Puluhan Kerbau Rawa di HSU Terkena Diare

BANJARMASIN – Puluhan ekor kerbau rawa di Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, diduga terserang diare akibat memakan daun kumpai sejenis tanaman rawa yang terkontaminasi banyak parasit.

Kepala Bidang Penyakit Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara, I Gusti Putu Susila, mengatakan, banjir yang terjadi di daerah tersebut membawa tumpukan tanaman kumpai dan dimakan oleh kerbau.

Diduga, tanaman kumpai tersebut banyak mengandung parasit, sehingga mengakibatkan Kerbau rawa (Bubalus Bubalis) terserang diare.

“Dugaan sementara akibat penumpukan parasit yang berlebihan di dalam pencernaan Kerbau Rawa mengakibatkan diare,” kata Putu Susila, Jumat (22/12/2017).

Putu mengatakan, akibat lainnya disebabkan luasnya genangan air rawa saat musim penghujan, mengakibatkan jangkauan renang kerbau rawa menjadi lebih luas, sehingga kerbau mudah lelah.

Dikatakan dia, kerbau yang kurang diberi asupan Vitamin oleh pemiliknya, akan mudah terserang penyakit saat kondisi tubuhnya tengah lemah atau letih.

Putu mengatakan, pihaknya menerima laporan banyak ternak kerbau rawa yang sakit, khususnya di Desa Bararawa dan Sapala. “Berapa jumlah kerbau yang sakit, kita belum mendapatkan data pasti,” katanya.

Menurutnya, pada 26 November 2017 banyak warga yang mengeluhkan tentang kondisi ternak kerbau yang mengalami sakit dengan gejala-gejala seperti diare, dengan warna feces kekuning-kuningan dan kerbau menjadi lemas.

Karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya banyak peternak memilih menjual kerbaunya dengan harga murah. “Selama serangan diare tersebut terjadi, satu ekor kerbau mati, selebihnya kerbau yang sakit segera dipotong dan dijual pemiliknya,” terang Putu.

Putu juga mengatakan, petugas peternak sudah menemui tujuh petani yang dilaporkan kerbaunya jatuh sakit. Para petani tersebut, rata-rata mengaku telah menjual kerbau yang sakit tersebut dengan harga lebih murah.

“Sebelumnya dikabarkan banyak kerbau yang mati, tapi ternyata hanya satu ekor, sisanya sengaja disembelih untuk dijual dagingnya, karena panik,” katanya.

Petani terpaksa menjual kerbau yang sakit, karena panik dengan harga yang jauh lebih murah, yakni hanya Rp2 juta hingga Rp3 juta per ekornya, sedangkan jika tidak sakit bisa mencapai Rp10 juta per ekor.

“Daging kerbau yang dijual dalam kondisi sakit seperti ini masih aman untuk dikonsumsi manusia,” terang Putu.

Ia menjelaskan, pihaknya sudah mengambil sampel feces dan dikirim ke Labulatorium Veteriner di Banjarbaru, untuk mengetahui lebih akurat penyebab penyakit yang menimpa ternak Kerbau Rawa di Paminggir.

Ditambahkan, guna lebih memastikan penyebab sakitnya ternak kerbau juga perlu diteliti bagian organ dalamnya.

Menurut Putu, kejadian tersebut belum pernah terjadi, ternak Kerbau Rawa sakit dengan gejala-gejala semacam ini. Biasanya yang banyak menyerang Kerbau Rawa adalah penyakit cacing hati. Jika ternak sudah lemas karena penyakit ini, maka sudah tidak bisa diobati lagi akibat kondisi hati dan perut kerbau yang mengalami kerusakan.

Sejak menerima laporan warga petugas peternakan bergerak cepat terjun kelapangan untuk mengetahui penyebab sakitnya ternak, membagikan obat-obatan dan vitamin kepada peternak.

Putu mengimbau, agar peternakan memiliki persediaan obat, anti biotik dan vitamin untuk ternak mereka, karena Dinas Pertanian terbatas dalam memberikan bantuan obat dan vitamin.

“Sebagian peternak yang kami kunjungi mulai menyadari, bahwa pencegahan dengan memberikan obat dan vitamin bagi ternak lebih menguntungkan, karena jika ternak sudah sakit seperti ini harga jual dipasar sangat murah dan merugikan peternak,” katanya. (Ant)

Lihat juga...