Posdaya Bacang Mendidik Warga Menjauhi Bank Keliling

JAKARTA –– Gelombang serangan Bank Keliling (Bangke) di Jakarta khususnya wilayah pelosok begitu gencar. Dengan mengatas namakan Koperasi, para Bangke setiap harinya selalu mencari korban untuk terjerat di dalam sistem yang akan mereka terapkan.

Hj. Tuty Rohati, selaku Kabid Ekonomi Posdaya Bacang, yang berlokasi di jalan Raya Lenteng Agung Timur, tepatnya di Gang H. Shibi, Kelurahan Serengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan ini, berjuang memerangi dan mengikis habis Bangke yang terdapat di wilayahnya.

Menurut Tuty Rohati awal mula berdirinya Posdaya Bacang pada 2012, ketika dirinya dan beberapa anggota masih bergabung dengan Posdaya Sirsak di RW 12. Memasuki angsuran/ pinjaman ke 3 berjalan pada akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan Posdaya Sirsak mendirikan Posdaya sendiri.

Pendirian Posdaya ini dikarenakan banyaknya minat warga sekitar tempat tinggalnya ingin menjadi anggota Posdaya. Antusias ketertarikan warga sekitar terhadap posdaya inilah membuat dirinya diundang dari Tabur Puja Universitas Pancasila untuk diberikan pengarahan seputar pengelolaan Posdaya.

Akhirnya, setelah mendapatkan arahan dan bimbingan dari pihak Tabur Puja Universitas Pancasila, Posdaya Bacang berdiri, dan anggota yang sudah terdaftar di Tabur Puja Universitas Pancasila. Untuk selanjutnya dia terlibat dalam pengelolaan Posdaya Bacang.

Menurutnya jika ditarik dari 2012 hingga saat ini anggotanya berjumlah kurang lebih 150 anggota. Dari jumlah itu, 138 anggota benar-benar aktif. Dia memperkirakan kemungkinan besar akan ada penambahan anggota, melihat semakin banyak minat dari masyarakat akan pentingnya Posdaya Bacang.

“Antusias warga ini bisa dilihat dari memang sasaran kita yang utama yakni masyarakat pra keluarga sejahtera (pra KS). Kebanyakan dari anggota Posdaya Bacang menjalankan usaha warung kelontong, jualan makanan,” tutur Tuty.

Pinjaman anggota terus bergulir dan berkelanjutan dalam artian pinjaman yang sudah lunas, mereka mengajukan lagi untuk mengembangkan usahanya. Persyaratan yang begitu mudah dan tidak membebani inilah yang membuat pengajuan terus berkelanjutan baik pengajuan pinjaman maupun pengajuan menjadi anggota Posdaya ini.

Namun dirinya tidak serta merta menerima begitu saja pengajuan-pengajuan. Posdaya Bacang tetap selektif dalam hal memilih anggota.

“Hal ini dikarenakan beragam alasan yang kita terima. Kita khawatir dana yang nantinya disalah gunakan. Kita tetap harus tepat sasaran dalam memberikan bantuan,” katanya, Senin lalu.

Posdaya Bacang resmi berdiri secara struktural pada Agustus 2016. Selama perjalanan menuju ke struktural ini Posdaya Bacang mengalami suka duka dan tantangan yang dihadapi Tuty dan beberapa teman hadapi di lapangan.

Jika bercerita tentang suka duka sejak 2012 hingga 2015 yang dapat dikatakan lebih banyak duka dibandingkan sukanya. Pada 2013 itu Posdaya menggedor kesadaran warga untuk meninggalkan rentenir atau Bank keliling (Bangke) dengan dalih Koperasi.

“Sudah banyak korban yang terjerat Bangke, sampai kita melakukan sosialisasi kewarga dan juga sosialisasi melalui spanduk-spanduk yang kita tempelkan pada beberapa titik strategis,” ujar Tuty.

Banyak warga korban bangke akhirnya memutuskan untuk menjadi anggota Posdaya Bacang. “Kita hati-hati dan selektif dalam menerima anggota dengan melakukan pengecekan ke lingkungan sekitar seputar warga yang mengajukan diri untuk menjadi anggota Posdaya Bacang,” lanjutnya.

Ketakutan dan kekhawatiran pihak Posdaya Bacang terhadap para warga korban Bangke ini. Salah satunya mereka masih menjalin atau masih terikat dengan Bangke.

Pada akhirnya uang pinjaman dari Posdaya Bacang tidak dipergunakan untuk usaha tetapi untuk membayar hutang atau cicilan ke Bangke. Kendala dalam memerangi bangke tetap ada hingga saat ini, dan secara perlahan-lahan pula Posdaya Bacang selain menjaga para anggotanya untuk tidak terkena janji manis Bangke, juga mengajak warga lainnya untuk menjauhkan Bangke.

“Kita sosialisasikan ke warga yang ingin menjadi anggota akan tetapi jika masih ada sangkut paut dengan Bangke ada baiknya diselesaikan terlebih dahulu. Karena kita khawatir nantinya mereka tidak fokus untuk menjalankan usaha dan melakukan kewajibannya ke Posdaya Bacang,” jelasnya lagi.

Pada 2016 Posdaya Bacang membentuk Penanggungjawab, hingga saat ini sudah memiliki 5 Penanggung Jawab (PJ). Masing-masing PJ memegang 23 sampai 25 anggota

“Sebelum adanya PJ kita benar-benar bekerja keras melayani para anggota dalam proses kliring atau kas dengan menunggu anggota datang hingga waktu yang ditentukan. Jika sudah melebihi waktu, kita langsung keliling ketuk pintu rumah masing-masing anggota,” papar Tuty.

Keterampilan Anggota Posdaya Bacang

Anggota Posdaya Bacang mempunyai keterampilan membuat suvenir, aksesoris untuk memajukan budaya Betawi, di antaranya membuat boneka ondel-ondel, mute dengan nuansa Betawi, kerajinan tas dari bungkus kopi. Suvenir ataupun aksesoris itu dikirim ke Setu Babakan yang memang sudah bekerjasama dengan Posdaya Bacang.

“Perlahan tapi pasti, apa yang kita targetkan yakni memberdayakan Keluarga Prasejahtera mulai terpenuhi dan tepat sasaran. Selama itu juga Bangke mulai terkikis dan menghilang. Rencananya pada awal 2018 Posdaya Bacang akan membuat apotik hidup,” jelasnya.

Informasi diterima saat ini masih adanya upaya Bank Keliling (Bangke) menyebarkan spanduk atau selebaran brosur dengan dalih nama Koperasi Sehati untuk mencari korban.

Di sinilah peranan Posdaya Bacang senantiasa selalu menjaga para anggota dan tentunya bergerilya memberikan sosialisasi ke warga sekitar agar menjauhi Bangke.

Lihat juga...