Posdaya Binangun Sejahtera Fokuskan Program Ke Peningkatan Ekonomi Warga

YOGYAKARTA — Sebagai upaya mengatasi masalah utama kemiskinan di Dusun Gunung Gempal, Giripeni, Wates, Kulonprogo, Posdaya Binangun Sejahtera, secara khusus menitikberatkan pemberdayaan di bidang ekonomi sejak pertama didirikan pada 2012 silam.

Semua program baik di bidang pendidikan, lingkungan maupun kesehatan disinergikan guna mengangkat kondisi ekonomi warga dusun.

Dusun Gunung Gempal sendiri, memiliki sebanyak 7 RT dengan jumlah penduduk mencapai 480 KK yang mayoritas bekerja sebagai petani, pedagang, buruh, maupun wirausaha. Berada tak jauh dari pusat Ibu Kota Kabupaten, Dusun Gunung Gempal secara geografis terdiri dari wilayah perbukitan, sementara sebagian lainnya merupakan pemukiman cukup padat.

Sebelum Posdaya berdiri, menurut Kepala Dusun Gunung Gempal, Subardiah, kondisi ekonomi masyarakat terbilang masih lemah. Selain angka pengangguran cukup tinggi, banyak rumah-rumah warga dalam kondisi memprihatinkan dan tak layak huni. Termasuk juga kondisi infrastruktur dusun yang belum baik, mulai dari rusaknya jalan penghubung, hingga belum adanya saluran drainase dan sanitasi.

“Dari situ masyarakat melalui posdaya, dengan didorong kader pemberdayaan dari Yayasan Damandiri, membuat berbagai program terobosan pemberdayaan bagi warga dusun. Hingga akhirnya secara perlahan mulai ada perbaikan,” ujar Kepala Dusun Gunung Gempal, sekaligus Ketua Posdaya Binangun Sejahtera, Subardiah.

Berkat berbagai upayanya itu, pada tahun 2015, Posdaya Binangun Sejahtera bahkan menjadi posdaya terbaik ke II di wilayah korwil DIY. Tak hanya itu saja, pada tahun yang sama Posdaya ini juga ditunjuk mewakili DIY untuk maju dalam ajang posdaya berprestasi tinggat nasional di Semarang, hingga mendapat anugerah posdaya award Yayasan Damandiri.

Lalu apa sajakah program yang telah disusun Posdaya Binangun Sejahtera dalam memberdayakan masyarakatnya?

Di bidang pendidikan Posdaya Binangun Sejahtera, membuat sebuah terobosan, yakni menyelenggarakan pelatihan kursus bagi para pemuda putus sekolah dan pengangguran, bekerjasama dengan sebuah SMK di tingkat kecamatan. Pelatihan seperti perbengkelan dan permesinan ini bertujuan memberikan bekal ketrampilan bagi warga desa agar ke depannya bisa membuka usaha.

“Dari pelatihan ini akhirnya banyak pemuda dusun yang kemudian membuka usaha. Karena selain dilatih, mereka juga diberikan suntikan modal berupa alat pertukangan. Walaupun saat ini ada yang usahanya masih bertahan dan ada yang sudah gulung tikar,” ujarnya.

Selain pelatihan ketrampilan, pemberdayaan dalam bidang pendidikan juga dilakukan Posdaya Binangun Sejahtera dengan mendirikan PAUD bagi anak usia dini. Sejumlah program lain seperti posyandu lansia, posyandu balita, hingga bina keluarga berencana dan bina keluarga remaja, juga dijalankan dengan mensinergikannya pada program pelayanan kesehatan.

“Program-program kesehatan, juga kita sinergikan dengan progran di bidang lingkungan. Seperti bedah rumah, jambanisasi, pembuatan saluran pembuangan limbah rumah tangga atau sanitasi, pembuatan resapan dan sebagainya,” katanya.

Selain itu untuk mendukung akses keluar masuk dusun, Posdaya Binangun Sejahtera juga memanfaatkan program semenisasi pemerintah untuk memberbaiki jalan-jalan dusun. Jalan-jalan setapak dilebarkan dan disemen dengan cara menggerakkan warga untuk bekerja bakti bersama.

“Bahkan sebagian warga rela kehilangan tanah pekarangannya untuk pelebaran jalan. Ini merupakan bentuk kepedulian warga pada kepentingan bersama,” katanya.

Di bidang ekonomi, berbagai upaya pemberdayaan dilakukan mulai dari menggelar pelatihan ketrampilan, pelatihan usaha, pemberian pinjaman modal usaha melalui koperasi simpan pinjam baik tingkat dusun maupun desa, hingga pemanfaatan bantuan hibah dari pemerintah baik berupa alat maupun modal usaha.

“Ada banyak warga yang kemudian membuka usaha mulai dari pembuatan peyek, sambel kering, sayur matang, krupuk singkong, emping Garut, tepung, kerajinan kurungan, rajut, dan sebagainya. Bahkan dulu ada yang sampai ekspor ke luar negri, meski sekarang sudah gulung tikar,” paparnya.

Salah satu kendala yang dihadapi Posdaya Binangun Sejahtera saat ini dikatakan Subardiah adalah tidak adanya regenerasi kader. Mayoritas kader Posdaya telah berusia tua di atas 50 tahun. Hal itulah yang membuat berbagai program menjadi jalan di tempat. Bahkan cenderung mengalami penurunan.

“Kendala utama kita saat ini adalah mencari kader. Karena menjadi kader Posdaya itu tidak mudah, butuh pengorbanan besar baik dari sisi tenaga pikiran dan waktu. Bahkan kadang kita juga harus tombok,” keluhnya.

Suasana dusun Gunung Gempal, Giripeni, Wates, Kulonprogo-Foto: Jatmika H Kusmargana.
Lihat juga...