SSB Armundo Lahirkan Bibit Berprestasi Sepakbola dari Level Kampung

Editor: Irvan Syafari

39
Sigit Suryanto (paling kanan) bersama siswa didiknya kelas anak anak di Sekolah Sepak bola Armundo /Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Nama dan kiprah Sekolah Sepak Bola (SSB) Armundo di desa Sumur kecamatan Ketapang cukup dikenal di kabupaten Lampung Selatan dengan kiprahnya dalam berbagai kompetisi cabang olahraga sepak bola tingkat kabupaten hingga Provinsi Lampung.

Sigit Suryanto (34), selaku pelatih menyebut awalnya SSB Armundo dibentuk untuk mendidik siswa sekolah dari usia SD, SMP, SMA pehobi olahraga sepak bola di pedesaan atau kampung. Tujuannya melahirkan bibit atlet sepak bola berprestasi dengan dasar dasar dan tekhnik permainan sesuai standar nasional.

Sesuai namanya, SSB Armundo menurut Sigit Suryanto merupakan akronim dari Anak Remaja dan Pemuda Indonesia yang dibentuk untuk memberi semangat bagi siswa yang ingin secara khusus menekuni cabang olahraga sepak bola secara profesional.

SSB ini resminya didirikan pada 2014 oleh beberapa orang yang berniat memajukan olahraga sepakbola dari tingkat kampung atau desa. Pada awal dibentuk Sigit mengaku harus menyebarkan brosur untuk menarik minat siswa yang ingin belajar sepak bola secara profesional dan mulai mendapat sebanyak 25 murid.

“Demam sepakbola didukung dengan adanya piala dunia,liga Indonesia serta kompetisi sepak bola nasional dan internasional. Namun di kampung saat itu belum ada wadah atau organisasi untuk berlatih sepak bola secara profesional seperti sekolah sepak bola yang sudah banyak berdiri di beberapa kota besar,” ujar Sigit Suryanto yang ditemui Cendana News baru baru ini.

Pada awal dibentuk menurut Sigit Suryanto, SSB Armundo yang ada di Desa Sumur Kecamatan Ketapang Lampung Selatan tersebut tidak memiliki lapangan yang memadai sehingga kerap melakukan latihan di lapangan desa Bakauheni.

SSB Armundo tidak membatasi asal siswa dan terbuka bagi sejumlah siswa dari kecamatan Ketapang serta Bakauheni dan beberapa wilayah lain. Antusiasme siswa bahkan diperlihatkan dengan kesiapan kostum serta perlengkapan sepak bola termasuk sepatu yang memadai untuk latihan.

Ia menyebut pada angkatan pertama SSB Armundo dibentuk di antaranya merupakan siswa usia SD hingga SMA. Pengelompokan dilakukan dari usia di bawah 15 tahun masuk kelas anak anak. Sementara untuk usia di atas 16 tahun masuk kelas junior.

Pengelompokan ini memudahkan proses latihan dan sekaligus membentuk tim kesebelasan berdasarkan usia yang diikutkan dalam beberapa kompetisi cabang olahraga sepak bola.

Sebagai salah satu guru honorer di SMP PGRI 1 Ketapang Sigit yang menggunakan waktu luangnya melatih anak didiknya di SSB. Armundo sudah mendapat lisensi nasional baik sebagai wasit maupun sebagai pelatih.

Secara akademis kemampuannya dalam melatih sudah diakui oleh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai induk cabang olahraga sepak bola di Indonesia. Bekal tersebut menjadi penyemangat anak didiknya untuk dilatih Sigit yang sudah mumpuni dalam  sepak bola.

Hingga angkatan tahun 2017 Sigit menyebut anak didiknya tetap berjumlah sekitar 30 siswa yang rutin berlatih sesuai jadwal pada setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu dimulai sekitar pukul 15.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Materi yang diajarkan berupa teori, pemanasan, teknik dasar pada hari Selasa dan pada Kamis dilakukan ujian praktik dengan melakukan pertandingan (sparing partner) antara tim anak anak dan tim junior.

Sementara pada hari Sabtu selain latihan strategi permainan juga dilakukan pertandingan dengan pemain dari kesebelasan lain di Bakauheni yang diisi oleh pemuda setempat.

Dibantu oleh asisten pelatih Yudi Saputra, SSB Armundo kerap berpartisipasi dan diundang terlibat dalam beberapa kompetisi. Kesempatan ini digunakan untuk mengasah kemampuan bertanding dengan kesebelasan dari beberapa SSB lain di Lampung Selatan.

