Terjebak Cinta yang Abstrak

Editor: Satmoko

64
Salah satu adegan film Ayat-ayat Cinta 2. (Foto: Istimewa/PH MD Pictures)

Apakah ada manusia yang sesempurna Fahri?

Sebuah pertanyaan yang nyaris sama ditunjukkan dari film sebelumnya dan kini juga pada film sekuelnya: ‘Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC 2)‘. Karakter Fahri yang diperankan Fedi Nuril dengan ekspresi datar, bahkan cenderung tertekan karena sifat-sifat manusiawinya dikebiri.

Dalam film AAC 2, memang Fahri digambarkan penuh kelebihan: kariernya sebagai dosen cemerlang, rumahnya megah, harta melimpah ruah, bahkan ia menjadi pujaan gadis-gadis kampus yang menggodanya dengan sapaan penuh kegairahan (cenderung nafsu), perhatian berlebihan disertai hadiah sekotak makanan, dan embel-embel: kalau suka makanannya besok akan dimasakkan lagi.

Penggambaran sosok Fahri memang penuh kesempurnaan, tapi ternyata masih ada yang kurang yakni kehadiran Aisha, istrinya, yang pergi ke daerah konflik tak kembali. Dari penggambaran segala kesempurnaan sosoknya Fahri terjebak cinta yang abstrak.

Karena terjebak cinta yang abstrak itu, ingin sekali istrinya kembali, Fahri melampiaskan pada berbagai bentuk kebaikan: minta tolong pada tetangga bernama Keira (Chelsea Islan), gadis kelahiran Skotlandia yang terobsesi menjadi pemain biola terkenal. Untuk mau menerima pertolongannya dari mulai pertolongan terang-terangan dengan memberi tumpangan untuk pulang bersama, sampai pertolongan diam-diam. Membayari seorang guru biola untuk mengajari main biola.

Adegan dalam film Ayat-ayat Cinta 2. (Foto: Istimewa/PH MD Pictures).

Karena tidak tahu kalau Fahri memberikan pertolongan, Keira menentang bahkan sangat membenci dirinya. Kelak, pertolongannya yang dilakukan diam-diam ini terkuak, dan Keira bernadar untuk mau menikahi orang yang menolongnya ini.

Fahri tinggal di Edinburgh, Skotlandia. Sebuah kota yang konon sangat disukai Aisha, istrinya yang sudah diduga meninggal di daerah konflik. Fahri bekerja menjadi dosen serta peneliti di universitas ternama kota tersebut. Fahri hanya ditemani Hulusi (Pandji Pragiwaksono), asisten rumah tangganya, asal Turki.

Suatu saat, Hulya (Tajtana Saphira), gadis berkebangsaan Turki-Jerman yang sedang mengambil S2 dan masih memiliki hubungan keluarga dengan Aisha, tiba-tiba muncul di dalam kelas dimana Fahri mengajar. Kedatangan Hulya justru memicu kenangan sedih Fahri. Keterjebakan Fahri pada cinta yang abstrak itu pun kian menjadi-jadi.

Film ini cukup menyentuh. Sutradara Guntur Soeharjanto cukup bagus menggarapnya. Pengalaman menggarap film-film bersetting di luar negeri cukup memberi bukti kepiawaiannya dalam penyutradaraan, seperti di antaranya: 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), Assalamualaikum Beijing (2014), dan Where Is My Romeo (2015).

Kalau sebelumnya, AAC digarap Hanung Bramantyo dan sekarang AAC 2 digarap Guntur tampak sekali perbedaan. Garapan Hanung lebih ekspesif, meletup-letup. Sedangkan garapan Guntur cenderung lembut, mendayu-dayu. Karakter dua sutradara tersebut memang berbeda. Dalam penyutradaraan, Hanung seringkali berimprovisasi dengan adegan-adegan dramatis. Sedangkan Guntur cenderung taat pada karya yang diadaptasinya. Bahkan lebih cenderung mengeksplorasi keromantisan lebih dalam.

Ada adegan yang mengharukan ketika pagi-pagi Fahri mau berangkat ke kampus tiba-tiba dituduh oleh Nenek Catarina (Dewi Irawan), wanita Yahudi yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Bahwa Fahri telah berbuat tidak senonoh dengan Brenda (Nur Fazura) yang semalam pulang mabuk. Padahal justru Fahri menolong Brenda dengan memberikan bantal dan selimut. Brenda yang tiba-tiba muncul dari rumahnya membawa serta bantal dan selimut untuk dikembalikan. Brenda pun tak lupa mengucapkan terima kasih.

Melihat hal demikian, Nenek Catarina minta maaf karena telah salah paham. Kemudian, Fahri menawarkan diri untuk mengantar Nenek Catarina ke gereja. Tapi begitu sampai gereja, Fahri malah diperlakukan tidak baik oleh beberapa orang yang di gereja dan mengusirnya dengan kasar. Nenek Catarina membela Fahri di depan mereka, bahwa Fahri adalah orang baik. Fahri menolong orang karena memang mau menolong, tak peduli orang yang ditolong berlainan agama dengan dirinya.

Film ini memakai banyak referensi dalam pengadeganan, baik Hollywood dalam adegan operasi transplantasi wajah maupun Bollywood dalam adegan pernikahan. Tampak sekali dua kiblat produksi film itu mempengaruhi film ini. Yang bisa dikatakan orisinil adalah adegan tempe, hadiah dari Hulya yang mencoba merebut hati Fahri.

Terlepas dari kelebihan maupun kekurangan film ini, kita tentu patut memberi apresiasi karena film adalah karya kolaboratif yang memang membutuhkan banyak keahlian dalam satu karya. Film ini memang tak hanya memberi kita pertanyaan, apakah ada manusia yang sesempurna Fahri? Tapi juga menegaskan bahwa cinta sejati itu ada. Fahri adalah cinta sjati Aisha, yang karena itu Aisha rela berkorban apa saja demi Fahri, cinta sejatinya.

Adegan film Ayat-Ayat Cinta 2. (Foto: Istimewa/PH MD Pictures).

Komentar