Sopir Pete-pete Ini Bertahan di Tengah Kendaraan Online

MAKASSAR – Ismail, di usia yang mencapai 60 tahun, tetap bersemangat mencari nafkah sebagai sopir angkot. Di usia yang bisa dikatakan senja, Ismail masih tetap membawa mobil angkot atau orang Makassar menyebut dengan nama pete-pete. Dengan rute trayek kampus Universitas Negeri Makassar, A. Pettarani, dan Universitas Hasanudin, setiap hari Ismail melayani penumpang dengan setia.

Ismail, kelahiran kota Banggai Luwuk ini, datang merantau ke Makassar dari tahun 1990. Semenjak itu Ismail menjadi sopir angkot. Namun saat itu pria kelahiran 1947 ini masih menjadi seorang sopir tembak. Hingga pada tahun 1995 Ismail sanggup membeli mobil pete-pete sendiri.

Ismail menceritakan, sejak tahun 1990 itu pula ia menetap di ibukota Sulawesi Selatan, Makassar, dan langsung berprofesi sebagai sopir.

“Saya memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga dengan menjadi sopir pete-pete. Mencari kebutuhan hidup dari hasil narik pete-pete,” demikian salah satu cerita Ismail sembari mengemudikan mobil pete-pete, belum lama ini.

Suasana pete-pete Ismail yang hanya membawa seorang penumpang. Foto: Nurul Rahmatun Ummah

Mulai dari uang makan sehari-hari sampai uang menyekolahkan anak-anaknya, Ismail mengandalkan pete-pete tersebut. Akan tetapi, belakangan ada yang membuat resah hati  warga yang kini tinggal di daerah Tidung, Kelurahan Tamalanrea tersebut. Keresahan itu akibat munculnya kendaraan berbasis online yang kini membuat pendapatan Ismail berkurang signifikan.

Kejayaan pete-pete ini mundur, tidak hanya tersebab munculnya kendaraan berbasis online. Di sisi lain, orang juga sudah banyak yang beralih menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan menurut pandangan bapak 3 anak ini, setiap tahun pengguna kendaraan pribadi justru mengalami peningkatan. Itulah yang membuat banyak orang tidak berminat dengan kehadiran pete-pete.

Lihat juga...