UB Siapkan Beasiswa Bagi Warga Palestina

MALANG – Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS),  DonaId Trump, yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, terus mendapatkan kecaman dan penolakan dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Universitas Brawijaya (UB) sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia mengaku mendukung sikap pemerintah Indonesia yang menolak penetapan Yerusalem sebagai Ibu kota Israel.

Hal tersebut disampaikan Rektor UB, Mohammad Bisri, dalam acara
‘Refleksi UB dalam Menghadapi Persoalan Bangsa dan Internasional’ di gedung rektorat UB, Jumat (29/12/2017).

Menurut Bisri, pernyataan sikap UB tersebut karena didasari pada UUD 1945, yang menyatakan, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

“Untuk itu, UB bersama pemerintah dan rakyat Indonesia tetap konsisten bersama rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan haknya,” ujarnya.

Bisri menjabarkan, dukungan UB pada bangsa Palestina bukan hanya moriI saja, tetapi juga akan  memberikan dukungan konkrit berupa ‘beasiswa perdamaian’ kepada warga Palestina.

“Mulai tahun depan, 2018, kami akan memberikan beasiswa perdamaian kepada warga Palestina, terutama yang sudah menjadi pegawai negeri sipil untuk bisa mengikuti studi Ianjutan program Pasca Sarjana S2 dan S3,” jelasnya.

Tidak hanya itu, UB juga akan memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat Palestina yang berada di pengungsian dan di wilayah Palestina, yakni pelatihan pengembangan budi daya sapi dan kambing serta program ‘Dokter dan Perawat Mengabdi’ untuk memberikan bantuan kesehatan dan pelatihan keterampilan medis bagi warga negara Palestina yang berada di pengungsian di wilayah Yordania.

“UB sangat berkomitmen mendukung pemerintah Indonesia untuk memberikan bantuan semaksimal mungkin kepada warga Palestina,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Rektor IV, Moch. Sasmito Djati, yang mengaku, bahwa UB sangat serius untuk membantu warga Palestina.

“Saat kami berkunjung ke Palestina ternyata mereka membutuhkan apa saja yang kita berikan, baik itu pakaian, obat-obatan maupun bantuan lain karena kondisi mereka memang sangat memprihatinkan. Tapi, karena konsep kita adalah perdamaian, jadi apa pun yang kita lakukan bukan yang sifatnya militer,” katanya.

Menurutnya, saat ini yang bisa dilakukan UB sebagai salah satu perguruan tinggi adalah memberikan beasiswa dan pelatihan. Untuk jumlah penerima beasiswanya antara 10-15.

“Kita harapkan setelah mereka dididik di sini, mereka bisa kembali ke negaranya untuk membangun negaranya kembali,” pungkasnya.

Lihat juga...