Prawirodirjan, Kampung Panca Tertib di Pusat Kota Jogja

YOGYAKARTA — Selain menyandang predikat kampung KB, kampung bebas asap rokok, serta kampung kampung ramah anak, kampung RW 12 Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta, juga dikenal senagai kampung panca tertib. Predikat ini diberikan atas keberhasilan Posdaya Rukun Sejahtera, mengajak warganya mentaati peraturan demi ketertiban dan keamanan bersama.

Berita Terkait: Lewat Kader Jiwa, Posdaya Atasi Persoalan Kejiwaan Warga Prawirodirjan

Yang dimaksud dengan panca tertib sendiri adalah tertib dalam lima hal. Yakni tertib daerah milik jalan, tertib bangunan, tertib usaha, tertib lingkungan dan tertib sosial. Setiap warga di kampung RW 12 Prawirodirjan diajak untuk mentaati peraturan daerah mulai dari tertib mengurus akte kelahiran, Kartu Identitas Anak (KIA), hingga E-KTP.

Tertib mengurus ijin usaha (HO) bagi pelaku usaha, tertib jam bertamu, tertib ijin dan laporkan bagi setiap kos/pondokan, tertib melakukan siskamling dan kerjabakti, hingga tertib memanfaatkan trotoar untuk pejalan kaki dan tidak menggunakannya untuk berusaha atau berdagang kaki lima.

“Kita terus mensosialisasikan hal ini pada warga. Termasuk membahas berbagai permasalahan yang muncul dalam setiap pertemuan rutin posdaya,” ujar Ketua RW 12 Prawirodirjan sekaligus Ketua Posdaya Rukun Sejahtera, Utami Wulandari.

Didirikan sejak 2012 silam, Posdaya Rukun Sejahtera memang secara konsisten terus melalukan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat lewat sejumlah program baik di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan maupun ekonomi, hingga saat ini.

Di bidang kesehatan, Posdaya Rukun Sejahtera membuat program terobosan Kader Jiwa untuk mengatasi banyaknya warga yang mengalami gangguan jiwa. Tak hanya itu, Posdaya Rukun Sejahtera juga rutin menggelar kegiatan posyandu, deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang anak, Bina Keluarga Berencana (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR) hingga Bina Keluarga Lansia (BKL) yang bekerjasama dengan puskesmas setempat.

“Semua program kesehatan itu kita lakukan secara holistik atau terpadu. Juga kita sambungkan dengan bidang pendidikan,” katanya.

Ketua RW 12 Prawirodirjan sekaligus Ketua Posdaya Rukun Sejahtera, Utami Wulandari/Foto: Jatmika H Kusmargana

Selain menjalankan PAUD untuk anak usia dini, pemberdayaan di bidang pendidikan juga dilakukan melalui sejumlah program di bidang kesehatan seperti posyandu balita, BKB, BKR hingga BKL. Keluarga dengan anak balita diajarkan untuk menjadi orangtua hebat dengan mengenal aspek-aspek perkembangan anak. Penyuluhan juga diberikan bagi orang tua beranak remaja, baik terkait soal kesehatan reproduksi, pernikahan dini, hingga konseling.

“Di bidang pendidikan kita juga menerapkan jam belajar masyarakat. Mulai pukul 18.00-20.00 WIB kita ajak setiap keluarga agar tidak membiarkan anaknya menonton televisi, keluar rumah atau menggunakan HP, karena merupakan waktu belajar,” katanya.

Sementara di bidang lingkungan, Posdaya Rukun Sejahtera, sejak tahun 2015 telah menjadikan kampung RW 12 Prawirodirjan sebagai kampung bebas asap rokok. Setiap orangtua di kampung ini dilarang menyuruh anaknya membelikan rokok, begitu juga warung dilarang menunjukkan produk rokok meski menjualnya. Sementara setiap orang tua juga dilarang merokok di dalam rumah atau setiap pertemuan kampung.

“Pencanangan kampung bebas asap rokok ini dilakukan dengan mengajak semua warga menandatangani perjanjian bersama. Memang belum semuanya mentaati, namun kita terus sosialisasi,” katanya.

Posisi kampung yang berada di pusat kota dengan tingkat pemukiman yang padat, membuat Posdaya Rukun Sejahtera begitu fokus menangani persoalan lingkungan. Selain menggalakkan program KB untuk mengontrol laju pertumbuhan penduduk, Posdaya juga melakukan berbagai upaya lain agar kampung bebas kumuh.

Di antaranya adalah melakukan penghijauan, dengan mewajibkan penanaman 5 pohon toga/sayur buah di tiap rumah. Penyediaan ruang publik dan ruang terbuka hijau, memanfaatkan lahan sempit milik warga. Hingga membuat sumur peresapan, konblokisasi, neonisasi dan ipal komunal dengan menggandeng musrembang.

“Kita juga menjadi kampung ramah anak. Tidak boleh ada kekerasan pada anak. Tidak boleh ada anak yang merokok dan melakukan pernikahan dini. Kita memiliki pusat layanan konseling dengan relawan konselor atau pendidik sebaya. Termasuk dalam hal kebudayaan kita juga memiliki sanggar tari,” katanya.

Berita Terkait: Utami: Posdaya “Ibu-Bapak”nya Pembedayaan Masyarakat di Kampung/Desa

Memiliki jumlah penduduk mencapai 548 jiwa, dengan mayoritas sebagai pedagang, wirausaha dan buruh, bidang ekonomi juga tak luput dari kegiatan pemberdayaan posdaya Rukun Sejahtera. Pasalnya sampai saat tercatat masih ada sebanyak 27 keluarga yang tergolong sebagai keluarga pra sejahtera baik miskin dan hampir miskin.

Mengkolaborasikan dengan program di bidang lainnya, serta melihat potensi warga yang banyak berprofesi serbagai pedagang, pengrajin, dan pelaku industri rumah tangga kuliner, Posdaya Rukun Sejahtera, membentuk unit kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera. Lewat program inilah warga kurang mampu diajak untuk memulai usaha, dengan cara memberikan pelatihan, pendampingan hingga pemberian modal usaha bekerjasama dengan pemerintah setempat.

“Disini banyak warga yang memili usaha warung kelotong, membuat makanan kotak atau snack, jualan di pasar, hingga membuat kerajinan seperti blangkon, surjan, bros, gantungan kunci perca, hingga mainan anak. Mereka semua kita berdayakan. Tiap bulan juga kita adakan pertemuan, untuk membahas perkembangan usaha mereka,” katanya.

Seorang warga memanfaatkan cabai dari hasil kebun hijau di tengah padatnya kampung RW 12 Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta/Foto: Jatmika H Kusmargana

Menurut Utami, salah satu kunci Posdaya Rukun Sejahtera mampu memberdayakan masyarakatnya adalah keberadaan para kader posdaya yang mampu menggerakkan warganya. Mereka inilah yang memegang peranan sentral, meski sering kali harus banyak berkorban, demi kepentingan masyarakatnya.

“Memang harus ada motor penggerak, yang ikhlas berjuang untuk masyarakat. Siap berkorban, pantang menyerah dan tidak kenal lelah. Walau seing tombok. Tapi setelah digerakkan ternyata masyarakat juga bisa,” pungkasnya.

Lihat juga...