Sampah dan Abrasi Jadi Ancaman Warga Pesisir Lampung Selatan

Editor: Irvan Syafari

42
Suiman mengumpulkan dan membakar sampah di pantai Minang Rua desa Kelawi yang merupakan sampah kiriman dari wilayah lain /Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Warga desa Ketapang Laut kecamatan Ketapang,Isma (39) tampak mengumpulkan rumput laut yang menepi ke tepi pantai. Akibat dihantam gelombang pasang dalam sepekan terakhir berimbas pada jalur rumput laut dari tali tambang rusak.

Selain rusak oleh terjangan ombak sebagian jalur budidaya rumput laut milik Isma dan sang Suami, Mahmud (40) juga dipenuhi dengan sampah didominasi oleh plastik yang terbawa arus laut dan menyangkut di jalur budidaya rumput laut.

Selain sampah plastik akibat banjir yang melanda dari Sungai Way Sekampung yang merupakan induk dari beberapa sungai seperti Way Pisang, Way Asahan serta sungai lain bermuara ke perairan pantai Timur Lampung, terdapat juga material sampah ranting dan kayu.

Tutur Isma selain mengganggu budidaya rumput laut sampah yang menepi bahkan mengganggu aktivitas nelayan melakukan sandar perahu terutama adanya kayu kayu besar yang menepi terbawa arus.

“Beberapa tahun sebelumnya Pantai Ketapang cukup bersih. Namun akhir akhir ini kiriman sampah dari wilayah lain mengotori pantai ditambah lagi dengan abrasi pantai akibat terjangan air berimbas pada sejumlah pohon di tepi pantai roboh dan menyisakan akar semakin menghabiskan sebagian wilayah pesisir,” papar warga Desa Ketapang Laut, Kecamatan Ketapang sekaligus juga pembudidaya rumput laut di wilayah tersebut saat ditemui Cendana News, Rabu (6/12/2017)

Isma dan warga lain bahkan sedikit terbantu dengan pembangunan tanggul pemecah gelombang yang dibangun untuk melindungi daratan dari terjangan ombak meski penahan gelombang hanya dibangun pada beberapa bagian sementara di wilayah sepanjang Pantai Agro, Desa Legundi, Pantai Puri Dewata, Desa Tridarmayoga.

Sebagian pantai terus terkikis ombak dengan tambahan sampah yang menepi ke pinggir pantai sebagian merusak pemandangan dan bahkan membahayakan terutama jenis sampah terbuat dari kaca yang berpotensi pecah.

Sebagai pembudidaya rumput laut dan warga nelayan pesisir pantai ia mengharapkan warga tidak membuang sampah sembarangan terutama yang tinggal di tepian sungai dan pantai karena imbasnya sangat dirasakan oleh warga yang tinggal di pesisir pantai.

Pasca siklon tropis dahlia menerjang perairan Isma bahkan mengaku dampaknya sampah sampah plastik tersangkut di jalur rumput laut sehingga proses pemanenan dini dilakukan dirinya harus membersihkan sampah yang menyangkut di jalur rumput laut tersebut.

Kondisi lingkungan pantai yang semakin diterjang abrasi gelombang juga terus terjadi di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang dengan jarak daratan dan tepi pantai semula 100 meter. Akibatnya semakin dekatnya perumahan warga dengan bibir pantai hanya sekitar 10 meter.

Amran salah satu pembudidaya rumput laut di Desa Legundi termausk yang kuatir dengan abrasi yang melanda wilayah tersebut. Usulan warga agar diadakan pembuatan tanggul penahan gelombang yang saat ini belum direalisasikan.

“Beruntung ada benteng alam berupa Pulau Kopiah dan Pulau Suling jika tidak ada perumahan kami mungkin sudah disapu gelombang sejak lama,” terang Amran.

Limbah Medis

Sampah yang terbawa arus juga terdampar di wilayah Pantai Minang Rua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni. Menurut Suiman warga setempat pantai yang tadinya bersih menjadi kotor oleh ratusan kubik sampah berbagai jenis didominasi kayu dan sampah plastik.

Ia menyebut sebagian besar sampah tersebut merupakan sampah buangan warga yang dengan sengaja membuang sampah sembarangan beberapa di antaranya dibuang ke sungai.

“Pernah ada sampah dalam bungkus karung isinya limbah medis berupa jarum suntik dan bekas botol obat injeksi yang berbahaya apalagi kawasan pantai kami merupakan lokasi wisata,” terang Suiman.

Selain merusak estetika pantai sebagian sampah yang berbahaya dan mengotori perairan serta pesisir pantai. Proses pembersihan oleh warga secara swadaya membutuhkan waktu yang lama, sebab warga memiliki pekerjaan utama sebagai nelayan.

Dengan kerusakan perahu yang dialami membuat proses perbaikan juga dilakukan sekaligus membagi waktu untuk membersihkan sampah dengan cara mengumpulkan lalu dibakar. Sebagian sampah yang tak bisa terurai selain menimbulkan potensi penyakit diakui Suiman menciptakan kesan pantai yang kumuh.

“Sepintas pengunjung objek wisata ini akan mengira warga tak peduli dengan sampah karena dibiarkan menggunung padahal sampah yang ada merupakan sampah kiriman dari tempat lain,” terang Suiman.

Kiriman sampah sebagian besar merupakan sampah plastik di perairan pantai timur Lampung dan pesisir barat diakuinya masih menjadi pertanda kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya masih rendah.

Sebagian kotak sampah yang diberikan kepada kelompok sadar wisata Minang Rua Bahari dengan jumlah puluhan unit, serok sampah dan plastik tidak sebanding dengan volume sampah.

Volume sampah berpotensi bertambah dengan kondisi cuaca angin kencang dan gelombang tinggi yang memungkinkan sampah kiriman terus bertambah pada kawasan yang berbentuk teluk tersebut.

Isma menjemur rumput laut yang dipanen lebih awal akibat gelombang tinggi sebagian dipenuhi sampah pada jalur penanaman menggunakan tambang /Foto: Henk Widi.

Komentar