hut

Warga Antang, Makassar Sempat Memasak di Tengah Banjir

MAKASSAR — Hujan mengguyur seluruh kota Makassar selama tiga hari lamanya. Bagi warga yang tinggal di Perumnas Antang, Kelurahan Manggala, Kecamatan Manggala derasnya hujan membuat warga tidak akan keluar kalau tidak perlu. Tidak ada yang menduga bahwa 22 Desember lalu menjadi hari yang menegangkan.

Sejak 21 Desember air sebetulnya sudah menggenangi jalan sebatas mata kaki, bahkan ada yang sebetis. Bahkan tak jarang ari masuk rumah, tetapi hanya sebatas mata kaki. Karena kondisi setiap musim penghujan memang seperti itu, warga menjadi lengah.

Begitu juga bagi sekeluarga, sore hari berkumpul di ruang keluarga menyaksikan televisi dan ada yang bercengkerama. Apalagi rumah kami letaknya cukup tinggi. Selain itu hujan deras memberikan kesibukan lain, yaitu cucian yang menumpuk.

Tiba-tiba saja sekitar jam enam sore air masuk masuk rumah kami di RW 11, Blok VII dengan ketinggian satu meter kurang dari satu jam. Kami sudah tidak sempat menyelamatkan semua harta benda.

Kulkas dan televisi bisa diselamatkan ke atas lemari. Selebihnya baju dan perabotan rumah lainnya terendam air. Sekalipun air sudah masuk sekitar satu meter, kami sekeluarga belum berpikir mengungsi.

Saya sendiri sempat tidur di ranjang yang belum terendam air. Ibu saya masih sempat memasak di meja. Say masih ingat ibu saya memasak ayam goreng dan kami makan lahap. Hujan yang turun terus menerus belum mengkhawatirkan kami.

Namun rupanya air terus memasuki rumah. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan mengungsi ke masjid.

Hal yang sama menimpa dua puluh rumah di kompleks kami.

Menurut ibu saya, Singrawati Umar, baru kali ini rumah dia terendam air sampai setinggi itu.

“Rumah saya berada paling tinggi namun air masih bisa masuk juga ke rumah. Semua buku-buku pelajaran anak, dan kasur serta beberapa baju tidak sempat diselamatkan karena air begitu cepat naik,” tutur Singra pada Cendana News beberapa waktu lalu.

Cerita lain didapat juga dari Tati seorang yang tinggal di daerah bawah rumahnya terendam hampir seatap. Dia malah sudah kebanjiran sehari sebelumnya. Tati sedang membuka toko kelotongan di rumahnya ketika air tiba-tiba meninggi hanya dihitung beberapa jam saja.

Air yang masuk rumah setinggi mata kaki tiba-tiba air mulai meninggi dan hampir mencapai atap.Akhirnya Tati hanya bisa menyelamatkan barang-barang dagangannya. Sebagian lagi berikut perabot rumah terendam air.

“Awalnya hanya sebetis tetapi kemudian air naik sampai ke atap dengan cepat,” ujarnya.

Akhirnya setelah tahu bahwa rumah tidak bisa ditinggali lagi, saya, keluarga dan warga yang terimbas banjir mengungsi ke masjid. Banjir menggenangi kompleks kami dan juga sebagian kota Makassar selama beberapa hari.

“Akhirnya saya memutuskan untuk mengungsi dan membawa beberapa lembar baju yang bisa dipakai karena air begitu cepat meninggi,” ungkap Tati.

Hanya saja Rumah Tati merupakan salah satu rumah di RTD yang sering tegenang air setiap tahunnya saat memasuki musim hujan. Rumah Tati berada di daerah rendah.

Rumah yang berlokasi di sekitar tempat itu sering menjadi daerah langganan banjir setiap tahunnya. Saat memasukki musim hujan tati dan beberapa warga yang tinggal didaerah tersebut menjadi was-was.

Para warga sendiri berharap agar pemerintah bisa mengatasi masalah banjir ini. Karena jika curah hujan tinggi maka daerah tadah air yang ada di Kota Makassar tidak dapat menampung debit air lagi. Sehingga Masyarakat ingin pemerintah segerah mencari solusi untuk masalah ini.

Ketua RTD Perumnas Antang Blok Vlll Johamzah mengakui perumnas sendiri tidak memiliki wadah untuk menampung air.

“Ini karena daerah yang sebelumnya menjadi resapan air hujan sudah mulai berkurang, karena dibangun untuk menjadi daerah pemukiman baru sehingga di kala hujan RT menjadi daerah langganan banjir,” jelasnya.

Saya tertengun mendengar penjelasannya. Suatu pelajaran bagi semua orang. Mudah-mudahan dalam membangun pemukiman, resapan air dipikirkan. Bukan hanya memikirkan bagaimana uang masuk.

Lihat juga...