Turki Mulai Inisiatif Batalkan Keputusan AS Tentang Yerusalem di PBB

ANKARA – Turki mulai mengambil inisiatif di PBB untuk mengupayakan pembatalan keputusan Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hal tersebut disampaikan Presiden Turki Tayyip Erdogan pada Jumat, di hadapan kerumuman orang yang berkumpul di Konya, ibu kota Anatolia, di bagian tengah Turki.

Dalam pernyataan yang disampaikan secara telekonferensi, Erdogan mengatakan, Turki pertama akan mengusahakan pembatalan langkah tersebut di Dewan Keamanan, dan jikalau gagal pihaknya akan berusaha di Majelis Umum PBB.

Pada Rabu, para pemimpin Muslim mengadakan konferensi tingkat tinggi di Istanbul dan mengutuk pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Presiden AS Donald Trump. Dari pertemuan tersebut juga diserukan kepada dunia untuk menanggapi dengan mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.

Presiden Erdogan pada Sabtu (9/12/2017) mengatakan keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel bertolak-belakang dengan hukum internasional dan resolusi PBB. “Dewan Keamanan PBB telah melakukan tindakan besar untuk memukul pengumuman ini,” kata Erdogan dalam satu pertemuan di Istanbul.

Ia mengatakan pengumuman mengenai Yerusalem tersebut telah membuat AS berbenturan dengan Resolusi 478 Dewan Keamanan yang mengutuk upaya pencaplokan Israel atas Yerusalem Timur dan mendesak negara anggota PBB untuk menarik misi mereka dari Yerusalem.

“Bagaimana itu bisa mungkin? Anda membubuhi tandatangan dan sekarang Anda membantahnya. Memimpin dunia tidak mudah dan menjadi kuat tak memberi Anda hak ini. Para pemimpin negara besar bertugas mewujudkan perdamaian, bukan menciptakan konflik,” kata Erdogan dalam kesempatan membicarakan Donald Trump.

Erdogan juga menuduh Israel menjadi negara pendudukan, melakukan perluasan bertahap wilayah Israel dari 1947 sampai hari ini di peta yang terlihat di layar. Erdogan telah mengancam akan memutuskan hubungan diplomatik Turki dengan Israel dan menyerukan pertemuan puncak Organisasi Kerja Sama Islam di Istanbul pada 13 Desember.

Terpisah, mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai perundung dunia dan penjahat. Penilaian tersebut muncul karena pernyataan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Presiden Trump pada 6 Desember lalu membalikkan kebijakan AS, yang telah berjalan beberapa dasawarsa, dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Bahkan Amerika Serikat berencana akan memindahkan kedutaannya ke Yerusalem dari Tel Aviv dalam beberapa tahun ke depan.

Kedudukan Yerusalem adalah salah satu penghalang paling kuat dalam penciptaan perdamaian abadi Israel-Palestina. Israel menganggap Yerusalem sebagai ibu kota abadinya dan tak terbagi serta menginginkan semua kedutaan besar negara penjalin hubungan dengannya berada di sana.

Warga Palestina menginginkan berdirinya negara merdeka, dengan ibu kota negara berada di wilayah Yerusalem timur, yang dicaplok Israel dalam perang Timur Tengah pada 1967. Kedaulatan Israel atas wilayah tersebut tidak pernah diakui secara internasional.

“Kemarahan atas keputusan Trump akan mengarah pada apa yang disebut sebegai tindak terorisme. Pada hari ini, kita memiliki seorang perundung dunia. Trump, itu hanya akan memicu kemarahan kaum muslimin. Kita harus menggunakan seluruh kekuatan untuk melawan penjahat ini yang merupakan presiden Amerika Serikat,” kata Mahathir, yang kini berusia 93 tahun, dalam unjuk rasa di depan kedutaan besar AS di Kualalumpur, Jumat (15/12/2017).

Mahathir yang merupakan Ketua Gabungan Oposisi Malaysia mendesak kepada semua negara Muslim agar memutuskan hubungan dengan Israel. Pemimpin oposisi lainnya Muhyiddin Yassin meminta Pemerintah Malaysia tidak melanjutkan rencana penanaman modal di Amerika Serikat.

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mendesak umat Muslim di seluruh dunia untuk menentang pengakuan Yerusalem sebagai Ibu kota Israel. Pengguna media sosial di Malaysia, bersumpah untuk melakukan boikot terhadap perusahaan AS. (Ant)

Lihat juga...