Siswa SDN 2 Bandar Agung Lamsel Ujian Semester dalam Kepungan Banjir Rob

Editor: Irvan Syafari

49
Rubangi salah satu guru kelas SDN 2 Bandar Agung memperlihatkan halaman sekolah terimbas banjir rob laut /Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Ratusan siswa SDN 2 Bandar Agung dusun Kuala Jaya desa Bandar Agung Kecamatan Sragi melakukan aktivitas ujian semester, sekalipun di tengah kepungan banjir rob.

Banjir itu berasal dari muara Sungai Way Sekampung sejak Minggu (3/12) dan terus menerjang hingga Kamis (7/12) melanda sekolah,ratusan rumah warga dan juga puluhan hektare tambak udang vaname dan windu di wilayah tersebut.

Menurut Rubangi (40), Wali Kelas Empat SDN 2 Bandar Agung banjir rob yang terjadi setiap Desember memasuki halaman sekolah. Untungnya sejak dua tahun terakhir tidak masuk ke ruangan paska bangunan pondasi ditinggikan.

Rubangi memastikan kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan sebanyak 11 guru, kepala sekolah dan penjaga sekolah tersebut tidak terganggu terutama selama ujian semester berlangsung.

Terlebih aktivitas belajar mengajar dilakukan dalam waktu singkat dengan ujian mata pelajaran, selanjutnya siswa dipulangkan berbeda dengan hari biasa. Meskipun demikian kondisi banjir rob yang selalu naik sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB dikuatirkan mengganggu aktifitas siswa.

“Banyak orangtua yang antar jemput anaknya sekolah karena kuatir dengan ketinggian air mencapai selutut orang dewasa pada saat pasang tertinggi sementara di beberapa bagian ada selokan serta genangan air membahayakan siswa,” beber Rubangi salah mendampingi Endang Sudaryat selaku kepala sekolah, Kamis (7/12/2017).

Rubangi menyebut banjir rob semula merendam kelas dan ruang guru. Namun dengan konstruksi yang diubah maka banjir rob dalam beberapa tahun terakhir hanya merendam halaman sekolah. Sekolah terpaksa membuat tanggul penahan yang berfungsi melindungi halaman sekolah dari terjangan banjir dan sekaligus menjadi akses jalan bagi siswa.

Sebanyak 177 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 diakui Rubangi terpaksa melakukan aktivitas di kelas dengan lantai keramik sebagian menggunakan alas kaki. Sementara sebagian siswa melepas alas kaki akibat lingkungan sekolah tergenang air.

Lumpur mengotori lantai sekolah yang kerap dibersihkan oleh penjaga sekolah seusai aktivitas belajar mengajar berlangsung. Banjir rob diakuinya masih akan berlangsung hingga tiga pekan ke depan dan terjadi saat pagi hingga siang hari selanjutnya surut saat sore hari.

Akibat banjir rob pasang air laut yang melanda perkampungan dan sekolah puluhan siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 berasal dari seberang sungai Way Sekampung yang masuk wilayah kabupaten Lampung Timur bahkan harus diantar jemput oleh orangtua menggunakan perahu.

Siswa dipulangkan lebih awal sebelum pasang tertinggi mencapai areal sekolah. Sebagian guru bahkan diakui Rubangi memarkirkan kendaraan di lokasi berjarak sekitar satu kilometer dilanjutkan berjalan kaki menghindari terjebak banjir rob dengan kondisi jalan yang tak bisa dilintasi kendaraan roda dua.

“Kami memarkirkan kendaraan di jembatan hitam lokasinya satu kilometer dari sekolah dengan pengalaman setelah jam sembilan air semakin meninggi bahkan tambak dan jalan sejajar menjadi seperti lautan jalan tidak terlihat meski kami harus jalan kaki di tanggul tambak,” papar Rubangi.

Kondisi banjir rob yang melanda sekolah di perbatasan Lampung Timur dan Lampung Selatan dan berada di dekat muara Sungai Way Sekampung dan menghadap ke pantai timur Lampung tersebut diakui Rubangi telah dilaporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan.

Sebelumnya sekolah tersebut bahkan mengalami bencana angin puting beliung pada 2016 dan mengalami kerusakan pada bagian atap bangunan dan mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Rainah guru kelas 3 SDN 2 Bandar Agung dusun Kuala Jaya mengajar di kelas dalam kondisi sekolah terimbas banjir rob /Foto: Henk Widi.

Hal senada juga diungkapkan Rainah (34) salah satu guru wanita asal Tangerang yang mengabdi sebagai guru kelas 3 di SDN 2 Bandar Agung. Menurut dia puncak rob tertinggi terjadi pada Desember mengakibatkan aktivitas masyarakat di wilayah tersebut terganggu terutama kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Kami anjurkan siswa tidak bermain di tepi sungai Sekampung karena kondisi banjir rob kerap berbahaya dan kepada para orangtua kami selalu anjurkan mengawasi anaknya agar berada di dalam rumah selama banjir rob terjadi,” terang Rainah.

Seperti guru lain yang tinggal di luar wilayah Bandar Agung dan harus keluar dari wilayah tersebut ia dan sebagian guru harus terpaksa berjalan sekitar satu kilometer di lokasi parkir kendaraan roda dua.

Dia kuatir justru terjebak banjir rob jika menggunakan kendaraan hingga ke sekolah. Ia berharap banjir rob segera berakhir dan aktivitas siswa bisa berjalan dengan normal dengan lingkungan sekolah bebas dari genangan air.

Kondisi lingkungan sekolah terdampak banjir rob /Foto: Henk Widi.

Komentar