Petani Sumsel Terapkan Tumpang Sari Selama Peremajaan Karet

PALEMBANG — Petani karet akan menerapkan sistem pertanian tumpang sari di lahannya selama proses peremajaan berlangsung kurang lebih tiga tahun.

Kepala Dinas Perkebunan Fahrurrozi di Palembang, Kamis, mengatakan, dengan begitu maka petani tetap memperoleh manfaat dari lahannya sehingga masih dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Saat bibit karet ditanam maka di sela-selanya bisa ditanami sayuran, buah nanas, dan lainnya. Sehingga lahannya masih bisa menghasilkan,” kata dia.

Menurutnya, cara ini setidaknya dapat dilakukan selama tiga tahun karena ketika tanaman memasuki usia empat tahun maka tidak bisa lagi mengingat batang karet sudah tinggi.

“Kendala yang bakal dihadapi petani jika melakukan peremajaan lahan sudah dipikirkan pemerintah dan dicarikan solusinya. Tentunya, petani harus tetap berpenghasilan selama program berjalan,” kata dia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa program peremajaan lahan juga menyasar perkebunan karet setelah tahun ini dilakukan pada perkebunan sawit.

Sejauh ini pemerintah sudah menggandeng asosiasi untuk melancarkan program tersebut tahun depan.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Alex K Eddy mengingatkan pemerintah untuk menyiapkan langkah antisipasi jika rencana peremajaan karet direalisasikan pada 2018.

“Pada prinsipnya Gapkindo Sumsel sangat mendukung rencana ini tapi pemerintah juga harus mengetahui bahwa selama lahan petani diremajakan, mereka harus bagaimana ?,” kata Alex.

Ia mengatakan dalam peremajaan itu dibutuhkan setidaknya waktu empat hingga enam tahun, sementara seperti pada umumnya petani hanya memiliki lahan tersebut.

Lihat juga...