Pohon Natal ‘Selera Nusantara’, Unik dan Penuh Makna

141

JAKARTA – Selama ini, pohon natal diidentikkan pohon cemara runcing bersalju dengan hiasan bola-bola lampu. Tapi, sekarang ada yang beda, Pohon Natal Selera Nusantara, namanya.

Dari nama yang disandang, ada kalimat ‘Selera Nusantara’ mengundang perhatian banyak orang karena dari pohon natal tersebut menjuntai petai dan cabai yang mengundang selera.

Fotonya beredar luas di media sosial dan berbagai komentar pun dilayangkan. Di antaranya, ada orang yang menanggapinya kreatif. Ada orang yang bilang mantap. Ada juga orang yang menanggapi cabainya kurang. Orang yang berkomentar itu sepertinya suka pedas. Kemudian, ada yang membalas, iya sekalian terasinya.

Nah, semakin tampak arah pembicaraannya, yaitu pada menu pembuatan sambal. Betapa nikmatnya memang makan petai dengan mencolet sambal. Demikian itu menandakan sebagai selera Nusantara, karena orang Indonesia memang doyan makan petai.

Arakan persembahan dalam misa alam. -Foto Ist/ Dok. Sodong Lestari

Setelah ditelusuri, Pohon Natal Selera Nusantara itu sudah lama ada. Lima tahun lalu, ada Pohon Natal Petai di Gereja Santo Thomas Rasul Bedono, Ambarawa, Jawa Tengah.

Kata-kata ‘Bedo No’ (berasal dari Bahasa Jawa, yang artinya ‘berbeda to’), menjadi yel-yel yang telah dihayati oleh kalangan umat baik anak-anak, pemuda maupun dewasa. Yel-yel yang diambil dari nama tempat Gereja, yaitu Bedono, menjadi ‘bahasa bersama’ yang menggerakkan umat untuk menjalankan dan mencapai visinya, yaitu ‘Menjadi Gereja Yang Membumi, Lestari dan Membudaya”. Gereja yang mendayakan dan berdialog dengan keseharian.

Perumusan bahasa bersama ‘Bedo No’ dapat dikatakan sangat cerdas sekaligus humoris dan menggelitik, karena memiliki banyak arti, akrab dan mudah ditangkap, antara lain: menjadi spirit dan ajakan untuk memiliki mimpi yang berbeda, menghidupi iman secara berbeda, bekerja dengan cara berbeda dan memberi manfaat bagi sekitar secara berbeda.

Menurut Romo Patricius Hartono Pr., Pastor Paroki Gereja Santo Thomas Rasul Bedono, bahwa Pohon Natal petai di samping altar tersebut tak sekedar gambar tanpa latar, atau sekedar cari sensasi. Sebagai hiasan, malam itu ia pun hadir bersama-sama dengan tetumbuhan lain seperti rumpun jagung, talas, tomat, bahkan rumput teki dan berbagai tanaman lain. Bahkan di dua gereja kecil lain bagian dari paroki ini mengangkat tema berbeda, yaitu ‘altar singkong’ dan ‘altar herbal’.

Altar-altar hijau tersebut hadir dalam bingkai besar perjuangan gereja, yang ingin menjadi bagian dari pembangun harmoni alam raya seisinya, sebagai wujud penghayatan iman yang lebih hidup.

Dalam pesan natal, Romo Hartono menyampaikan, bahwa Natal bukan sekedar peristiwa manusia. Natal adalah peristiwa semesta. Bicara tentang damai natal itu pun bukan hanya damai antar manusia, tetapi antar semua ciptaan.

Lebih dari itu, damai natal adalah berdamainya kembali ciptaan dengan Penciptanya berkat kelahiran Yesus, Emanuel, yaitu Tuhan yang tinggal di antara kita (baca semesta dengan manusia di dalamnya)

Baca Juga
Lihat juga...