Utami: Posdaya “Ibu-Bapak”nya Pembedayaan Masyarakat di Kampung/Desa

YOGYAKARTA — Kampung Prawirodirjan, Gondomanan selama ini mungkin dikenal sebagai salah satu kampung kumuh padat penduduk yang ada di kota Yogyakarta. Posisinya yang terletak di pusat kota memang menjadikan masyarakat di kampung ini harus menghadapi berbagai persoalan baik di bidang sosial, ekonomi, lingkungan dan sebagainya.

Namun sejak adanya Posdaya Rukun Sejahtera, di RW 12, pada tahun 2012 solam, image negatif tersebut secara perlahan mulai berubah.

Melalui sejumlah program yang dilakukan para kader Posdaya, berbagai persoalan yang ada di kampung ini pun secara perlakan bisa dipecahkan. Bahkan kini, kampung RW 12 Prawirodirjan, telah mampu mencapai prestasi yang luar biasa.

Selain memiliki predikat kampung KB, dan kampung bebas asap rokok, kampung RW 12 Prawirodirjan juga merupakan kampung ramah anak.

Berkat berbagai upaya pemberdayaan yang dilakukan, pada tahun 2014 lalu, kampung ini melalui Posdaya Rukun Sejahtera, juga mampu menjadi juara II lomba Posdaya tingkat Regional DIY dan mendapat anugerah Damadiri Award dari Yayasan Damadiri.

“Posdaya Rukun Sejahtera pertama kali dibentuk oleh mahasiswa KKN asal UGM sekitar tahun 2012 lalu. Meski mengalami pesang surut, sampai saat ini Posdaya masih tetap eksis melakukan berbagai pemberdayaan untuk masyarakat,” ujar Ketua RW 12 Prawirodirjan sekaligus Ketua Posdaya Rukun Sejahtera, Utami Wulandari, Sabtu (23/12/2017).

Ketua RW 12 Prawirodirjan sekaligus Ketua Posdaya Rukun Sejahtera, Utami Wulandari menunjukkan piala juara lomba Posdaya tingkat Regional DIY dan anugerah Damadiri Award dari Yayasan Damadiri/Foto: Jatmika H Kusmargana

Bagi Utami, keberadaan Posdaya telah banyak merubah dan memberikan kontribusi bagi perbaikan kampung dan masyarakatnya. Menurutnya Posdaya merupakan induk semua kegiatan di masyarakat.

Dengan adanya posdaya, berbagai kegiatan pemberdayaan di kampung pun menjadi lebih semarak.

“Posdaya itu kan induk semua kegiatan di wilayah. Ibarat ibu-bapak atau orangtua-nya kegiatan. Kalau tidak ada induknya kan semua kegiatan berjalan semaunya,” bebernya.

Namun setelah ada posdaya jauh lebih tertib. Kita para kader juga merasa gumregah. Karena memiliki induk, memiliki payung. Sehingga lebih konsekuen menjalankan setiap kegiatan di wilayah, pungkasnya.

Lihat juga...