Sepanjang 2017 Tiga Kasus Penipuan Besar Terjadi di Solo

SOLO — Polresta Solo, Jawa Tengah, hari ini menggelar evaluasi terhadap kasus yang ditangani selama satu tahun terakhir. Setidaknya terdapat tiga kasus besar yang menjadi perhatian serius Polresta Solo di 2017. 

Tiga kasus besar ini adalah tindak  pidana penipuan dengan berbagai modus. Di antaranya, kasus penipuan yang dilakukan Hannien Tours, sebuah biro umroh di Solo yang telah melakukan penggelapan sekaligus penipuan terhadap nasabahnya. Kasus biro umroh ini melibatkan 1.800 korban yang tersebar di 10 kota di Indonesia.

“Total kerugian yang diakibatkan oleh Hannien Tours ini mencapai Rp37,8 miliar. Di Solo ada 369 korban dengan kerugian sekitar Rp7,7 miliar,” ujar Kapolresta Solo, Kombes Ribut Hari Wibowo, di sela gelar kasus evaluasi akhir tahun 2017, Jumat (29/12/2017).

Dijelaskan, 10 kota di Indonesia yang digunakan Hannien Tours beroperasi di antaranya cabang Surabaya, Tasikmalaya, Bandung, Jakarta Timur, Cibinong, Makasar, Pekan Baru Riau dan Tangeran.

Dari kasus penipuan berkedok promo umroh itu, polisi berhasil menahan dua pelaku, yakni Farid selaku Direktur Hannien Tour dan Avianto selaku Direktur Keuangan. “Kedua tersangka dijerat pasal 378 dan atau 372 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara,” papar Kapolresta.

Selain kasus Hannien Tour, kasus penipuan investasi emas yang dilakukan dua tersangka yang telah diamankan Polresta Solo. Kasus penipuan investasi emas yang dilaporkan korbannya di Solo mencapai 35 orang. Total kerugian dari investasi emas bodong itu mencapai Rp111 milliar.

Sedangkan kasus penipuan yang ketiga adalah, kasus undian hadiah palsu yang  total kerugiannya sekitar Rp750 juta. Ketiga kasus penipuan itu termasuk kasus yang cukup besar yang ditangani Polresta Solo selama 2017, dengan jumlah korban yang banyak serta modus operandi yang baru.

“Untuk ketigas kasus penipuan di atas, selain dikenakan pasal  yang disangkakan, kita  juga kenai pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU). Ini agar memberikan efek jera bagi pelaku dan jadi perhatian bagi yang lain, agar tidak berani coba-coba. TPPU ini  untuk memberikan rasa keadilan, karena telah merugikan orang dalam jumlah banyak,” tandasnya.

Di samping kasus penipuan, Polresta Solo juga menyebutkan jumlah penyelesaian kasus selama 2017 naik dibanding 2016. Yakni dari 851 kasus yang ada, 594 kasus dapat terselesaikan. Sementara di 2016, terdapat 1.054 kasus, dan yang dapat diselesaikan sebanyak 559 kasus.

“Ada penurunan tindak kriminalitas selama 2017. Sedangkan  tingkat penyelesaian kasus meningkat sekitar 16 persen,” imbuh Kapolresta.

Sementara untuk kasus narkoba mengalami peningkatan dari  133 kasus di 2016, naik menjadi 158 kasus di 2017. Untuk pemberantasan premanisme, selama setahun ini petugas berhasil menangkap 2.161 orang.

“Dari jumlah itu, yang kita proses hingga tipiring (tindak pidana ringan) mencapai 1.082 orang. Tentu ini merupakan salah satu prestasi dari kerja keras  personel Polresta Solo,” pungkasnya.

Lihat juga...