Protes Penangkapan, Wartawan Myanmar Gelar Kampanye Hitam

YANGON – Kelompok wartawan Myanmar akan mengenakan kaos atau kemeja hitam sebagai protes atas penangkapan dua wartawan Reuters yang dituduh melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi negara tersebut.

Sementara itu, tekanan kepada Myanmar agar membebaskan kedua wartawan yang ditahan sejak 14 Desember lalu terus berkembang. (Baca : https://www.cendananews.com/2017/12/kepolisian-myanmar-tangkap-dua-wartawan-reuters.html)

Komite Perlindungan Wartawan Myanmar menggambarkan, penangkapan tersebut adalah bentuk sebuah ketidakadilan. Kelompok organisasi wartawan lokal yang telah berunjuk rasa terhadap segala bentuk penuntutan wartawan di Myanmar tersebut menggambarkan penangkapan yang dilakukan berdampak pada kebebasan media.

Dalam sebuah pernyataan di akun media sosial yang dimiliki, komite tersebut mengatakan para anggotanya akan mengenakan kaos kemeja hitam untuk menandakan masa gelap kebebasan media di Myanmar. Mereka menuntut pembebasan segera dan tanpa syarat dua orang wartawan Wa Lone (31) dan Kyaw Soe Oo (27).

“Para wartawan dari seluruh negeri diminta untuk ikut serta dalam Kampanye Hitam,” demikian grup tersebut dalam pernyataan di akun media sosialnya, Sabtu (16/12/2017).

Dalam pernyataan lebih lanjut, komite itu juga akan menyelenggarakan protes-protes resmi dan menggelar doa bersama. Belum jelas seberapa besar dukungan yang kelompok itu akan peroleh dari para wartawan Myanmar.

Komite Perlindungan bagi Wartawan Myanmar dibentuk menanggapi penahanan editor sebuah surat kabar pada Juni lalu. “Penangkapan terjadi akibat penyiaran sebuah kartun yang membuat militer negara itu tersinggung. Seorang wartawan harus punya hak untuk mendapatkan informasi dan menulis berita sesuai etika,” kata Wartawan video A Hla Lay Thu Zar salah seorang anggota komite eksekutif kelompok yang beranggotakan 21 orang tersebut.

Deputi Direktur Kementerian Informasi Myanmar Myo Nyunt mengatakan, bahwa kasus tersebut tak ada kaitan dengan kebebasan pers. “Ini terkait dengan Undang-Undang Rahasia Resmi. Para wartawan hendaknya dapat memberitahu apa yang rahasia dan apa yang tidak. Kami sudah punya kebebasan pers. Sudah ada kebebasan untuk menulis dan berbicara. Sudah ada kebebasan pers jika Anda mengikuti aturan-aturan,” tandasnya.

Myo Nyunt menyebut, setiap orang dapat menyampaikan perasaan-perasaannya termasuk wartawan lokal yang ingin menggelar kampanye hitam memprotes penangkapan yang dilakukan. Sementara itu tekanan dari negara Kedua wartawan yang ditangkap telah menghilang. Terutama setelah agenda makan malam bersama perwira polisi di pinggiran Yangon, kota terbesar di Myanmar.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillersen, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Presiden Parlemen Eropa Antonio Tajani dan para pejabat pemerintah dari Inggris, Kanada, Bangladesh dan Swedia telah menyerukan pembebasan kedua wartawan.

Kedua wartawan itu bekerja di Reuters untuk meliput sebuah krisis yang menimpa 655.000 Muslim Rohingya. Mereka melarikan diri dari penumpasan militer yang bengis terhadap para militan di negara bagian Rakhine. Kementerian Informasi menyatakan kedua wartawan tersebut telah secara ilegal memperoleh informasi dengan tujuan membaginya ke media asing, dan menyiarkan sebuah foto keduanya yang sedang diborgol. (Ant)

Lihat juga...