Pilot-nya Dilarang Terbang UEA, Tunisia Meradang

TUNIS – Tunisia menuntut Uni Emirat Arab (EUA) meminta maaf setelah melakukan pelarangan terbang kepada wanita pilot pesawat tempur negara tersebut. Pilot wanita tersebut dalam perjalanan pulang dari Irak dan Suriah untuk ikut berperang melawan IS.

Pelarangan terbang yang terjadi pada Minggu (24/12/2017) disebut pejabat Tunisia tidak dibarengi dengan pernyataan resmi dari UEA. Akibatnya pelarangan tersebut dianggap sebagai upaya teror terhadap kepulangan pasukan dari Irak dan Suriah. Sementara pada dasarnya Tunisia dan UEA saat ini sedang bekerjasama untuk memerangi aksi terorisme. “Terdapat komplotan teroris di beberapa negara,” tandas Penasihat Kepresidenan Tunisia Saida Garrach, Selasa (26/12/2017).

Garrach menduga, pelarangan terbang pilot wanita pemegang paspor Tunisia tersebut dipengaruhi oleh dugaan kemungkinan tindakan teror yang dilakukan oleh wanita. Upaya yang dilakukan tersebut disebutnya sebagai tindakan wajar ketika dilakukan kepada para pelaku teror.

Namun Garrach menyebut, tindakan tersebut menjadi tidak bisa diterima ketika diberlakukan kepada seorang pilot wanita pemegang paspor Tunisia.

“Yang menjadi kekhawatiran Uni Emirat Arab adalah kemungkinan tindakan teroris yang dilakukan oleh wanita Tunisia atau oleh pemegang paspor Tunisia. Kami memerangi terorisme bersama Uni Emirat Arab dan kami berkoordinasi untuk memecahkan masalah ini. Namun kami tidak dapat menerima cara perempuan Tunisia diperlakukan dan tidak menerima apa yang telah terjadi pada wanita Tunisia di bandara,” tegas Garrach.

Tunisia termasuk di antara negara-negara dengan jumlah petempur militan Islamis terbanyak. Hal tersebut terjadi setelah persoalan radikalisasi di Tunisia meluas di antara kaum muda yang mengalami kekecewaan dan pelonggaran kontrol keamanan setelah pemberontakan pada 2011.

Kekalahan militer dari kelompok IS di sebagian besar Suriah dan Irak tahun ini telah mendorong banyak petempur asing dan keluarga mereka untuk pulang. Terlebih setelah IS juga telah kehilangan benteng utamanya di negara tetangga Tunisia, Libya.

Kementerian Dalam Negeri Tunisia mencatat, lebih dari 3.000 warga Tunisia diketahui melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berperang. Dalam pernyataan resminya, menteri dalam negeri Tunisia menyebut, 800 orang telah kembali ke Tunisia, tempat mereka dipenjara, dipantau atau dikenai tahanan rumah. (Ant)

Lihat juga...