Arsa Menyebut Kuburan Masal di Rakhine Berisi Warga Sipil

85

YANGON – Tentara Penyelematan Rohingya (ARSA) menyebut bahwa 10 orang Rohingya yang ditemukan di sebuah kuburan massal di negara bagian Rakhine yang sedang bergejolak di Myanmar bulan lalu adalah warga sipil yang tak bersalah. Dipastikan bahwa jasad tersebut bukan bagian dari anggota kelompok pejuang muslim.

Militer Myanmar mengatakan pada awal pekan ini, bahwa para prajuritnya telah membunuh 10 teroris Muslim yang ditangkap selama serangan-serangan pemberontak pada awal September 2017 lalu. Pembunuhan dilakukan setelah warga desa pemeluk Buddha memaksa pria-pria yang ditangkap tersebut masuk ke sebuah kuburan yang digali penduduk desa.

Pengakuan atas tindakan salah oleh militer Myanmar dalam operasi-operasinya di bagian barat Rakhine ITU jarang terjadi. Dan pengakuan tersebut langsung mendapatkan respon dari pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. (Baca: https://www.cendananews.com/2018/01/suu-kyi-apresiasi-pengakuan-militer-atas-pembunuhan-warga-rohingya.html).

Sementara itu ARSA menyatakan pihaknya menyambut baik setulus hati pengakuan atas kejahatan-kejahatan perang oleh tentara teroris Burma. “Kami dengan ini menyatakan bahwa 10 orang sipil Rohingya yang tak bersalah ditemukan di makam massal di Desa Inn Din bukan anggota ARSA atau terkait ARSA”, kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan di akun twitter mereka, Sabtu (13/1/2018).

Seorang juru bicara pemerintah Myanmar mengatakan menanggapi pernyataan ARSA bahwa kadangkala teroris dan warga desa bersekutu dalam serangan-serangan terhadap pasukan keamanan.  “Kami sudah mengatakan sangat sulit memisahkan siapa teroris dan siapa warga desa yang tak bersalah. Akan ada proses penyelidikan apakah mereka anggota ARSA atau bukan,” ,” kata Juru Bicara pemerintah Myanmar Zaw Htay.

Pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi menilai, tanggung jawab yang diambil militer negeri itu atas tindakan tentara setelah militer mengatakan para prajurit terlibat dalam pembunuhan 10 orang Muslim Rohingya yang ditangkap merupakan langkah positif.

Dalam sebuah pernyataannya militer menyatakan bahwa para prajurit bersama dengan warga desa penganut Buddha telah membunuh 10 “teroris” Muslim di sebuah desa di negara bagian Rakhine utara, Myanmar, pada awal September. Tindakan itu akan diambil terhadap mereka yang bertanggung jawab.

Ketika ditanya di sebuah jumpa pers dengan Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono tentang pengakuan terhadap tindakan salah yang jarang dilakukan oleh militer, yang dikenal dengan nama Tatmadaw, Suu Kyi berkata,”Tatmadaw menginvestigasi dan akan mengambil aksi perlu mengenai hal itu. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.