Siti Sundari, Saksi Hidup Kebiadaban PKI

JAKARTA – Siti Sundari, menjadi salah seorang saksi kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia bersama H. Makdiyah, ibunya, menyaksikan sendiri H. Maksum, ayahnya, dianiaya PKI. Ayahnya ditembak pantat, perut dan kepalanya sampai mati. Kejadiannya di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademayan, Kebupaten Blitar, sekitar bulan Ramadhan 1967.

“Siti Sundari juga menyaksikan Masrukin, saudaranya, diikat tali bambu di kedua ibu jarinya,“ kata Dr. Sulistyowati, S.H., M.H., Koordinator Tim Advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah (YMPS), kepada Cendana News, di Ruang Asmara Nababan, Gedung Komnas HAM, Jl. Latuharhari No.4B, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.

Tak hanya itu, katanya, perhiasan Siti Sundari juga dirampas. “Laporan Siti Sundari ini kita terima sebagai salah satu sumber primer berkas aduan kita pada Komnas HAM,“ tegas Sulistyowati.

Lebih lanjut, Sulistyowati menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas pemutarbalikkan fakta dari peristiwa sejarah oleh para simpatisan PKI berakibat membuka kembali luka sejarah atas peristiwa pembantaian anggota masyarakat.

“Dan, mengabaikan fakta peristiwa anggota masyarakat yang dibunuh secara sadis dan biadab dengan PKI sebagai pelaku”, ungkapnya.

Sulistyowati mengecam keras upaya sejumlah pihak yang telah berupaya untuk mengungkit-ungkit sejarah kelam bangsa Indonesia di masa lalu. “Adanya upaya untuk menghilangkan kondisi yang sebenarnya terjadi dengan dalih untuk meluruskan sejarah”, bebernya.

Tim Advokasi YMPS menilai langkah sejumlah pihak yang mengungkit-ungkit peristiwa masa lalu dengan dalih untuk meluruskan sejarah tanpa mau melihat sebab awalnya peristwa sejarah kelam itu terjadi, adalah merupakan pelanggaran terhadap HAM.

“Kami juga menilai banyaknya keluarga dari anggota masyarakat yang dibunuh secara keji dan sadis serta masih adanya anggota masyarakat yang hidup atas tindakan biadab di luar rasa batas kemanusiaan oleh PKI, adalah merupakan korban yang harus dilindungi martabat, kehormatan juga hak azasi manusianya,“ tegasnya.

Beberapa Pejabat Komisioner dari Komnas HAM menerima dengan positif pengaduan para advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah. Komnas HAM berjanji akan memproses secepatnya.

Lihat juga...