Pidato Donald Trump Merusak Perdamaian Dunia

Editor: Koko Triarko

139

JAKARTA – Tokoh NU dan mantan pengawal Gus Dur, Muzaki Kholis, mengatakan, jika menyimak pidato Donald Trump, secara lengkap, nampak ada cita-cita ideal terciptanya perdamaian. Presiden Amerika Serikat itu menyebut perdamaian tiga agama besar, Yahudi, Nasrani dan Islam di Israel.

“Tapi, yang sesungguhnya terjadi di Palestina dan Israel bukanlah perang antar agama untuk memperebutkan Kota Yerussalem (Darussalam). Tetapi, perebutan tanah/wilayah teritorial yang sudah tumpang tindih dengan sejarah agama-agama itu”, kata Muzaki, dalam keterangannya, Kamis (7/12/2017).

Muzaki mengemukakan, Muslimin dan Nasrani di Israel maupun Palestina tidak pernah menggagas berdirinya negara Kristen atau negara Islam, meski keduanya di masa lalu pernah berkuasa di wilayah itu dan berdaulat sebagai sebuah negara.

Kristen berkuasa di zaman Romawi. Islam berkuasa dari zaman Umar bin Khatab hingga berakhirnya ke-Khalifahan Turki Usmani. Umat Islam dan umat Nasrani di sana hari ini semua berpikir negara damai Darussalam.

Dalam pidato Trump itu pula, Amerika Serikat memberikan pengakuan resmi, bahwa Yerussalem adalah Ibu Kota Israel. Pidato ini disampaikan di Gedung Putih, Washington DC, pada Rabu (6/12) siang waktu AS, atau Kamis (7/12) dini hari waktu Indonesia.

Menyikapi pidato tersebut, Muzaki menyampaikan sikap PBNU, bahwa pengingkaran terhadap kedaulatan Palestina adalah pelanggaran terhadap HAM dan keputusan PBB.

PBNU memandang, pemindahan Ibu Kota Israel dari Tel Aviv ke Yerussalem, berpotensi meluasnya pelanggaran terhadap Prinsip Hukum Humaniter, sebagaimana diatur dalam Protokol Tambahan I tahun 1977 pasal 53, yang menentukan perlindungan bagi objek-objek budaya dan tempat pemujaan.

Juga Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB atas Yerussalem nomor 252 tanggal 21 Mei 1968 hingga Resolusi DK PBB nomor 2334 tanggal 23 Desember 2016, yang menegaskan, bahwa DK tidak akan mengakui perubahan apa pun atas garis batas yang ditetapkan sebelum perang 1967.

Demkian halnya Resolusi Majelis Umum PBB nomor 2253 tanggal 4 Juli 1967, hingga Resolusi nomor 71 tanggal 23 Desember 2016 yang pada pokoknya menegaskan perlindungan Yerussalem terhadap okupasi Israel melalui Resolusi nomor 150 tanggal 27 November 1996.

UNESCO menyebut ‘Kota Tua Yerussalem’ sebagai warisan dunia yang terancam punah, dan pembangunan terowongan dekat Maspa AI Aqsa oleh Israel sebagai tindakan yang menyerang sentimen keagamaan di dunia.

Karenanya, demikian Muzaki, PBNU menyatakan lima sikap terhadap pidato Presiden AS, Donald Trump, tersebut yang ditanda tangani oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., dan Sekretaris Jenderal, Dr. Ir. H. Helmy Faishal Zaini, sebagai berikut;

Pertama, sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan, bahwa Yerussalem merupakan Ibu Kota Israel, merupakan suatu tindakan yang akan mengacaukan dan merusak perdamaian dunia. Sikap tersebut akan membuat situasi dunia menjadi semakin panas dan mengarah pada konflik yang tak berkesudahan.

Kedua, mengecam keras tindakan pengakuan sepihak tersebut. Yerussalem bukanlah Ibu Kota Israel, melainkan Yerussalem adalah Ibu Kota Palestina yang telah diakui kedaulatannya. Dalam konteks ini, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, mengeluarkan beberapa keputusan.

Keputusan Muktamar ke-33 yang pertama adalah PBNU mendukung kemerdekaan atas Palestina. Dukungan bagi kemerdekaan rakyat dan negara Palestina tidak bisa ditangguhkan. Karena itu, PBNU mendesak agar dukungan bagi kemerdekaan rakyat dan negara Palestina tidak bisa ditangguhkan. Karena itu, PBNU mendesak PBB segera memberikan dan mengesahkan keanggotaan Negara Palestina menjadi anggota resmi PBB dan memberikan hak yang setara sebagai rakyat dan negara yang merdeka.

Keputusan Muktamar ke-33 yang kedua adalah NU mendesak PBB untuk memberikan sanksi, baik politik mmpun ekonomi kepada Israel dan negara mana pun yang tidak bersedia mengakhiri pendudukan terhadap tanah Palestina. Ketiga, menyerukan agar negara-negara di Timur Tengah untuk bersatu mendukung kemerdekaan Palestina. Keempat, mendesak, agar OKI (Organisasi Kerja Sama  Islam) untuk secara intensif mengorganisir aggotanya untuk mendukung kemerdekaan Palastina.

Ketiga, mendorong pemerintah Indonesia untuk ikut serta dan proaktif dalam membantu problem yang terjadi di Palestina. Pemerintah Indonesia memiliki peran yang sangat strategis untuk menjadi penengah yang bisa memediasi dinamika politik yang sedang terjadi.

Keempat, umat muslim dunia menyampaikan keprihatinannya dan mengajak bersama-sama berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT, semoga rakyat di Palestina diberikan kekuatan dan ketabahan. Semoga terdpta perdamaian di Palestina.

Kelima, menyerukan secara khusus kepada warga NU untuk membaca doa qunul nazilah, memohon pertolongan dan perlindungan pada Allah SWT, agar Palestina khususnya dan juga dunia dapat tercipta situasi yang damai.

Komentar