Sejumlah Desa di Lamsel Belum Peduli Penyakit Menular

LAMPUNG – Sepanjang tahun 2017 para kader Aisyiyah di Lampung Selatan terus melakukan pendampingan bagi sejumlah penderita penyakit Tuberculosis yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis atau dikenal dengan penyakit TBC.

Menurut Rudi Hartono selaku koordinator program Community TB-HIV Care Aisyiyah Kabupaten Lampung Selatan, pencegahan dan pengobatan penyakit menular harus menjadi kepedulian bagi keluarga, pemerintah desa hingga pemerintah daerah.

Selama ini, ia menyebut, kader Aisyiyah yang ada di Kabupaten Lampung Selatan tersebar di sebanyak 12 kecamatan dengan total kader pada tahun 2017 yang telah diberi pelatihan menjadi relawan atau kader termasuk penanganan pasien yang sudah terkena penyakit TBC dan pendampingan dalam pemberian obat.

Gerakan salam TOSS atau singkatan dari Temukan Obati Sampai Sembuh disebutnya menjadi upaya gerakan masyarakat Indonesia Bebas TB.

“Selama setahun ini kami kader Aisyiyah telah bergerak menyapa setiap warga yang anggota keluarganya terkena TB, suspect TB dengan melakukan pemasangan stiker berwarna merah untuk mendata jumlah pasien TB di setiap desa dan hasilnya kami laporkan ke Puskesmas,” terang Rudi Hartono selaku koordinator program Sub Sub Recepient Community TB-HIV Care Aisyiyah Kabupaten Lampung Selatan saat dihubungi Cendana News, Jumat (29/12/2017).

Kader TB HIV Care Aisyiyah rutin melakukan pendampingan untuk rutin meminum obat kepada pasien melalui anggota keluarga pasien positif TB [Foto: Henk Widi]
Sebagai sebuah penyakit menular melalui udara dari bakteri Mycobacterium tuberculosis, Rudi Hartono menyebut, berdasarkan evaluasi sepanjang tahun 2017 yang dilakukan dalam Advocacy, Communication and Social Mobilization (ACSM) TB HIV Care Aisyiyah Lampung, DPRD Lampung Selatan dan Dinas Kesehatan Lampung Selatan, masih ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh kader dan pemerintah daerah pada tahun 2018 dalam mengatasi TB HIV.

Dalam pertemuan di Hotel Horison awal bulan Desember sekaligus review ACMS TB HIV Care Aisyiyah Lampung dan instansi terkait, Rudi Hartono menyebut, salah satu poin penting yang disepakati adalah mendesak seluruh kepala daerah untuk mengeluarkan peraturan daerah, peraturan bupati atau peraturan walikota dalam upaya penanganan penyakit menular termasuk TB HIV. Sebab selama ini para kader masih terkendala anggaran dan payung hukum dalam penanganan penyakit menular.

Ia bahkan menyebut, komitmen kader TB HIV Aisyiyah dengan adanya SSR Community TB HIV melakukan program Indonesia bebas TB HIV pada tahun 2035 belum mendapat dukungan dari pemerintah desa. Padahal alokasi penggunaan Dana Desa (DD) sangat besar untuk setiap desa. Dari sebanyak 17 kecamatan di Lampung Selatan hanya 12 kecamatan berada di bawah koordinasi 26 Puskesmas yang dilayani oleh para kader.

SSR Community TB HIV Aisyiyah Lampung Selatan sudah berkali-kali mendesak pemerintah daerah dengan melakukan usulan kepada DPRD Lampung Selatan agar membuat dan mengesahkan Perda penyakit menular.

Rudi Hartono memastikan TB HIV Care Aisyiyah Lampung Selatan bahkan sudah melakukan penyerahan draft naskah akademik dari usulan rancangan peraturan daerah penanggulangan penyakit menular kepada anggota komisi D DPRD Lampung Selatan oleh PD Aisyiyah Lampung Selatan.

“Kami sangat berharap pada tahun 2018 minimal di level desa ada kesadaran bagi setiap aparat desa untuk memberikan kepedulian dalam pencegahan penyakit menular dan kepada para kader TB HIV,” beber Rudi Hartono.

Minimnya dukungan pemerintah terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular khususnya TB, disebut Rudi Hartono dengan anggaran yang semakin kecil untuk pemberantasan penyakit TB pada tahun 2016 sebesar Rp222.815.000. Sementara pada 2017 dianggarkan sekitar Rp72.257.000 dan pada tahun 2018 Rudi Hartono belum mendapatkan nilai nominal anggaran untuk pemberantasan TB.

Kecilnya anggaran tersebut disebut Rudi Hartono membuat kader TB HIV Care Aisyiyah hanya mampu mengcover sebanyak 12 kecamatan dari total sebanyak 17 kecamatan yang ada di Lampung Selatan sehingga 5 kecamatan yang belum tercover diserahkan kepada beberapa Puskesmas terdekat dengan kecamatan tersebut dalam upaya penanggulangan TB HIV.

Ia berharap, perhatian pemerintah minimal di tingkat desa bisa ikut mengimbangi capaian pembangunan infrastruktur yang tengah digeber oleh setiap desa. Sementara perhatian dalam bidang kesehatan seperti dianaktirikan dan bahkan menjadi inisiatif dari kader TB HIV Care Aisyiyah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan.

Berdasarkan data kasus TB hingga September 2017 dari sebanyak 300 Case Notification Rate atau angka notifikasi kasus yang ada ditemukan pasien meninggal sebanyak 10 orang di sebanyak 11 kecamatan.

“Kita harapkan pada tahun 2018 angka temuan kasus TB semakin kecil yang sekaligus menjadi indikator penanganan TB berjalan dengan baik,” bebernya.

Sementara itu hingga 2017 capaian penanganan TB HIV sudah cukup meningkat sebanyak 120 persen dengan data dari Dinas Kesehatan kasus penderita HIV tahun 2014 sebanyak 18 kasus, tahun 2015 sebanyak 33 kasus, tahun 2016 sebanyak 26 kasus dan tahun 2017 sebanyak 69 kasus temuan HIV positif.

Kepedulian setiap desa dalam pendataan dan pencegahan penyakit TB HIV termasuk dukungan bagi kader melalui pemberian insentif khusus.

Rudi Hartono (kanan) koordinator program Community TB HIV Care Aisyiyah Kabupaten Lampung Selatan dalam pertemuan ACSM review 2017 SSR Provinsi Lampung [Foto: Ist]
Lihat juga...