Warga Terdampak NYIA Diimbau Tidak Mudah Terprovokasi

KULON PROGO – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, DIY, mengimbau warga penolak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) tidak mudah terprovokasi. Warga diharapkan tetap mempergunakan pikiran yang jernih untuk persoalan tersebut.

“Jangan mau diprovoksi pihak luar, yang bukan warga Kulon Progo yang cenderung tidak berkepentingan. Kami berharap warga berpikir jernih,” imbau Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo di Kulon Progo, Minggu (17/12/2017).

Seperti diketahui, sebanyak 32 rumah di lahan pembangunan NYIA di Desa Palihan dan Glagah, Kecamatan Temon belum dirobohkan. Pemilik rumah dan lahan yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) masih kukuh menolak tanah dan rumahnya digusur dalam proyek NYIA.

Hasto menyebut, pemkab secara intensif terus melakukan upaya pendekatan kepada warga penolak bandara baru. Pemkab Kulon Progo akan terus melakukan upaya pendekatan dengan cara-cara persuasif.

Khusus mengenai konflik, diharapkannya. semua pihak saling menahan diri dan tidak saling memanas-manasi yang berpotensi membuat keadaan semakin pelik. “Pemerintah tidak akan menzolimi atau merugikan warga. Saat ini yang dibutuhkan adalah diskusi dan dialog sehingga kesulitan atau aspirasi warga bisa didengarkan secara langsung dengan kepala dingin,” katanya.

Project Manager Pembangunan NYIA PT AP I Sujiastono mengungkapkan, pihaknya mengedepankan upaya pendekatan persuasif dan upaya pengosongan lahan yang terbaik. “PT AP I siap bertemu dan berdialog, kapanpun warga menginginkannya,” tandasnya.

Proses pembangunan bandara akan tetap berjalan meski masih ada warga terdampak yang melakukan penolakan. Hal itu dipengaruhi oleh keberadaan pembangunan bandara NYIA merupakan proyek strategis nasional dan sudah ada peraturan presiden terkait percepatan pembangunan bandara tersebut.

Selain itu, lahan yang tercakup dalam Izin Penetapan Lokasi (IPL) pembangunan NYIA kini tidak lagi diperuntukkan sebagai kawasan hunian seperti yang diatur dalam rencana tata ruang. Warga diharapkan bisa menyegerakan pengosongan lahan dan pindah ke tempat baru.

“Lebih baik mereka cepat pindah, sehingga lebih cepat menata tempat tinggal yang baru. Kita upayakan warga bisa dapat keluar dengan kesadaran sehingga semua proses berjalan lancar,” harapnya. (Ant)

Lihat juga...