Susah Sinyal, Rekonstruksi Hubungan Orang Tua dengan Anak

JAKARTA – Apa yang sebenarnya dimaui, diingini dan disenangi anak zaman sekarang?

Mereka tampaknya ingin bebas berekspresi yang kesehariannya tak lepas gadget di tangan. Dunia seperti hanya milik mereka saja. Meski kreatif, tapi tak kontemplatif. Semuanya ingin serba wah. Media sosial menjadi tempat curhat.

Orang tua, apalagi yang single parent, tampak begitu susah menyelami anak zaman sekarang yang kerap diistilahkan zaman now. Dari sini terjadi kerenggangan hubungan antara orangtua dengan anak. Diperlukan rekonstruksi atau merefresh kembali hubungan orang tua dan anak dengan liburan bersama. Demikian yang mengemuka dari film ‘Susah Sinyal’

Kisahnya tentang Ellen (Adinia Wirasti), seorang pengacara sukses dan single mom, yang jarang bisa meluangkan waktu bagi anak tunggalnya Kiara (Aurora Ribero). Kiara, anak jaman now yang tumbuh sebagai remaja pemberontak lebih banyak melampiaskan emosi di media sosial.

Salah satu adegan dalam film Susah Sinyal. (Foto: Istimewa/PH Starvision)

Tumbuh besar tanpa ayah dan diperparah ditinggal Ellen, ibunya, yang begitu sangat sibuk bekerja, Kiara cenderung lebih dekat dengan neneknya, Agatha (yang diperankan begitu menawan oleh aktris senior Niniek L Karim) yang sangat menyayangi Kiara.

Ketika Agatha meninggal karena terkena serangan jantung, Kiara yang sejak kecil sangat dekat dengan neneknya, jadi terguncang. Kiara kehilangan pegangan sekaligus sosok idaman dalam keluarga. Kiara lebih memilih menyandarkan kesedihan di bahu pembantu dibanding dengan ibunya, betapa sang ibu begitu sangat kecewa.

Terlebih lagi, beberapa hari kemudian Kiara mogok makan dan Ellen tak bisa membujuknya makan dengan dalih kesehatan. Hubungan ibu dan anak itu pun semakin lebih renggang.

Ellen berkonsultasi pada seorang psikolog dan psikolog menganjurkan Ellen untuk mengajak Kiara berlibur. Demi mengambil hati Kiara, Ellen membebaskan Kiara untuk menentukan tempat berliburnya. Kiara yang melihat Andien, penyanyi idolanya begitu enjoy berlibur ke Sumba membuat dirinya memutuskan untuk berlibur ke Sumba.

Ellen yang terlalu disibukkan dengan kerja di pengadilan tak tahu Sumba. Bertanya pada rekan kerjanya yang sama sibuknya jadi diplesetkan sebagai Sunda. Adapun pada orang yang magang di kantor baru yang rajin berselancar di internet, akhirya tahu begitu dapat informasi dari “Paman Google” alias mendapatkan informasi di dunia internet. Ellen akhirnya setuju pilihan Kiara untuk berlibur ke Sumba.

Ellen dan Kiara pergi berlibur ke Sumba, tempat terpencil yang ternyata susah sinyal sehingga ibu dan anak kesusahan dalam berkomunikasi maupun berselancar di internet.Tapi itu menjadi satu-satunya harapan untuk memperbaiki hubungan ibu dan anak perempuan yang nyaris retak.

Pelan-pelan Ellen mencoba untuk merekonstruksi hubungan dengan anaknya. Meski tak mudah tapi tentu harus dicoba demi keharmonisan keluarga. Ellen pun bahagia melihat Kiara saat pulang tampak dengan hati riang.

