PSS Sleman Incar Pelatih Kiper Eddy Harto

SLEMAN – Manajemen PSS Sleman masih terus menyempurnakan komposisi tim yang disiapkan menyambut kompetisi Liga 2 musim depan. Selain pemain, manajemen juga terus memperkuat komposisi tim pelatih. Saat ini, manajemen tengah mengincar pelatih kiper.

Dari semua kebutuhan pelatih, hanya pelatih kiper yang masih kosong. Manajer PSS, Baryadi, mengungkapkan pihaknya mengincar Eddy Harto sebagai kandidat pelatih kiper. Namun, kiper yang sukses mempersembahkan medali emas bersama Timnas Indonesia pada SEA Games Manila pada 1991 silam, masih dalam tahap penjajakan.

Jika bergabung bersama PSS, maka Eddy Harto akan bereuni dengan Seto Nurdiyantara. Keduanya sempat berada satu tim di Persiba Bantul. Saat itu, Seto menjadi pemain senior Laskar Sultan Agung sedangkan Eddy Harto mendampingi Eduard Tjong sebagai pelatih kiper.

Selain pos pelatih kiper yang masih kosong, pos lainnya telah terisi. Herri Kiswanto didaulat sebaagai pelatih kepala. Mantan pelatih Persela Lamongan itu akan didampingi Seto Nurdiyantara yang kembali diminta manajemen untuk membantu PSS.

Kemudian mantan pelatih fisik Timnas Indonesia U-19 era Indra Sjafri, Komarudin, yang juga dosen di UNY serta pengelola Stadion Atletik dan Sepak Bola Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).  Sebagai kelengkapan tim, manajemen juga mengajak kembali Sigit Pramudya yang musim lalu menjadi fisioterapis tim.

“Kami lengkapi juga dokter tim serta tim statistik,” katanya.

Baryadi menambahkan, hal penting lain yang tidak boleh diabaikan adalah ketersediaan mess pemain dan katering. Manajemen, kata dia, tengah mencari tempat yang representatif digunakan sebagai mess pemain. Mess lama, di kompleks Stadion Maguwoharjo, dinilai tidak ideal.

Di samping itu, manajemen runner-up Indonesia Soccer Championship (ISC) B musim 2016 juga berancang-ancang akan memperhatikan kebutuhan makan para pemain. Pembenahan di sektor makanan menjadi salah satu prioritas.

Dia menjelaskan, sebelumnya tim sering kebingungan saat menyiapkan katering bagi pemain. Hal ini berdampak pada jam makan yang tidak teratur, lantaran masih menunggu datangnya katering.

“Hal ini diharapkan tidak terulang lagi. Jam makan atlet harus teratur, agar menunjang peformanya. Selain itu, katering yang digunakan harus bisa menyiapkan menu yang sesuai kebutuhan atlet sepak bola, seperti kebutuhan 3.000 kalori,” tandasnya.

Lihat juga...