Sopir Pete-pete Ini Bertahan di Tengah Kendaraan Online

Editor: Satmoko

86
Ismail, sopir pete-pete. Foto: Nurul Rahmatun Ummah

MAKASSAR – Ismail, di usia yang mencapai 60 tahun, tetap bersemangat mencari nafkah sebagai sopir angkot. Di usia yang bisa dikatakan senja, Ismail masih tetap membawa mobil angkot atau orang Makassar menyebut dengan nama pete-pete. Dengan rute trayek kampus Universitas Negeri Makassar, A. Pettarani, dan Universitas Hasanudin, setiap hari Ismail melayani penumpang dengan setia.

Ismail, kelahiran kota Banggai Luwuk ini, datang merantau ke Makassar dari tahun 1990. Semenjak itu Ismail menjadi sopir angkot. Namun saat itu pria kelahiran 1947 ini masih menjadi seorang sopir tembak. Hingga pada tahun 1995 Ismail sanggup membeli mobil pete-pete sendiri.

Ismail menceritakan, sejak tahun 1990 itu pula ia menetap di ibukota Sulawesi Selatan, Makassar, dan langsung berprofesi sebagai sopir.

“Saya memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga dengan menjadi sopir pete-pete. Mencari kebutuhan hidup dari hasil narik pete-pete,” demikian salah satu cerita Ismail sembari mengemudikan mobil pete-pete, belum lama ini.

Suasana pete-pete Ismail yang hanya membawa seorang penumpang. Foto: Nurul Rahmatun Ummah

Mulai dari uang makan sehari-hari sampai uang menyekolahkan anak-anaknya, Ismail mengandalkan pete-pete tersebut. Akan tetapi, belakangan ada yang membuat resah hati  warga yang kini tinggal di daerah Tidung, Kelurahan Tamalanrea tersebut. Keresahan itu akibat munculnya kendaraan berbasis online yang kini membuat pendapatan Ismail berkurang signifikan.

Kejayaan pete-pete ini mundur, tidak hanya tersebab munculnya kendaraan berbasis online. Di sisi lain, orang juga sudah banyak yang beralih menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan menurut pandangan bapak 3 anak ini, setiap tahun pengguna kendaraan pribadi justru mengalami peningkatan. Itulah yang membuat banyak orang tidak berminat dengan kehadiran pete-pete.

Menurut Ismail, kejayaan pete-pete dirasakannya ketika era 1990-an, setiap jalan yang dilewati pasti ada saja penumpang yang menunggu.

“Memasuki era 2000-an apalagi ketika kebijakan BBM naik diberlakukan SBY, sampai kebijakan Jokowi yang tidak ketat dengan angkutan berbasis online, kian memperparah kemunduran angkutan pete-pete,” sergah Ismail.

Meski begitu, ia bersyukur, dari hasil menjadi sopir pete-pete ia berhasil menjadikan dua anak sarjana. Di usia yang tidak lagi muda, semangatnya tetap tidak pernah surut dalam mencari rezeki. Hal ini dibuktikan dalam setiap hari Ismail tetap mampu 6 sampai 8 kali tracking untuk mencari penumpang.

Beda dengan dulu, Ismail mampu memiliki sisa uang untuk ditabung bagi keperluan anak-anaknya sekolah. Sekarang, walaupun melakukan tracking 6 sampai 8 kali, Ismail hanya mampu mendapat Rp80.000.  Itu pun cuma tergolong sedikit. Ibarat hanya untuk membayar pajak saja dan membeli uang bensin. Jika sedang ramai atau beruntung, Ismail mampu mendapat Rp150.000.

Harapan laki-laki tamatan SMP ini, ke depan pemerintah lebih memperhatikan keberlangsungan para sopir pete-pete yang semakin terancam di tengah kendaraan berbasis online yang begitu gencar seperti saat ini.

“Saya tahu rezeki memang sudah ada yang mengatur. Tapi, saya sangat berharap agar pemerintah bisa lebih memperhatikan keberlangsungan sopir pete-pete seperti saya,” pungkasnya.

Komentar