Di Jakarta, Ellen langsung disambut masalah besar di kantor. Proyek besar yang ia tangani bersama Iwan (Ernest Prakasa) terancam berantakan. Ellen tidak menepati janji untuk menonton Kiara tampil di perlombaan talent show antar SMA. Kiara marah dan pergi ke Sumba sendirian, tempat ia bisa merasakan secercah kebahagiaan.

Film ini cukup menghibur. Alur ceritanya mengalir lancar. Dialog-dialog cukup membuat kita merenungkan sesuatu yang sering kita lupakan, yakni menyelami anak daripada mendikte anak dengan apa yang diharapkan para orangtua. Betapa memang sebaiknya para orang tua menyelami anak, apa yang sebenarnya dimaui, diingini dan disenangi anak jaman now? Tugas orangtua memang menyelami dan kemudian membimbing, bukan mendikte atau menjejal-jejalkan apa yang diharapkan orang tua.

Ungkapan yang disampaikan Kahlil Gibran masih tetap relevan sampai sekarang, bahwa anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu. Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri. Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.

Setelah sukses dengan film ‘Cek Toko Sebelah’, Ernest Prakasa tampak seperti punya beban yang sangat berat dalam menggarap film ini. Membangun memang lebih mudah daripada mempertahankan. Untuk film ini, Ernest menggarap skenario bersama Meira Anastasia dengan tetap mengandalkan Jenny Jusuf sebagai konsultan skenario.

Bahkan, karena film ini mengangkat dunia pengadilan sehingga harus menyertakan banyak konsultan di bidang hukum, seperti di antaranya, Roslina Verauli, M.Psi., Stefanus Haryanto, SH., LLM., Pandu Gunawan, SH., Arry Wibowo, SH, MH.

Ernest tipe seorang kreator yang terbuka dengan siapa saja dalam membangun cerita filmnya dengan kuat. Itu sah-sah saja. Dan, memang sangat diperlukan untuk memperdalam ceritanya. Ernest bener-benar seperti menjadi arranger dalam orkestra film-film garapannya. Ernest bukan hanya memimpin produksi film secara teknis dengan melibatkan kru film seperti diantaranya penata kamera, penata artistik, penata busana, penata rias, penata suara, penata musik, penata gambar hingga para pemeran. Juga melibatkan konsultan komedi maupun konsutan hukum sesuai tema dalam film ini.

Lelucon dalam film ini cukup efektif dengan karakterisasi para pemerannya. Beberapa karakter dalam film ini ditampilkan stereotipe yang klise, seperti seorang artis yang sangat sombong dan terkesan kurang pintar. Tetapi kebanyakan karakter bisa tampil sangat kocak. Bisa bayangkan seorang Asri Welas melakukan capoeira. Nah, lelucon karakter semacam ini yang bekerja sangat ampuh dalam film ini.

Hanya saja, ada dialog yang cukup mengganggu, dalam beberapa adegan terselip dialog, “Kalau ingin tahu, kawin saja dengan China”. Dalam konteks karya kreatif tentu sah-sah saja. Apalagi dalam dunia stand up comedy yang membesarkan Ernest Prakasa. Tapi, terdengar rasis sekali. Ernest memang China, tapi dengan dialog China tersebut seperti membenturkan diri dalam ke-China-an. Apakah ini memang disengaja sebagai banyolan semata atau sebagai sebuah sindiran yang sinis atas polemik politik di negeri ini?

Terlepas dari gangguan dialog yang bernuansa rasis itu, kita tentu tetap memberi apresiasi pada film ini yang matang dalam penggarapan dari segi cerita dan cerdas dialog-dialognya. Mengusung drama komedi, film ini memang kuat unsur dramanya dan sungguh renyah unsur komedinya.

Sepanjang film berdurasi 110 menit, penonton dibuat lepas tertawa, tapi juga merenungkan beberapa dialog yang dihadirkan. Arie Kriting sebagai konsultan komedi patut diacungi jempol, menjadikan film ini sebagai tontonan yang cukup menghibur di akhir tahun 2017.

Lihat juga...