivitas kelapa juga meningkat, hanya mente saja yang kurang dan menurun jauh, karena intervensi dinas pertanian terbesar pada kelapa dan kakao.

Lihat juga...