Uji SKW Pertegas Pilihan Profesi Wartawan

BOGOR – Sayid Iskandarsyah, Pengurus PWI DKI Jakarta, memaparkan uji Standar Kompetensi Wartawan (SKW) dan diharapkan wartawan mau menjalaninya.

Uji SKW diwajibkan dalam Peraturan Dewan Pers Nomor 01/DP/II/2010 tertanggal 2 Februari 2010. Selain juga hasil Kesepakatan Palembang 9 Februari 2010 serta Deklarasi Jambi 9 Februari 2012. Uji SKW ini mempertegas pilihan profesinya sebagai seorang wartawan sesungguhnya.

“Ujian kompetensi wartawan awalnya sangat menakutkan bagi yang serius menggeluti dunia wartawan. Karena diuji benar dalam hal penulisan jurnalistiknya,“ kata Sayid Iskandarsyah, Pengurus PWI DKI Jakarta, sebagai pembicara dalam Orientasi Wartawan di Wisma Arga Mulya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jalan Raya Pucak, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Senin (11/12/2017).

Baca: 44 Wartawan Ikuti Orientasi Wartawan PWI DKI

Lebih lanjut, Sayid menerangkan, dalam pelaksanaan uji SKW justru bisa semakin mempertegas pilihan profesinya sebagai seorang wartawan sesungguhnya. “Bukan sekedar mengaku-ngaku sebagai wartawan,“ tegasnya.

Menurut Sayid, kalau wartawan jarang ikut rapat redaksi pasti akan kesulitan mengikuti uji Standar Kompetensi Wartawan. Karena rapat redaksi termasuk materi uji. Wartawan saat menghadiri rapat redaksi mengajukan rencana atau usul liputan yang akan dilakuan dengan pertimbangan atau alasannya.

“Wartawan harus mampu mempertahankan usul liputannya dengan dasar nilai berita dan kepentingan khalayak pembaca. Selain mempertahankan, wartawan juga terbuka menerima masukan dan tugas redaksi yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan pers tanpa melanggar etika, apalagI hukum sebagai agenda setting,” ungkapnya.

Sayid juga menyampaikan tentang liputan materi uji, bahwa wartawan kompeten versi Dewan Pers, tidak ada istilah tak mendapatkan berita. Wartawan yang bertugas pada instansi pemerintah, misalnya, tetap harus membuat berita meskipun tidak ada kegiatan pada instansi yang diliputnya.

“Berita harus diciptakan oleh wartawan itu sendiri. Tentang apa dan siapa yang kemudian dilengkapi dengan di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Untuk menjawab mengapa dan bagaimana, wartawan harus mampu membuat daftar pertanyaan,“ tandasnya.

Lihat juga...