Program SPI Ajarkan Pelajar Kemandirian Pangan

BALIKPAPAN — Sejak dilaksanakannya program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan pada 2016 lalu, BI terus menambah jumlah sekolah dan lembaga yang diajak masuk dalam menekan angka inflasi pada komoditas yang mengerek angka inflasi kota Balikpapan.

Program SPI adalah program pengendalian inflasi dari yang mengajak siswa sekolah dengan melakukan budi daya cabai dalam polybag dengan metode organik.

Program ini sekaligus memperkenalkan konsep pengendalian inflasi kepada para pelajar. Tidak hanya pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), tapi BI juga ekspansi pada jenjang pendidikan SMP dan pondok pesantren.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kpw BI Balikpapan Thomy Andryas menerangkan program SPI untuk meningkatkan pemahaman bagaimana pentingnya pengendalian inflasi dan meningkatkan kemandirian untuk memenuhi kebutuhan cabai dan menjadi salah satu sumber pendapatan.

“Melalui program SPI kita dapat mengajarkan kemandirian pangan di lingkungan sekolah. Caranya dengan memberikan pelatihan dan pembinaan kepada sekolah mengenai konsep pengendalian inflasi,” ungkapnya Kamis, (14/12/2017).

Menurutnya, melalui program SPI sekolah dapat mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada. Baik itu resource, siswa, guru, penjaga sekolah, maupun bekerja sama dengan masyarakat sekitar.

Tidak hanya produk cabai juga bisa diolah, misalnya, menjadi cabai kering dan lainnya yang bisa menghasilkan pendapatan untuk sekolah. Kalau cabai panen dan produksi berlimpah malah harga akan turun, petani akan rugi.

“Oleh karenanya paling bagus diolah, diawetkan, atau nilai tambah apa yang dibuat oleh sekolah. Dengan pengolahan maka Itu bagian dari inovasi-inovasi yang muncul dari sekolah,” pungkasnya.

Dia menjelaskan program SPI tidak hanya berjalan di Kota Balikpapan namun juga berjalan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Pada tahun ini hasil produksi SPI periode April-hingga pekan keempat November 2017 mencapai 639 kg.

Di PPU, hasil panen cukup memuaskan, karena ketersediaan lahan serta inovasi budi daya yang dilakukan dalam pemeliharaan tanaman cabai.

“Hasil dari panen kita data, kemudian cabai bisa menjadi pendapatan sekolah setelah nantinya di jual di lingkungan sekolah. Yang jelas sangat berdampak positif bagi para pelajar sebagai sarana edukasi,” tambahnya.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kpw BI Balikpapan Thomy Andryas -Foto; Ferry Cahyanti.
Lihat juga...