Tak Bisa Cairkan Dana Desa, Ratusan Kades di Sikka Marah

MAUMERE — Ratusan kepala desa dan bendahara dari 147 desa di kabupaten Sikka sejak Kamis (21/12/2017) pagi hingga sore memadati kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Maumere guna pencairan dana desa tahap kedua yang bersumber dari APBN.

“Kami marah karena pihak BRI Maumere katakan tidak bisa membayarkan uang kami padahal kami sudah mendapatkan rekomendasi dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Sikka,” sebut Kepala Desa Nita Kloang, Kecamatan Nita, Damianus.

Saat ditemui Cendana News Kamis (21/12/2017) sore, Damianus mengaku kesal dan sejak pagi ratusan kepala desa yang datang akhirnya marah-marah dan bertengkar dengan petugas dan manajer BRI. Akhirnya BRI sepakat akan membayarkan dananya dengan jumlah setengah saja setiap desa.

“Sisa dana katanya akan dibayarkan awal 2018. Kami takutkan dananya tidak bisa dicairkan dan menjadi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa). Namun pihak BRI menjamin dananya tetap ada dan tidak dikembalikan ke kas negara,” ungkapnya.

Paulinus Badar, Kepala Desa Ribang, Kecamatan Koting menambahkan, setelah mendapatkan rekomendasi dari Dinas PMD Sikka pihaknya bergegas ke BRI Maumere untuk melakukan pencairan dana tahap kedua. Namun dikatakan dananya tidak ada dan hanya bisa dibayarkan setengah dari total jumlah dananya.

“Dana ini akan kami gunakan untuk pembiayaan APBDes bidang pemerintahan, pembangunan, kemasyarakatan dan pemberdayaan.Bila dananya tidak cari maka gaji perangkat desa dan BPD termasuk tunjangan selama 4 bulan tidak bisa dibayarkan termasuk untuk ketiga bidang lainnya,’ terangnya.

Manajer BRI Cabang Maumere Ainul Wardi saat ditemui Cendana News memang mengakui pihaknya tidak memiliki dana cash seperti yang diminta para kepala desa untuk dibayarkan. Untuk mendapatkan dana sebesar 40 miliar rupiah pihaknya harus meminta dulu dari Bank Indonesia dan waktunya bisa sebulan.

“Tadi kami sudah dialog dengan kepala desa dan kami katakan akan kami bayarkan dananya setengah dahulu dengan cara ditranfer ke rekening desa agar lebih mudah prosesnya,” sebut Ainul.

Ainul tambahkan,dengan melakukan transfer, para kepala desa juga tidak perlu datang ke Kota Maumere dan melakukan pencairan dana di kantor unit BRI di wilayahnya sehingga tidak terlalu lama antri di kantor cabang dan bisa lebih aman dalam membawa uang cash.

“Setelah dijelaskan ada yang mengerti namun ada yang masih bersikeras karena takut nanti dananya tidak bisa dicairkan lagi namun kami memberikan jaminan dananya tidak akan hilang atau dikembalikan ke kas negara lagi,” pungkasnya.

Disaksikan Cendana News, keributan yang terjadi hingga 3 jam tersebut akhirnya perlahan reda setelah pihak BRI melalui manajernya memberikan penjelasan dan garansi. Hingga sore masih banyak terlihat kepala desa yang antri di loket guna mengurus proses pencairan dana.

Lihat juga...