Sub Distributor: Penjualan Elpiji Melon di Penengahan Masih Normal

LAMPUNG — Meski masyarakat di sejumlah wilayah mengeluhkan kelangkaan dan mahalnya gas melon, namun pemilik pangkalan atau sub distributor di wilayah Penengahan mengklaim tidak mengalami kenaikan harga dan kelangkaan.

Roby Nurohman salah satu pemilik pangkalan di Desa Klaten Kecamatan Penengahan menyebutkan, rata rata setiap pengecer meminta sebanyak 10 hingga 15 tabung gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram untuk dijual kembali.

Roby bahkan mengaku heran dengan kelangkaan gas elpiji bersubdisi di beberapa kecamatan di Lampung Selatan sehingga konsumen harus mencari di daerah lain serta berimbas aksi ambil untung dilakukan oleh pedagang pengecer dengan alasan pasokan gas tidak lancar.

Dari sebanyak 20 pengecer lebih yang dipasoknya ia menyebut dari level pangkalan belum menaikkan harga sehingga pedagang pengecer tetap menjual tabung gas elpiji dengan harga normal.

“Beberapa masyarakat memang panik mendengar informasi di sejumlah wilayah terjadi kelangkaan namun di area saya belum ada kelangkaan dan sejumlah pedagang tetap menjual harga normal,” terang Roby Nurrohman saat ditemui Cendana News tengah mengirim tabung gas subsidi di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Minggu (10/12/2017)

Roby menyebut sejak awal tahun pangkalan miliknya yang mendistribusikan tabung gas elpiji mendapatkan kuota sebanyak 560 tabung ukuran 3 kilogram bersubsidi dan sebanyak 370 tabung ukuran 5,5 kilogram non subsidi. Harga yang dijualnya juga masih standar dengan harga Rp19.000 per tabung sehingga pengecer sebagian menjual dengan harga Rp20.000 hingga Rp22. 000 pertabung.

Koirun salah satu karyawan di pangkalan Roby bahkan menyebut saat dirinya mengirim ke sejumlah wilayah pernah dicegat oleh sejumlah pengecer dari kecamatan lain untuk membeli gas elpiji dari pangkalan tersebut dengan harga lebih tinggi berkisar Rp22.000 hingga Rp23.000. Mereka beralasan di wilayah Bakauheni harga gas di level pengecer bisa mencapai Rp25.000 bahkan di Pulau Rimau Balak yang berada di dekat Bakauheni bisa mencapai Rp30.000 per tabung.

“Kuat dugaan memang sebagian tabung gas elpiji peruntukannya bukan hanya untuk memasak oleh rumah tangga miskin sesuai dengan peruntukan tabung gas elpiji bersubsidi sehingga kerap habis,” beber Koirun.

Ia menyebut sistem distribusi yang lancar dan stok yang mencukupi sesuai dengan kuota yang ditetapkan membuat harga tabung gas elpiji di wilayah tersebut masih stabil dengan maksimal Rp23.000 untuk tabung gas ukuran 3 kilogram dan Rp75.000 untuk tabung gas ukuran 5,5 kilogram.

Lihat juga...