Sumbar Waspada Difteri, Gencarkan Imunisasi

PADANG – Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat mencatat (Sumbar) jumlah kasus suspect difteri di Sumbar dari Januari hingga November 2017 telah mencapai 23 kasus yg tersebar pada 10 kabupaten dan kota. Dari 10 kabupaten dan kota itu, memiliki jumlah kasus difteri yang berbeda pula.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar Merry Yuliesday menjelaskan, 10 kabupaten dan kota yang terdeteksi adanya difteri yakni Kota Padang, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Kota Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Bukittinggi, Lima Puluh Kota, Solok Selatan, dan Kabupaten Agam.

Ia menyebutkan, diketahuinya ada kasus difteri di 10 kabupaten dan kota itu, setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dari 23 suspect difteri. Dari pemeriksaan itu didapatkan 2 kasus positif yaitu satu orang di Kabupaten Solok Selatan dan satu orang di Pasaman Barat.

“Jadi dari 2 orang yang positif itu, satu orangnya dinyatakan berhasil mencapai kondisi sehat. Sementara untuk orang nya lagi tidak bisa diselamatkan dan akhirnya meninggal dunia, satu orang itu terdapat di Kabupaten Pasaman Barat,” katanya, Jumat 8 Desember 2017.

Merry menyebutkan satu orang anak yang meninggal di Pasaman Barat itu yang dinyatakan positif difteri, karena diketahui tidak pernah melakukan imunisasi. Hal itu diperparah lagi adanya gangguan pertumbuhan terhadap anak tersebut.

“Korban yang meninggal di Pasaman Barat itu tinggal di daerah kebun sawit Pasaman Barat. Dari catatan yang saya punya, anak dimaksud meninggal belum lama ini yakni pada 14 September 2017 lalu,” ungkapnya.

Selain itu Merry juga memaparkan, berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi terhadap 23 orang suspect itu, dinyatakan tidak lengkap imunisasinya. Sementara khusus bagi dua orang yang dinyatakan positif, tidak mendapatkan imunisasi sama sekali, termasuk yang meninggal dunia

Menurutnya untuk mencegah jangan terjadi lagi kasus difteri atau suspect difteri, Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai upaya, yaitu program imunisasi yang terdiri dari peningkatan cakupan imunisasi baik dasar maupun lanjutan, segera melakukan sweeping dan drop out follow up (dofu). Selanjutnya melakukan mapping daerah yang sudah 2-3 tahun berturut-turut tidak Universal Child Immunization (UCI) untuk segera lakukan Back Lock Fighting (BLF) atau crash programme.

Lalu juga menjalankan program surveilans untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini. Berkoordinasi dengan teman-teman imunisasi untuk peningkatan cakupan. Bila menemukan kasus segera dikonsultasikan dengan dr. Spesialis Anak, jika dicurigai suspeck difteri segera dirujuk ke RSUP M Djamil, karena pasien harus dirawat di ICU Isolasi. Selanjutnya, segera lakukan PE dan penanganan kontak serta pemberian profilaksis.

Tentunya, hal lain yang dilakukan ialah meningkatkan sosialisasi dan mengajak masyarakat agar memberikan imunisasi kepada anak karena difteri merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

“Difteri ini tidak bisa diobati dengan obat herbal, karena difteri ini merupakan kuman, sehingga pengobatan yang dibutuhkan ialah antibiotik,” tegasnya.

Selain itu ia juga menjelaskan, kasus difteri yang terjadi di Sumbar bersifat fluktuatif pada setiap tahunnya, seperti jika dilihat pada tahun 2015 susfect difteri sebesar 110 kasus positif 4. Lalu pada tahun 2016 ada susfect 9, positif 1, serta pada tahun 2017 ini ada susfect 23 dan positif 2 orang.

Bahkan, sebelumnya Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan langkah cepat yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi difteri memakan korban, perlu melakukan imunisasi secara gencar. Sebab, salah satu penyebab terkenan difteri ialah, adanya anak-anak yang tidak melakukan imunisasi.

“Imunisasi perlu untuk dilakukan di seluruh masyarakat Sumbar agar terhindar dari virus tersebut,” tegasnya.

Lihat juga...