Rumah Pangan Lestari Desa Taman Sari KWT Mawar

LAMPUNG — Ingin memaksimalkan fungsi lahan pekarangan milik warga Desa Taman Sari Kecamatan Ketapang membuat kaum perempuan di desa tersebut membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT). Mereka berupaya mengoptimalkan fungsi lahan pekarangan sebagai lokasi budidaya sayuran.

Menurut Wasini (40), Ketua KWT Mawar kegiatan ini melibatkan 35 perempuan petani berlatih pola pemanfaatan lahan pekarangan. Pembentukan KWT Mawar mendapat dukungan dari Sutardjo selaku kepala desa setempat.

Pihak desa menyediakan lahan sebagai kebun bibit, demplot untuk penyuluhan lapangan dan pelatihan sekaligus lahan untuk budidaya tanaman obat keluarga (Toga).

Fasilitas kebun bibit tersebut memiliki ruang pembibitan, bak penampungan air sekaligus menjadi sarana untuk belajar anggota kelompok wanita tani dalam budidaya sayuran.

“Kelompok Wanita Tani Mawar didukung dan difasilitasi oleh pihak desa dan tentunya oleh para suami kami karena tujuannya untuk pemberdayaan dan ketahanan pangan keluarga lengkap dengan penyediaan sarana bibit dan prasarana lain,” ujar Wasini saat ditemui Cendana News, Kamis (14/12/2017)

Sarana bibit dari desa diakui Wasini dibagikan berupa benih berbagai jenis sayuran dan prasarana untuk menanam berupa polybag dibagikan merata dengan jumlah rata rata sebanyak 50 polybag ukuran besar.

Benih yang dibagikan merupakan benih semai yang dikembangkan di kebun pembibitan sehingga para anggota KWT Mawar memindahkan berbagai bibit sayuran dalam kondisi siap tanam serentak di setiap rumah.

Pada tahap awal beberapa jenis bibit yang dibagikan berupa bibit cabai merah keriting, cabe rawit, sawi, tomat, bawang merah,terong,selada, pakcoy (sawi sendok), sawi biasa, kangkung serta beberapa jenis sayuran lain.

Sebagai bentuk upaya penyemangat kegiatan KWT Mawar pihak desa bahkan pernah menyelenggarakan lomba anggota KWT yang memiliki tanaman sayuran paling kreatif dan subur serta beberapa kriteria lain dengan hadiah pupuk, polybag dan alat pertanian.

“Pada awal dibentuk sebagian anggota memang sukses memanen sayuran sekaligus kebutuhan bumbu dapur sehingga wanita di desa ini tak perlu harus membeli sayuran,” papar Wasini.

Wasini yang mengembangkan KWT Mawar bahkan menyebut pemanfaatan lahan pekarangan menjadi lokasi menanam sayuran,toga di RT 8 juga mulai diterapkan di sejumlah RT lain yang ada di desa tersebut.

Selain memiliki sisi pemberdayaan sebagian besar ibu rumah tangga merasakan manfaat secara ekonomis dari kegiatan tersebut.

Menjadi Contoh Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari

Menurut Wasini kegiatan menciptakan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) memiliki beragam manfaat,ketersediaan gizi keluarga, penyediaan cadangan pangan, penganekaragaman konsumsi, menyokong ekonomi keluarga serta media edukasi bagi generasi muda.

Kebun pembibitan dan pola pembibitan menjadi sarana belajar siswa PAUD untuk menanam sayuran termasuk mengaplikasikan di setiap rumah bersama para orang tua.

Keterlibatan perempuan dan anak anak dalam memanfaatkan pekarangan diakui Wasini menjadi sarana efektif pembelajaran anak anak sekaligus kegiatan bermain.

Para suami membuatkan rak untuk menempatkan tanaman dalam polybag. Selain berfungsi sebagai media tanam, polybag memiliki fungsi estetika di setiap halaman rumah. Rak rak kayu dengan berbagai jenis tanaman sayuran bahkan menghiasi pekarangan sebagian merupakan inisiatif pemilik rumah.

Anggota KWT Mawar kerpa melakukan inovasi memanfaatkan barang bekas sebagi media tanam. Seorang ibu rumah tangga bernama Tri Warsini (44) menggunakan ember bekas, kantong semen bekas dan ban bekas. Inovasinya membuat ia meraih juara pertama anggota KWT dengan penilaian pemanfaatan barang bekas.

Berkat ketekunan melakukan budidaya media tanam polybag ini, para ibu rumah tangga memperoleh bumbu dapur secara mandiri. Setidaknya mereka bisa mendapatkan sendiri bawang merah, jahe, kunyit serta bumbu lain.

“Sebagian benih dan sarana polybag pada tahap awal mendapat bantuan. Namun setelah beberapa tahun saya juga berinisiatif membeli polybag sendiri sekaligus berkreasi memanfaatkan bahan bekas sebagai media tanam,” cetus Warsini.

Dia menghemat pengeluaran dari pembelian sayuran,bumbu dapur setiap bulan sebesar Rp350.000 hingga Rp500.000. Uang yang dihemat itu dialokasikan untuk penyediaan lauk jenis lain seperti ikan laut dan daging sebab untuk ikan tawar jenis lele.

Kebetulan sang suami juga membudidayakan ikan lele dengan sistem kolam terpal. Sebagian sayuran yang ditanam bahkan mengalami produktivitas melimpah sehingga bisa dijual dan menjadi tambahan pendapatan bagi Tri Warsini dan kaum wanita anggota KWT Mawar.

Sebagian anggota KWT Mawar melakukan panen cabai rawit di salah satu kebun keluarga – Foto: Henk Widi.
Lihat juga...