Sejumlah Nelayan Lamsel Lakukan Perbaikan Perahu dan Bagan Apung

Editor: Irvan Syafari

35
Sokrim (berdiri) meminta bantuan sesama nelayan untuk mengangkat perahu pada ganjal untuk diperbaiki /Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Sejumlah peralatan mencari ikan nelayan di pesisir barat Lampung Selatan mengalami kerusakan akibat terjangan gelombang tinggi siklon tropis dahlia yang melanda sejak Kamis (31/11) hingga Jumat (1/12). Bencana ini berimbas pada perahu dan bagan nelayan mengalami kerusakan pada beberapa bagian.

Sokrim,salah satu nelayan di Desa Maja Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampun g Selatan bersama rekan rekannya bahkan mulai melakukan perbaikan perahu akibat mengalami kerusakan pada beberapa bagian terutama pada lambung perahu akibat terbentur batu karang.

Perbaikan perahu sebagai sarana mencari ikan diakui Sokrim dilakukan secara gotong royong oleh sebagian nelayan yang memiliki nasib sama dampak gelombang pasang yang menerjang di wilayah tersebut.

Kerusakan perahu tersebut diakuinya dominan pada perahu milik sejumlah nelayan yang belum sempat ditarik ke daratan sehingga terkena hempasan gelombang mengakibatkan benturan dengan perahu lain dan juga batu karang.

“Sebagian nelayan yang sudah mengetahui akan adanya badai langsung menarik perahunya ke darat sehingga tidak terkena hempasan gelombang dan risiko terbentur karang. Sayangnya, ada sebagian nelayan yang saat cuaca buruk tak sempat menarik ke darat akibatnya perahu mengalami kerusakan,” ujar Sokrim warga Desa Maja saat ditemui Cendana News di pesisir Kalianda, Jumat (8/12/2017)

Perbaikan dilakukan oleh nelayan secara swadaya saat kondisi cuaca mulai membaik bahkan hempasan gelombang sudah tidak mencapai bibir pantai pada saat pasang tertinggi.

Perahu nelayan yang kerap dipergunakan untuk mencari ikan di wilayah perairan Selat Sunda dan sekitar Pulau Krakatau dan Pulau Sebesi diakui Sokrim memiliki panjang sekitar 8 meter dan lebar 1,5 meter tersebut sehingga proses mengangkat perahu dalam dudukan atau ganjal perahu membutuhkan bantuan 5 hingga 6 nelayan.

Proses perbaikan perahu tersebut diakuinya bisa memakan waktu sepekan sehingga total dari saat awal cuaca buruk hingga perbaikan perahu dipastikan nelayan yang mengalami kerusakan perahu tidak melakukan aktivitas melaut mencari ikan selama dua pekan.

Tanpa hasil melaut untuk dijual sebagian nelayan terpaksa meminjam uang pada bos pengepul ikan untuk biaya perbaikan sekaligus biaya hidup sehari hari akibat tidak ada hasil.

“Kami meminjam pada toke atau bos ikan bayarnya mengangsur saat mendapat tangkapan terutama pada musim cumi dan teri hutang bisa terbayarkan,” ujar Sokrim.

Sebagian perahu yang mengalami kerusakan di antaranya harus mendapatkan penggantian dinding kapal dari jenis kayu nangkan, kayu tabu dan proses pendempulan hingga proses pengecatan sekaligus hingga seluruh bagian kapal dipastikan tidak mengalami kebocoran.

Dibutuhkan biaya sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta bahkan lebih untuk perbaikan perahu tergantung tingkat kerusakan yang dialami oleh perahu nelayan bahkan sebagian ada yang harus mengalami perombakan total.

Bagi nelayan pemilik modal besar diakuinya bisa memanfaatkan fasilitas tempat perbaikan perahu (docking) dengan sistem sewa tempat dan perbaikan dilakukan oleh tukang.

Namun keterbatasan biaya yang dimiliki nelayan membuat nelayan pemilik perahu rusak melakukan perbaikan secara gotong royong bersama nelayan tradisional lainnya.

Selain kerusakan perahu alat tangkap ikan jenis bagan apung yang mengalami kerusakan juga dialami oleh nelayan di Pantai Minang Rua, Desa Kelawi yang berada di kawasan teluk sehingga sejumlah warga memiliki bagan apung untuk mencari ikan teri.

Ahmad salah satu nelayan pengurus bagan apung menyebut kerusakan bagan apung saat terjadi gelombang tinggi dominan pada bagian tiang penyangga yang terhubung dengan blong atau drum pelampung,lampu dan beberapa bagian kayu serta bambu.

“Kerusakan parah justru terjadi pada bagan yang sedang berada di tepi pantai sebelum ada terjangan siklon tropis dahlia hantaman gelombang justru menghancurkan bagan,” papar Ahmad.

Upaya perbaikan bagan apung segera dilakukan oleh nelayan dengan melakukan penggantian sejumlah peralatan sehingga bagan bisa digunakan kembali meski perbaikan membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Kerusakan pada bagan apung dipastikan membutuhkan biaya perbaikan lebih dari Rp5 juta dengan penggantian kayu, bambu serta beberapa lampu bahkan beberapa pemilik bagan yang mengalami kerusakan parah harus membuat bagan apung baru yang biayanya berkisar Rp40 juta hingga Rp50 juta.

Ahmad dan sejumlah nelayan di wilayah tersebut dipastikan belum melakukan aktivitas melaut sebelum kondisi peralatan tangkap ikan berupa perahu dan bagan apung selesai diperbaiki menunggu pembelian material perbaikan yang dilakukan oleh bos pemilik bagan.

Sejumlah nelayan pemilik perahu jenis katir dengan ukuran kecil dan menggunakan tenaga dayung di wilayah tersebut bahkan sudah kembali beraktivitas karena dengan ukuran yang kecil perahu bisa diangkat ke darat oleh dua orang nelayan sehingga terlindung dari dampak gelombang pasang.

Sebagian perahu yang mengalami kerusakan pada bagian dinding diganti kayu baru dan didempul /Foto: Henk Widi.

Komentar