Rakit Senpi, Warga Penaraga Diamankan Polda NTB

MATARAM – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB), berhasil mengungkap peredaran senjata api rakitan. Seorang pria inisial AH alias Landa (46), yang diduga sebagai perajinnya asal Penaraga, Bima Kota telah diamankan polisi.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda NTB Kombes Pol Kristiaji mengungkapkan, senpi rakitan produksi AH dibeli oleh warga dan digunakan dalam kerusuhan antarkampung yang kerap terjadi di Bima Kota. “Kerusuhan atau kekerasan yang terjadi di Bima sering diwarnai aksi saling serang menggunakan senpi rakitan. Senpi ini sangat mudah didapatkan warga dengan memesannya dari yang bersangkutan (AH),” kata Kristiaji, Jumat (22/12/2017).

Karena itu, AH yang awalnya diamankan oleh pihak kepolisian di wilayah hukum Bima Kota, saat kasusnya ini telah dilimpahkan ke Polda NTB dibawah penanganan Subdit I Ditreskrimum Polda NTB. AH dilimpahkan ke Polda NTB lengkap dengan barang bukti berupa satu set alat untuk memproduksi senpi rakitan. Begitu juga dengan rumah tempat produksinya telah disegel pihak kepolisian.

AH dalam keterangan kepada penyidik yang memeriksanya mengaku, keterampilan membuat senpi rakitan dia pelajari dari youtube. Untuk satu senpi rakitan dia bisa menjualnya dengan harga Rp1,5 juta sampai Rp3 juta. “Tergantung dari tingkat kerumitan pembuatannya,” kata Kanit I Subdit I Bidang Keamanan Negara Ditreskrimum Polda NTB Kompol Dalizon.

Kompol Dalizon dalam keterangannya mengungkapkan, peran AH terungkap dari pengembangan hasil penyelidikan dan pemeriksaan dua warga yang lebih dulu diamankan, yakni RU (30) dan AR (34). Keduanya adalah warga asal Desa Samili, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima yang ditangkap saat pihak kepolisian melaksanakan sweeping pada 18 Desember 2017 karena menguasai senpi rakitan dan sejumlah amunisi.

“Dari keterangan kedua pelaku, identitas AH terungkap dan langsung diamankan,” ujarnya.

Dari pengembangan yang dilakukan, polisi berhasil mengamankan empat senpi rakitan, 26 butir amunisi 5.56 mm, amunisi 7.2 mm, serta satu magazine SS1. Namun berdasarkan pengakuan AH, sudah ada delapan senpi rakitan produksinya yang dibeli oleh warga, karena itu empat lainnya masih dalam proses pencarian lapangan.

“Untuk sisanya masih kita lakukan pencarian lapangan, tapi identitas pemilik sudah kita kantongi. Tapi informasinya mereka yang akan menyerahkannya ke polisi, niat ini masih kita tunggu kalau memang tidak ada ittikad baik, kita akan jemput,” ujar Dalizon.

Sementara itu untuk berkas milik RU dan AR telah dinyatakam lengkap oleh jaksa peneliti dari Kejati NTB. Sedangkan untuk berkas AH dikatakannya masih dalam tahap perampungan materi penyidikan. “Untuk penyelesaiannya, bulan ini kita targetkan tahap dua (pelimpahan tersangka dan barang bukti), karena kemarin tahap satu (berkas dinyatakan lengkap) sudah kita terima. Sedangkan untuk AH, karena belum lama kita tangani jadi targetnya bulan depan awal 2018, semoga bisa disegerakan pelimpahannya,” tandasnya.

Dalam berkas perkaranya, ketiga tersangka telah disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 12/1951 tentang Kepemilikan Senpi ilegal. Menurut aturannya, tersangka yang disangkakan dalam aturan Undang-Undang Darurat ini terancam pidana paling berat 20 tahun penjara. (Ant)

Lihat juga...