Sulap Barang Bekas jadi Miniatur Mainan

BANJAR – Barang bekas atau limbah aneka produk elektronik maupun otomotif biasanya hanya dibuang, dijual, dan tidak memiliki nilai ekonomis tinggi.

Namun di tangan seorang lelaki tua asal Kota Banjar, Jawa Barat, barang-barang bekas tersebut, mampu disulap menjadi berbagai macam aneka mainan dan barang-barang berharga serta bernilai ekonomi, seperti miniatur kereta api, motor, tank baja, dan lain-lain.

Setiap miniatur dibuat dengan detail dan penuh ketelitian. Seluruh ornamen yang ada pada miniatur dibuat lengkap, mulai dari mesin hingga perlengkapan lainnya. Sekilas menyerupai bentuk asli dari kendaraan yang ditiru.

Di tangan Taming (73), warga di Lingkungan Gudang, RT 03, RW 01, Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, barang-barang tersebut bisa memiliki nilai ekonomi tinggi. Sudah sejak tahun 2000, Taming menggeluti usaha kerajinan berupa aksesori, cinderamata, dan hiasan serta produk lain yang terbuat dari barang bekas.

Saat ditemui di tempat kerjanya, Selasa (12/12/2017), Taming, mengungkapkan bahwa dirinya dalam menggeluti usaha tersebut, cukup kesulitan, terutama dalam mendapatkan permodalan dan pemasaran.

“Kendala yang dihadapi dalam menggeluti usaha kerajinan ini adalah modal, pemasaran, dan belum memiliki karyawan, semuanya dilakukan sendiri,” ujarnya.

Lanjut Taming, dalam hal pemasaran hasil kerajinannya, biasanya mengirimkan ke sejumlah toko aksesori yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan hingga ke negara Prancis. Serta telah mengikuti sejumlah pameran kerajinan di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Riau, Aceh, Dumai, Bali, Sulawesi, Kalimantan, dan kota-kota besar lainnya.

Untuk harga berbagai hasil kerajinan tangan yang telah dihasilkan tersebut, Taming mengatakan, jika sedang ramai order pemesanan kerajinan dalam sebulan bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp2 juta. Harga kerajinan yang dibuat mulai harga Rp50.000 hingga Rp 5.000.000.

Menurut Taming, untuk modal usaha kerajinan yang digeluti selama ini, dirinya masih mengandalkan modal secara mandiri, bukan hasil dari meminjam ke pihak lain, seperti bank, koperasi, dan lain-lain.

Taming berharap, ke depan, pihak Pemerintah khususnya dinas terkait yang ada di wilayah Kota Banjar, untuk lebih memperhatikan kerajinan tangan yang ada di wilayah Kota Banjar.

“Saat ini kaum muda yang ada di wilayah Kota Banjar, sangat kurang menyukai tantangan. Apalagi diajak berkreasi seperti menyulap barang-barang bekas menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Ia berharap ke depan di wilayah Kota Banjar bisa diwujudkan dan dibangun komunitas perajin kerajinan tangan,” pungkasnya.

Lihat juga...