Polisi Kembali Dilibatkan Dalam Perang Narkotika Duterte

85
Ilustrasi Bendera Filipina - Foto: Dokumentasi CDN

MANILA – Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerintahkan polisi giat mendukung lembaga pengawas narkotika dalam perang menumpas narkotika. Perintah tersebut dikeluarkan menyikapi kembali maraknya penggunaan obat terlarang di tengah masyarakat.  

Badan Pengawas Obat Filipina (PDEA) akan tetap menjadi lembaga utama dalam perang melawan narkotika tersebut. Namun juru bicara Duterte, Harry Roque, mengatakan bahwa polisi dan lembaga lain akan melanjutkan memberikan dukungan penuh kepada PDEA.  

Duterte pada awalnya menangguhkan gerakan penumpasan kejahatan narkotika oleh polisi pada Januari. Langkah tersebut menjadi tindaklanjut setelah tindakan polisi dipertanyakan, baik di dalam maupun di luar negeri.  

Namun, Dia menempatkan kembali polisi lima minggu kemudian, dengan alasan bahwa obat beredar kembali di jalanan. Kebijakan berubah kembali pada Oktober  dan menjadikan PDEA sebagai satu-satunya lembaga penanggung jawab gerakan penumpasan kejahatan narkotika di Filipina. Polisi mengatakan hampir 4.000 orang telah tewas dalam operasi anti-narkoba mereka.  

Kelompok hak asasi manusia dan lawan politik Duterte mengatakan, eksekusi terhadap pengguna narkoba dan pedagang kecil telah meluas. Namun polisi mengatakan bahwa yang tewas adalah semua pengedar yang melakukan perlawanan kekerasan.  

Polisi telah menolak kritik tersebut dan mengatakan, 117 ribu penangkapan sebagai bukti bahwa mereka membawa tersangka hidup-hidup. Mereka juga menolak dikaitkan dengan setidaknya 2.000 kasus pembunuhan pengguna narkoba jalanan yang tidak terungkap.  

Sejak PDEA memimpin pada 11 Oktober, Roque mengatakan bahwa hanya satu tersangka narkoba yang terbunuh dalam operasi anti-narkoba. Badan penegakan obat hanya memiliki sebagian kecil tenaga kerja dari 190 ribu polisi yang kuat.  

Roque, yang membaca perintah, yang dikeluarkan Duterte, mengatakan bahwa PDEA sangat terhambat dalam menjalankan mandat besarnya dengan ketiadaan sumber daya, khususnya lembaga dan pekerja, yang dapat menembus daerah obat terlarang. (Ant) 

Komentar