Posdaya Pesantren Rakyat Al-Amin Berdayakan Warga Sumberpucung

MALANG — Memaknai Agama tidak hanya urusan ibadah hubungan manusia dengan Allah (Hablum Minallah) saja, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia (Hablum Minannas) yakni dengan cara merawat fakir miskin, yatim piatu dan anak terlantar.

Berlandaskan hal tersebut, Abdullah Sam (Cak Dullah) yang di dampingi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim akhirnya mendirikan Posdaya Pesantren Rakyat Al-Amin pada Desember 2011, yang berlokasi di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

“Kalau kita tidak mau merawat orang miskin, yatim piatu dan anak terlantar, berarti kita termasuk pendusta Agama. Tetapi Alhamdulillah atas izin Allah dan bimbingan dari posdaya akhirnya kami bisa berdayakan masyarakat dan tidak ada yang menganggur,” ucapnya.

Cak Dullah menjelaskan di bidang pendidikan saat ini Posdaya Al-Amin telah menghidupkan organisasi kepemudaan tingkat kecamatan, membuka les gratis dan kampung Inggris serta telah membuka Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sekolah Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).

Tidak hanya itu Posdaya Pesantren Rakyat Al-Amin sekarang ini tengah mengembangkan apa yang disebut dengan pesantren tanpa dinding. Artinya proses belajar-mengajar dilakukan di rumah-rumah penduduk dan para santri langsung belajar bersama masyarakat, berbaur dengan masyarakat sehingga diharapkan mereka bisa memahami kehidupan yang ada di masyarakat.

Selain itu, tiap kali tanggal 17 Agustus, Posdaya Pesantren Rakyat Al-Amin juga menggelar upacara ala rakyat untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang diikuti oleh semua masyarakat dari berbagai profesi.

Kemudian di bidang kesehatan, Posdaya Al-Amin mendampingi masyarakat miskin untuk mendapatkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) dan Program Keluarga Harapan (PKH). Memberikan pelatihan kesehatan reproduksi remaja, penyuluhan bahaya Narkoba yang bersinergi dengan Badan Narotika Nasional (BNN).

Selanjutnya di bidang lingkungan Posdaya Al-Amin telah mendirikan bank sampah dan memberikan pelatihan pengolahan sampah serta membuat 2.000 Biopori dan 9 kolam resapan.

Di bidang ekonomi Posdaya Al-Amin mampu memberikan pinjaman tanpa bunga dan jaminan dengan menerapkan sistem syariah. Dikatakan Cak Dullah, pinjaman tanpa jaminan merupakan urunan dari masyarakat yang kaya sekitar Rp700 ribuan, Rp1 juta ada juga yang meberi Rp5 juta. Dari urunan tersebut kemudian uangnya diwakafkan untuk dipinjamkan kepada orang yang tidak mampu.

“Orang tidak mampu itu kan tidak punya BPKB maupun sertifikat tanah. Jadi jaminannya hanya ijasah dan surat nikah, asalkan ada rekomendasi dari jamaah masjid atau ketua RW mau merekomendasikan, maka kami mau memberikan pinjaman,”ujarnya.

Mereka bisa pinjam Rp1 juta hingga Rp5 juta untuk orang miskin. Sedangkan bagi mereka yang sudah berdaya dan mau berkomitmen memberikan CSR, bisa diberikan pinjaman sampai Rp25 juta.

Akan tetapi lanjut Cak Dullah ada juga sebagian warga yang tidak sanggup bayar atau tidak mau bayar, lalu kemudian dia menginatkan ambil bercanda. Mereka boleh tidak mengembalikan uangnya tapi ada empat syaratnya yakni gila, bangkrut, sakit parah yang tidak tertolong dan terakhir mati.

“Kalau mereka tidak mau membayar, silahkan mereka seperti itu. Ini kan ancaman psikologis. Itu artinya memang orang yang tidak jujur itu akan dibangkrutkan oleh Allah,”ungkapnya.

Sementara itu disampaikan Cak Dullah, sekarang ini jumlah Pesantren Rakyat sudah ada 131 di Indonesia dari 1.000 Pesantren rakyat yang ditargetkan.

“Kalau pesantren rakyat jumlahnya ada 1.000, Insha Allah, Indonesia bisa bangkit dari bawah, orang miskin akan berdaya bersama pesantren rakyat dan posdaya,” sebutnya.

Kalau saya hitung dari masyarakat yang tidak berdaya, selama kurang lebih tujuh tahun, manfaat posdaya sudah dirasakan 8 ribu masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung, pungkasnya.

Abdullah Sam memimpin upcara ala rakyat-Foto: Istimewa/Agus Nurchaliq.
Lihat juga...