Di antaranya dengan mengikuti gelaran Kembar Intan Cup, Karang Taruna Cup, HUT RI Cup, Piala Kemenpora Zona II Kabupaten Lampung Selatan dan beberapa kompetisi lain antar kabupaten.

Beberapa hasil selama mengikuti kompetisi diantara yang diikuti anak didiknya diakui Sigit meliputi sukses menyabet juara II, di antaranya Juara III Piala Kemenpora Cup Zona II dengan perolehan trophy dan uang pembinaan.

“Beberapa event menjadi sebuah upaya kita menjajal kemampuan. Memang terkadang kalah, tetapi itu justru menjadi pemacu sekaligus evaluasi kekurangan tim atau SSB kita dibandingkan kesebelasan lain, sehingga bisa mengatur strategi untuk pertandingan lain,” ungkap Sigit.

Pada awal tahun SSB Armundo juga berencana akan mengggelar kompetisi antar SSB untuk mengasah kemampuan menghadapi Piala Kemenpora 2018 sehingga antar klub bisa mempersiapkan timnya dengan matang.

Kompetisi yang akan digelar di Lapangan Bangunrejo kecamatan Ketapang tersebut diakui Sigit sekaligus menjaring bibit atlet berprestasi dalam bidang olahraga sepak bola dari generasi muda.

Regenerasi Pelatih dan Wasit Melalui SSB

Sigit menyebut dengan mengikuti beberapa pertandingan para siswa didiknya sekaligus bisa mengetahui kemampuan tim lawan serta kehandalan setiap pemain termasuk bagaimana pelatih dan wasit memainkan peran masing masing.

Sebagai seorang pelatih berlisensi Sigit bahkan tak ingin hanya dirinya yang memiliki kemampuan melatih dan mewasiti dengan lisensi yang ada sehingga ia juga melakukan upgrade beberapa siswa senior agar bisa menjadi pelatih dan mengambil lisensi.

Beberapa anak didik seperti Adi Sujana, Trigia,Indra sebagai pemain dan Tariq Azis sebagai kiper yang ditarik untuk memperkuat tim Persilas salah satu tim kesebelasan Lampung Selatan yang kerap mewakili Lampung Selatan dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) cabang olahraga sepak bola.

Selain itu wakil dari SSB Armundo juga ditarik untuk membela Tim Lamsel dalam Piala Kemenpora tingkat provinsi dari beberapa zona selanjutnya diikutkan dalam piala Nusantara tingkat nasional.

“Prestasi merupakan tujuan tapi bukan satu satunya tujuan utama karena SSB Armundo dibentuk dengan tujuan mendidik siswa agar mengenal sepak bola dengan benar dari tahap dasar,” ujar Sigit yang berasal dari Kebumen tersebut.

Upaya upgrade dari siswa menjadi wasit, pelatih profesional. Regenerasi perlu dilakukan sebab usia bisa menjadi patokan dalam sebuah tim sepak bola sehingga generasi yang sebelumnya harus bisa menularkan ilmunya ke generasi selanjutnya tak terkecuali sebagai pelatih.

Sigit juga berharap jika dirinya kelak sudah tak menjadi pelatih akan muncul dari SSB Armundo pelatih yang juga memiliki lisensi.

Para orangtua mendukung dalam iuran bulanan untuk sekolah sepakbola dengan hanya Rp20.000 yang peruntukannya dipakai sebagai biaya perawatan lapangan desa atas kesepakatan pemuda desa dan kepala desa serta sisanya dipergunakan untuk membeli peralatan latihan, baju tim dan biaya operasional lainnya.

Keterbatasan lapangan di mana Lapangan Sepak Bola Pegantungan menjadi satu satunya lapangan sepakbola yang ada di Desa Bakauheni tak menyurutkan Sigit dan anak didiknya di SSB Armundo untuk terus berlatih menekuni sepak bola.

Selain bertujuan melatih anak didiknya menjadi atlet cabang olahraga sepak bola ia mengaku kegiatan SSB Armundo menjadi wadah mengisi kegiatan waktu luang saat sore hari dengan kegiatan positif.

Para siswa yang memiliki ketertarikan khusus pada dunia olahraga selepas SMA diarahkan ke Sekolah Tinggi Olahraga (STO) di Metro, sehingga ke depan bisa menjadi guru olahraga, pelatih serta wasit profesional sehingga regenerasi atlet olahraga sepak bola bisa dilakukan.

Latihan mengontrol bola /Foto: Henk Widi.

Komentar