Tentang Kota yang Kesepian

CERPEN ALIF FEBRIYANTORO

Suatu saat nanti, entah kapan.
Saya percaya, kota ini akan bergerak.
Menemui nasib yang lebih baik.
Sebab waktu, ia tidak pernah diam.

Langit sudah cerah, ketika Sahir pulang, pukul 5 pagi. Tapi udara masih dingin. Ia sedang memeluk seorang anak laki-laki yang mengenakan baju compang-camping, mungkin usia 12 tahun. Di bawah jembatan tua itu, Sahir seperti menjadi seorang ayah bagi anak yang dipeluknya itu. Selama angin tetap berembus, ia tahu bahwa nasib anak itu masih dapat diubah. Bahwa mungkin anak itu yang akan mengubah nasib kota ini.

Maka ia menatap lama mata anak itu. Dengan suara yang agak berat, Sahir menawarkan sesuatu untuk dimakan. Sebungkus nasi yang mungkin didapatnya tiga hari yang lalu, dari tong sampah restoran kota. Bagi Sahir, bersyukur bukanlah sebuah pilihan, sebab baginya, tidak ada pilihan lain selain bersyukur.

“Makanlah, Nak.”

Anak itu hanya mengangguk.

Di samping jembatan tua itu, terdapat sebuah rel tua yang sudah lama tak dilewati kereta. Barangkali tak akan pernah lagi dilewati. Di bawahnya, ada sungai yang sedikit kering, dengan hembusan abu di permukaannya. Tidak ada angsa-angsa yang berkeliaran. Hanya air yang kumuh, bau dan busuk. Bahkan ikan-ikan pun pergi, entah ke mana. Tapi kenangan, ia akan selalu tumbuh di dalam ingatan seseorang yang pernah tinggal di sana, di kota itu. Atau di bawah jembatan tua itu.

Kadang manusia selalu bercanda untuk membikin semesta. Ingin menguasai dunia dengan hanya menggunakan satu tangan. Mungkin masih dapat dipercaya. Mungkin juga masih dapat diterima. Tapi kadang manusia lupa, bahwa ia hanya sebagian dari semesta.

Lihat juga...