Selama 2017, LSF Sensor 38.061 Film

JAKARTA – Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia memiliki peran sangat penting dalam dunia perfilman Indonesia. LSF kini dengan paradigma baru yang menerapkan sensor mandiri untuk mendorong masyarakat aktif mengklarifikasi media informasi dan hiburan, terutama perfilman, berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman.

Film yang menjadi tontonan harus diperhatikan masyarakat, sehingga batasan usia penonton yang ditetapkan oleh produsen film dan sudah melalui LSF untuk dapat dipatuhi bersama.

“Selama 2017, terhitung sampai November 2017, kita sudah menyensor 38.061 film, yang terdiri dari 25.540 film nasional, dan sisanya 12.521 film import, ‘ kata Dr. Ahmad Yani Basuki, M.Si, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Periode 2015-2019, kepada Cendana News, melalui telpon, Jumat (29/12/2017) malam.

Lebih lanjut, Pak Yani, sapaan akrabnya, menerangkan, bahwa dari penyensoran ada yang tidak lulus sensor. “Film nasional ada 8, begitu juga dengan film impor sama-sama ada 8,“ terangnya.

Menurut Pak Yani, ada pun materi-materi film yang disensor sesuai dengan klasifikasi umur. “Untuk semua umur sekitar 3.919 film, 13 tahun ke atas 24.213 film, 17 tahun ke atas 9.414 film, dan 21 je atas 455 film,“ paparnya.

Ada pun berdasarkan kategori materi sensor, film bioskop 1.248, acara TV 33.798, palwa (penjualan dan sewa) 2.792, sinetron (sinema elektronik) 223.

Pak Yani mengaku gembira, karena film nasional produktivitasnya meningkat dan jumlah penontonnya semakin naik. “Ini tentu juga kebahagiaan kita semua, agar film nasional juga semakin dikenal di dunia perfilman internasional,“ bebernya.

Saat ditanya perkembangan sensor film sekarang, dengan tenang Pak Yani mengatakan, jika ia melihat sudah semakin timbul kesadaran pada produser dan masyarakat mengenai sensor mandiri. Seperti pada produser yang sudah melakukan sensor mandiri sebelum film yang diproduksi tayang, sehingga sensornya sedikit.

“Begitu juga dengan masyarakat yang sudah menerapkan sensor mandiri, baik ketika menonton film di bioskop, maupun terlebih lagi di rumah”, katanya.

LSF yang usianya kini sudah seabad lebih sebagai lembaga sensor telah menyiratkan banyak hal di dunia perfilman dalam kehidupan bangsa dan negara. Banyak hal yang mampu dilakukan sebuah film terhadap keberlangsungan umat.

“Perjalanan panjang LSF, memiliki peran besar dalam menyiratkan kaitan film dalam kehidupan bangsa dan negara,” tegasnya.

Peran film dalam masyarakat tak hanya sebatas hiburan saja, namun juga berkaitan dengan unsur edukasi. “Kedua hal tersebut takkan pernah lepas dan bakal terus beriringan. Bahwasannya film memang memiliki peran dalam meningkatkan taraf kehidupan bangsa, baik dari peningkatan kecerdasan serta alat penetrasi kebudayaan,“ tandasnya.

Sekarang, LSF telah berkomitmen akan selalu bertugas sesuai kapasitasnya, yakni memberikan regulasi bagi film-film yang bakal tayang di Indonesia. Hal itu dilakukan sebagai wujud komitmennya terhadap industri perfilman Tanah Air.

Keberadaan LSF merupakan wujud komitmen kehadiran negara dalam melindungi masyarakat dari hal negatif dalam film melalui sensor. Hakekatnya setiap orang sudah memiliki sensor mandiri dalam dirinya, sensor mandiri yang ditekankan LSF sekarang ini adalah sensor yang alami dari diri sendiri.

Lihat juga...