Titiek Soeharto: Anggaran Subsidi Besar, Tapi Petani Masih Sulit Dapatkan Pupuk

YOGYAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi SE mengingatkan agar anggaran pupuk bersubsidi yang sangat besar harus dapat memberikan dampak nyata berupa peningkatan kesejahteraan bagi petani. Jangan sampai anggaran yang sangat besar itu justru dinikmati oleh pihak-pihak selain petani, sehingga membuatnya menjadi tidak tepat sasaran.

“Anggaran subsidi pupuk itu sangat besar sekali, lebih dari Rp30trilyun per tahun. Bahkan anggaran itu lebih besar dari anggaran Kementerian Pertanian. Tapi mana, sampai sekarang petani tidak juga sejahtera,” katanya saat acara Temu Warga Tani serta Penyerahan Simbolis Bantuan Bibit Pohon Produktif, di Balai Desa Trimulyo Sleman, Rabu (27/12/2017).

Titiek Soeharto mengatakan selama ini Komisi IV DPR RI sendiri, selalu mempertanyakan proses distribusi pupuk bersubsidi ke pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian. Pasalnya meski menggunakan anggaran sangat besar, namun dalam prakteknya di lapangan kerap kali petani masih kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi pada saat awal masa tanam. Hal itu dikatakan jelas merugikan petani.

“Saat ini proses distribusi pupuk bersubsidi diubah dengan menggunakan sistem Kartu Tani. Dimana setiap data luasan lahan maupun jumlah kebutuhan pupuk setiap petani tercatat secara lengkap. Diharapkan dengan sistem baru ini tidak ada pupuk bersubsisi dengan anggaran besar itu tercecer kemana-mana,” tegasnya.

Titiek Soeharto saat menyerahkan bantuan bibit pohon nangka pada warga masyarakat/Foto: Jatmika H Kusmargana

Sebelumnya salah seorang petani asal Sleman, Sugeng, mengeluhkan proses distribusi pupuk bersubsidi yang dinilainya, tidak sepenuhnya murni diberikan pada petani. Sebab dalam prakteknya petani masih harus membeli pupuk dengan harga cukup mahal. Ia pun mengharapkan pada Titiek Soeharto agar, anggaran pupuk bersubsidi sepenuhnya dapat dimanfaatkan untuk petani.

Selain menyerap aspirasi masyarakat khususnya para petani, peternak, maupun pelaku usaha perikanan hingga KWT, dalam kesempatan itu Titiek Soeharto juga berkesempatan memberikan bantuan bibit tanaman produktif yakni pohon nangka. Sebanyak 5.000 bibit pohon nangka diberikan Titiek Soeharto melalui jalur aspirasi.

Titiek Soeharto menanaman pohon nangka di halaman balai desa Triharjo, Sleman/Foto: Jatmika H Kusmargana

Gerakan penanaman bibit pohon nangka di pekarangan rumah warga ini dilakukan Titiek Soeharto guna memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan kuliner khas Yogyakarta, gudeg. Pasalnya meski dikenal sebagai daerah sentra, Yogyakarta sampai saat ini masih belum mampu mencukupi kebutuhan nangka muda yang sangat tinggi sehingga harus mendatangkan dari daerah lain.

“Diharapkan dengan menanam pohon nangka di setiap pekarangan rumah mulai sekarang, dalam waktu tiga tahun ke depan, Yogyakarta tidak perlu lagi memencukupi kebutuhan nangka dari luar daerah. Karena bibit ini merupakan bibit unggul yang dalam waktu tiga tahun diharapkan sudah dapat berbuah,” pungkasnya.

Lihat juga...