Terobosan Zaenul Irvan Membuat Mesin Pengupas Melinjo

LAMPUNG – Usaha kecil memanfaatkan bahan pertanian diantaranya melinjo menjadi emping kerap masih mempergunakan sistem pengupasan manual memakai pisau untuk mengupas kulit melinjo dan menghasilkan buah melinjo untuk diolah menjadi emping.

Berangkat dari beberapa usaha pembuat emping yang banyak berada di kaki Gunung Rajabasa, Zaenul Irvan (48) yang tinggal di Desa Kekiling Kecamatan Penengahan memodifikasi alat mesin penggerak genuine 5,6 PK dengan bahan bakar sebanyak 4 liter untuk dimodifikasi dengan kipas baling baling yang berfungsi sebagai pengupas lebih cepat dibandingkan cara manual.

Zaenul Irvan menyebut awalnya membeli peralatan berupa pipa besi yang dipergunakan sebanyak 70 sentimeter, plat 2 milimeter, karet panbelt ukuran A42, mesin genuine 5,6 PK lalu dirakit menggunakan teknik pengelasan dan pembubutan menggunakan jasa salah satu bengkel di Bandarlampung. Karena di Lampung Selatan belum ada bengkel yang mampu mengerjakan pembubutan as dengan diameter 24 milimeter.

Zaenul Irvan menjalankan mesin pengupas melinjo untuk mempermudah pembuatan emping melinjo. [Foto: Henk Widi]
“Setelah dimodifikasi dengan kotak wadah melinjo serta tabung kerangka, selanjutnya distel pada besi penyangga dan mesin penggerak dihubungkan dengan pan belt sehingga mesin bisa menggerakkan alat pengupas tersebut,” terang Zaenul Irvan, asal Magelang Jawa Tengah yang kini menetap di Desa Kekiling Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, saat ditemui oleh Cendana News tengah melakukan proses pengupasan melinjo atas pesanan warga, Selasa (12/12/2017).

Keinginan untuk membuat alat pengupas tersebut, diakui laki-laki yang merantau hampir selama setahun di Lampung Selatan tersebut, setelah kerap melihat ibu-ibu pengupas melinjo bahan pembuatan emping dengan resiko tangan terkena pisau. Bagian jari tangan bahkan mengalami iritasi akibat zat yang terkandung dalam zat kulit melinjo. Kepedulian akan kondisi itulah yang membuat laki-laki tersebut kini menggeluti usaha kupas melinjo.

Bermodalkan uang sebanyak Rp9 juta untuk pembelian bahan sekaligus biaya pembuatan untuk modifikasi alat tersebut, ia mengaku, menempatkan alat tersebut di salah satu rumah warga untuk dipergunakan sebagai mesin pengupasan dengan sistem jasa pengupasan Rp1.000 per kilogram. Hingga saat ini dengan bahan bakar sebanyak 4 liter premium bisa mengupas sekitar 500 kilogram melinjo sebagai bahan baku emping.

Ia menyebut, berdasarkan pengalaman sebagian warga, memiliki kebun melinjo dengan produksi sekitar 100 kilogram. Sebagian dijual dalam bentuk melinjo muda sebagai campuran sayum asam dengan harga Rp2.000 per kilogram.

Sebagian dikupas dan dijual dalam bentuk kulit melinjo seharga Rp3.000 dan lainnya dijual dalam bentuk biji melinjo sudah dalam kupasan Rp8.000 per kilogram. Prospek keberadaan hasil perkebunan tersebut diakuinya mendorong dirinya mengkreasikan alat pengupas melinjo tersebut.

Berdasarkan pengalaman dengan waktu pengupasan selama 7 jam, alat tersebut bisa mengupas sebanyak 500 kilogram emping atau dengan biaya Rp500.000 dengan pertimbangan efisiensi waktu pengupasan sekaligus biaya.

Sebelumnya kerap diupahkan kepada kaum ibu yang dibayar Rp2.000 per kilogram. Efisiensi waktu dan biaya tersebut diakui Irvan cukup membantu warga yang berprofesi sebagai petani dengan rata-rata 50 kilogram per hari.

Irvan menyebut, alat yang sudah berfungsi tersebut kini mulai banyak dilirik orang diantaranya pemilik usaha melinjo. Bahkan ada beberapa orang yang berniat membeli
alat buatannya tersebut meski ia menyebut, alat yang berhubungan dengan alat pengupas melinjo yang selanjutnya akan dibuat menjadi emping tersebut merupakan murni hasil kreasinya.

Dalam waktu dekat Irvan juga tengah mengembangkan mesin oven untuk memanggang melinjo pasca dikupas, selanjutnya dicetak menggunakan mesin pemipih sehingga pembuatan emping melinjo bisa lebih cepat.

“Saya tengah membuat mesin pemipih melinjo yang biasanya manual akan saya buat semi modern agar mempercepat pembuatan melinjo serta meningkatkan kapasitas produksi,” terang Irvan.

Melinjo dengan kulit utuh siap dikupas dengan mesin buatan Zaenul Irvan. [Foto: Henk Widi]
Ia menyebut, pembuatan alat tersebut karena ia melihat sebagian petani justru menebang pohon melinjo atau tangkil karena produksi buah berlimpah. Namun proses pengolahan masih manual padahal ia melihat pohon melinjo merupakan investasi masa depan sekaligus penghijauan di perkebunan petani.

Keberadaan alat produksi pasca panen tersebut diharapkan mengurangi keinginan warga menebang pohon dengan kemudahan adanya alat pengupas, mesin oven dan pemipih sehingga petani melinjo akan bergairah lagi dan pemberdayaan kaum petani di wilayah tersebut bisa ditingkatkan.

Keberadaan alat oven pemanggang emping melinjo tersebut diakuinya akan menggairahkan usaha kecil pembuat emping yang masih menggunakan tungku penggorengan berbahan bakar kayu dan arang.

Beberapa mesin tersebut sedang dalam proses pembuatan di bengkel sehingga produksi emping melinjo dari bahan mentah hingga siap jual bisa mempergunakan mesin yang dibuat oleh Irvan.

Aminah, salah satu pemilik kebun melinjo menyebut, kerap memanen sekitar 50 kilogram, membutuhkan tenaga kerja sebanyak 10 orang per hari dengan membawa melinjo hasil panen untuk dikupas dan diproses di mesin buatan Irvan. Lebih cepat dan efesien.

Selain menghasilkan buah melinjo yang bersih sementara kulit luar yang menjadi adonan bisa menjadi salah satu bahan pelengkap pembuat kerupuk kulit tangkil sebagai camilan yang bisa dijadikan oleh-oleh.

Lihat juga...