Provitas GKP Gunungkidul Capai 7 Ton/ Hektare

GUNUNGKIDUL – Dengan berbagai kendala cuaca, minimnya sumber air, dan serangan hama burung, sejumlah petani di beberapa desa di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mampu menghasilkan panen padi dengan rata-rata produktivitas tanaman (provitas) sebesar 7 ton per hektare gabah kering panen (GKP).

Lahan padi seluas kurang lebih 25 hektare, tersebar di sejumlah dusun, antara lain Dusun Susukan I, Susukan IV, Kerjo I dan Kerjo II, pada awal musim tanam 2017/2018 telah menghasilkan panen padi yang terhitung memuaskan. Terlebih, panen padi dengan provitas yang cukup tinggi terjadi pada bulan Desember yang merupakan masa kritis panen padi, karena musim penghujan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan, dengan berbagai kendala yang ada, sejumlah lahan padi di beberapa lokasi ternyata mampu menghasilkan panen yang cukup memuaskan.

Petani panen padi varietas ciherang di Bulak Genjahan, -Foto: Dok: BPTP DIY.

“Alhamdulillah, mengawali musim tanam 2017/2018 ini beberapa lokasi seperti di Bulak Wareng dan Genjahan bisa panen dengan provitas 6,5 ton gabah kering panen per hektare”, kata Bambang Wisnu Broto, usai panen raya padi varietas ciherang kelompok tani Sri Makmur Desa Genjahan, di Bulak Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, bersama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Balai Litbang Pertanian (Balitbangtan) Yogyakarta, Rabu (27/12/2017).

Panen raya padi di Bulak Genjahan merupakan rangkaian dari program monitoring gerakan panen serentak di berbagai wilayah di DIY oleh BPTP DIY, guna memastikan penyerapan hasil panen di tingkat petani berjalan maksimal. Hadir dalam panen raya tersebut para mantri tani dan penyuluh pertanian kecamatan Ponjong, TNI Kodim 0730 Gunungkidul dan Koramil 08 Ponjong serta perwakilan dari BPTP DIY, Ir. Mulyadi, MSP.

Baca: BPTP DIY Turun Lapangan, Pastikan Panen Maksimal di Masa Kritis

Capaian hasil panen padi di beberapa wilayah di Gunungkidul, tak lepas dari penggunaan varietas unggul seperti ciherang dan situ bagendit, dengan sistem tanam jajar legowo hasil pengkajian BPTP DIY.

Bambang Wisnu Broto, mengatakan, upaya peningkatan hasil panen padi di wilayahnya juga dilakukan dengan membangun dam parit, yang saat ini telah mencapai sebanyak 19 unit, penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok-kelompok tani, serta pencapaian target luas tambah tanam (LTT), yang saat ini telah mencapai 51 hektare dari target seluas 57 hektare.

Peneliti BPTP DIY, Mulyadi, MSP, Kadinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, TNI dan petani, usai panen raya di Bulak Genjahan, Rabu (27/12/2017). -Foto: Dok: BPTP DIY

Senada, Mantri Tani Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan Ponjong, Damiriyanto, juga mengakui hasil panen di awal musim ini terhitung bagus, kendati sempat mendapatkan serangan hama burung. Provitas rata-rata mencapai 7 ton per hektare gabah kering panen.

Namun demikian, Damiriyanto mengatakan, belum semua para petani di Ponjong menerapkan sistem tanam jajar legowo, karena kebanyakan para petani menggunakan sistem borong. “Baru empat puluh persen petani di sini yang menerapkan jajar legowo”, katanya.

Sebelumnya, Kepala BPTP DIY, Joko Pramono, mengatakan, panen padi di bulan Desember memiliki arti strategis, karena merupakan masa-masa kritis pangan. Karena itu, pemerintah turun langsung memantau gerakan panen.

“Untuk memastikan pada masa kritis ini, tetap ada panenan,” kata Joko Pramono, saat monitoring ubinan hasil panen di Dusun Kedondong, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo, Kamis (20/12).

Lihat juga...