Sembilan Desa di Sikka Alami Rawan Pangan Kronis

MAUMERE — Hasil analisa oleh dinas Ketahanan Pangan melalui Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) sebagai alat untuk menunjukan lokasi yang tahan atau rentan pangan yang digunakan untuk perencanaan janka manengah terhadap penanggulangan kerawanan pangan kronis ditemukan 9 desa di kabupaten Sikka alamai rawan pangan kronis.

“Kerawanan pangan kronis adalah ketidakmampuan jangka panjang atau terus menerus untuk memenuhi kebutuhan pangan minimum. Keadaan ini biasanya terkait dengan faktor struktural yang tidak dapat berubah dengan cepat seperti iklim setempat, jenis tanah, sistem pemerintahan daerah, infrastruktur publik, kepemilikan lahan, distribusi pendapatan, hubungan antar etnis, tingkat pendidikan dan lainnya,” ujar Ir.Mauritius T.da Cunha Sabtu (9/12/2017).

Produksi dan ketersediaan pangan yang cukup di tingkat wilayah kabupaten Sikka kata Mauritius, tidak secara otomatis menjamin ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga dan individu. Pangan tersedia dan dapat diakses namun sebagian anggota rumah tangga tidak mendapat mengakses secara maksimal.

“Banyak faktor dapat mempengaruhi kerentanan rumah tangga terhadap kerawanan pangan yang dikelompokkan menurut keterkaitannya dengan tiga dimensi ketahanan pangan yaitu ketersediaan pangan, akses pangan serta pemanfaathn zat-zat dalam pangan,” terangnya.

Dari penelusuran tersebut, desa yang masuk dalam prioritas pertama adalah desa-desa yang cenderung memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi dari pada desa dengan prioritas kedua dan ketiga. Sementara desa prioritas 4 adalah desa-desa yang cenderung tahan pangan,” bebernya.

Kepala dinas Sosial kabupaten Sikka Emmy Laka,SH. Foto : Ebed de Rosary

Berdasarkan analisis komposit ketahanan pangan, desa di kabupaten sikka dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok prirotas dimana 9 desa pada prioritas satu atau 5,6 persen, 16 desa prioritas dua dengan presentase 10 persen, 45 desa pada prioritas tiga dengan 29,1 Persen serta 90 desa pada prioritas empat atau 56,25 persen.

Kepala dinas Sosial kabupaten Sikka Mony Lusia Laka, SH menyebutkan, ketersediaan pangan wilayah kabupaten Sikka sampai dengan Desember 2017 sebesar 70.143,313 ton equivalen beras atau bisa dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun 2017.

Kebutuhan konsumsi masyarakat ungkap Emmy sebesar 60.824 atau kelebihan sebesar 9.310,313 ton equivalen beras. Namun ketersediaan pangan yang cukup di tingkat wilayah kabupaten tidak secara otomatis menjamin ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga dan individu.

“Intervensi bantuan pangan untuk mengatasi kekurangan pangan yang dialami oleh kepata keluarga tani sudah dilakukan pada 80 desa dengan jurnlah KK sasaran 13.238 dan jumlah beras sebanyak 96,113 ton,” paparnya.

Selain di dinas Sosial dan dinas Ketahanan Pangan terang Emmy, BPBD Sikka juga memiliki kemampuan untuk melakukan intervensi bila ditemukan adanya rawan pangan di amsyarakat yang diakibatkan oleh berbagai faktor termasuk adanya bencana alam seperti angin kencang dan banjir yang sering terjadi.

Lihat juga...